Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 31. Gara-Gara Lingerie


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 31


Setelah Ning Annisa selesai mandi, dia mengeluarkan baju dari paper bag, hadiah dari kakaknya, Gus Fathir. Katanya dia suruh memakai baju itu setelah selesai mandi dan meminta penilaian dari suaminya. Apakah dia pantas memakai baju seperti itu atau tidak.


Begitu perempuan itu membuka baju yang di dalam tas itu, ternyata isinya adalah gaun kesukaan kamu Adam. Mata Ning Annisa terbelalak saat melihat baju sek_si seperti puring nasi yang memperlihatkan seluruh kemolekan dan kemulusan tubuhnya.


'Mas Fathir! Baju apaan ini?' (Ning Annisa)


Rasa malu langsung menguasai diri gadis itu. Mukanya bahkan sudah seperti seperti kepiting rebus.


'Aku pakai atau tidak, ya?' (Ning Annisa)


Ning Annisa saat ini merasakan ada perasaan gugup, malu, dan tidak percaya diri. Dia takut kalau suaminya tidak menyukai bentuk tubuh atau warna kulitnya. Dia juga melihat perutnya yang tidak terlalu rata meski dia terhitung berbadan kecil. Ada tumpukan lemak sedikit-sedikit di bagian perut bawah, kecuali kalau dia tidur berbaring perutnya benar-benar kempleng bukan rata lagi.


Meski ragu-ragu Ning Annisa memakai lingerie itu. Meski hanya ada tali kecil untuk menahan baju itu di pundaknya, tapi terlihat kuat. Buah da_da bulat mulus lumayan besar yang menantang terlihat menyembul di balik baju kramat ini. Bagian bawahnya juga hanya sampai setengah paha. Menampilkan paha mulus sebagian lainnya. Lingerie uang berwarna merah menggoda terlihat sangat pas di tubuh Ning Annisa yang putih bersih dan bercahaya. Dia mematut di depan cermin yang berukuran sukup besar yang ada di kamar mandi.

__ADS_1


'Aduh, Rafael akan suka nggak, ya?' (Ning Annisa)


'Aku harus percaya diri. Jangan sampai suami aku nanti tergoda oleh perempuan lain!' 


Ning Annisa tidak mau kalau sampai ada pelakor di dalam rumah tangganya. Jadi, dia harus membuat suaminya klepek-klepek sampai menjadi bucin dan tidak mungkin berpaling hati pada yang lain.


Harus Ning Annisa akui kalau Rafael itu punya wajah tampan yang banyak disukai oleh kaum hawa. Apalagi para gadis muda, banyak yang terang-terangan bilang jatuh cinta padanya.


'Annisa Nurul Haidar, kamu pasti bisa menaklukan diri Rafaela Adiwangsa Grazian. Semangat!'


Ning Annisa dengan malu-malu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan lingerie merah berani dengan rambut panjangnya yang digerai bebas. Jantung dia sebenarnya sejak tadi berdetak kencang. Semenjak dia menikah dengan Rafael, jantungnya itu selalu sakit karena debaran yang sangat kuat.


***


Mulut Rafael menganga saat melihat istrinya ke luar dari kamar mandi. Dia seakan melihat seorang bidadari yang datang kepadanya. Gaun sek_si yang membuat si gadis semakin terlihat cantik sempurna. Pipi merah merona juga membuatnya gemas ingin menciumnya. Benda yang tadi pagi sempat di sentuhnya kini seakan menantang dirinya.


Kedua sejoli ini lupa akan tes hafalan tadi. Baik Ning Annisa maupun Rafael, tidak ada yang sadar akan tujuannya itu.


Rafael merasakan jantungnya berdebar sepuluh kali lipat detakkannya. Lari maraton atau bertanding basket saja tidak sampai seperti ini. Si Rafelo yang tadi tidur terlelap pun kini bangun saat otaknya menyuruh bangun karena di mata melihat sesuatu yang akan disukainya. Pemuda itu merasakan kepalanya pening dan dia pun jatuh tidak sadarkan diri. Untung jatuhnya ke sofa.

__ADS_1


"Astaghfirullahal'adzim, Ayang!" pekik Ning Annisa panik saat melihat suaminya tiba-tiba pingsan.


Ning Annisa pun membetulkan posisi Rafael agar lebih nyaman. Lalu, dia berganti baju dengan gamis karena merasa malu menggunakan baju seperti itu.


Perempuan itu mengolesi hidung, dada, dan tengkuk suaminya. Dia mengira kalau suaminya pingsan karena kelelahan.


"Ayang, pasti kecapean karena belajar. Atau gara-gara lingerie ini?" gumam Ning Annisa.


Melihat suaminya belum sadarkan diri juga, perempuan itu berniat menelepon dokter. Dia takut terjadi apa-apa kepada Rafael. Ning Annisa tidak mau menjadi janda. Padahal usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, saat dia hendak beranjak ada yang menarik tangannya.


Rafael yang baru saja tersadar langsung teringat kepada istrinya. Begitu membuka mata dia langsung memegang tangan Ning Annisa yang sedang duduk di lantai, tepat di sampingnya.


"Mau ke mana?" Suara serak dan lirih milik Rafael menghentikan gerak istrinya.


"Alhamdulillah, Ayang. Akhirnya, kamu sadar juga." Senyum Ning Annisa langsung merekah menghiasi wajahnya.


***


Akankah hari ini akan terjadi sesuatu yang spesial di antara mereka berdua? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Aku kasih kalian 3 bab langsung. Ayo, kirim vote, bunga, kopi, dan like, agar aku semakin semangat.


__ADS_2