
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 47
Gara-Gara Ronald jemaah yang ada dibelakang banyak yang tertawa. Hal ini sangat mengganggu orang lain. Bahkan sampai terdengar sampai ke beberapa shaf yang ada di depan mereka.
Setelah selesai melaksanakan salat Magrib berjamaah. Ada beberapa ketua santri dan pengurus yang mengalihkan perhatian mereka ke arah belakang yang masih saja ramai oleh suara cekikikan.
"Ada apa? Kenapa di bagian belakang sangat ramai?" tanya salah seorang ketua santri.
"Kita bisa tanyakan nanti setelah bubar," jawab salah seorang ketua santri lainnya yang kebetulan bersisian saat mereka berjamaah tadi.
Rafael memukul ringan lengan Ronald. Dia menahan tawanya karena takut terdengar oleh orang lain.
"Dasar bocah tengil yang sudah jadi kawannya setan," umpat orang di samping kiri Ronald.
"Enak saja, kamu bilang aku kawannya setan! Kalau begitu kamu setannya," balas Ronald tidak terima.
Melihat itu Rafael yang masih menahan tawanya akhirnya bicara, "Sudah biarkan saja. Memang benar kamu sudah mengganggu orang-orang yang sedang sholat sampai mereka tertawa. Yang ganggu orang sholat itukan setan, namanya."
"Iya itu namanya … kamu sudah membuat orang-orang jadi batal sholatnya dan harus mengulang lagi," lanjut pemuda yang tadi.
Ronald sangat kesal kepada pemuda yang tadi diketahuinya bernama Benjamin. Santri yang ikut program pesantren kilat seperti dirinya. Hanya saja dia orang yang tinggal di Bandung.
"Yang ada setan itu tarik ikatan sarung aku ini sampai lepas," balas Ronald dengan kesal.
Sebenarnya Ronald merutuki dirinya sendiri karena sangat malu atas kejadian tadi. Orang-orang pada berbisik dan mentertawakan dirinya. Rasanya dia ingin pergi saja dari sana, saking malunya.
'Jangan sampai ke jadian ini terdengar sampai ke telinga Ning Annisa.' (Ronald)
Rafael rasanya ingin tertawa ngakak atas musibah atau kejadian yang sudah menimpa sahabatnya itu. Namun, dia tidak boleh senang di atas rasa malu orang lain.
'Cinta harus tahu juga, nih.' (Otak jahil Rafael)
Saat selesai dan sudah hendak bubar, beberapa ketua santri meminta penjelasan terkait kegaduhan yang terjadi di beberapa shaf di belakang. Mereka mengumpulkan para santri yang tadi berada di shaf belakang.
__ADS_1
"Sebenarnya ada kejadian apa sampai kalian gaduh?" tanya Adam.
"Sarung milik orang itu melorot," kata salah seorang santri menunjuk ke arah Ronald.
Ronald malu setengah mati. Muka dia merah padam, untungnya saat ini hari mulai gelap, jadi tidak terlalu terlihat.
"Kenapa sampai bisa melorot seperti itu Ronald?" tanya Adam.
"Itu ... Mas, ada setan yang menarik tali sarung aku," jawab Ronald terlanjur malu.
"Setan?" Orang-orang di sana langsung merinding.
Rafael mengerutkan keningnya. Dia tahu itu hanya akal-akalan temannya saja.
'Setan dari mana? Kayak orang bisa melihat makhluk halus saja.' (Rafael)
"Sudah ... sudah! Besok-besok ke depannya lagi kalian jangan berbuat gaduh ketika sedang beribadah. Jika ada kejadian seperti ini, kalian abaikan saja," lanjut Adam.
"Sudah sana kembali ke Kobong masing-masing!" perintah ketua santri lainnya.
***
Rafael dan Ronald yang tidak tahu kalau harus ambil sendiri makanannya. Mereka mengira akan dilayani.
"Hei, kenapa kalian tidak antri makan?" tanya Adam.
"Kita sedang menunggu, tetapi tidak ada yang memberi kami makan, ya?" Ronald menatap Adam tanpa merasa ada beban.
"Astaghfirullahal'adzim. Kalian ambil sendiri sana!" seru Adam sambil menahan tawa.
"Oh, gitu, ya!" Ronald menepuk jidat.
'Cinta itu gimana, sih? Katanya nanti kita akan dikasih makan dan tunggu saja di kobong masing-masing. Harus dikasih hukuman ini.' (Rafael)
Setelah makan mereka kembali ke masjid karena waktu sholat Isya telah tiba. Lagi-lagi saat dalam perjalanan mereka berpapasan dengan Ning Annisa. Ronald berjalan dengan gagahnya agar memberikan kesan yang baik. Berbeda dengan Rafael yang akan membuat sang istri mau tidak mau harus melihat ke arahnya.
Ketika Ronald berjalan dengan tegap dan pandangan lurus, yang menurut dia itu adalah pose paling cool. Memang hal itu menarik perhatian kaum hawa, tetapi bukan Ning Annisa. Melainkan para santri putri yang sedang bermukim di sana maupun santri putri pesantren kilat.
__ADS_1
'Apa Ning Annisa akan terpesona oleh aura aku ini?' (Ronald)
'Keren!' (para santri putri yang sedang bermukim) langsung cepat-cepat menundukkan kepala.
'Gila, Cogan! Keren!' (jeritan hati para santri putri pesantren kilat) tersenyum senang dan curi-curi pandang.
'Ayang itu lagi ngapain?' Ning Annisa melihat ke arah Rafael yang sedang melipat-lipat sajadah membentuk manjanya. Dia sangat penasaran dengan kelakuan absrud dari suaminya.
Ning Annisa baru mengerti apa yang dilakukan oleh Rafael saat merek berpapasan. Suaminya itu mengaitkan sajadah pada lengannya, sehingga mereka terikat dan tentu menghentikan langkah keduanya.
"Ada apa?" tanya Bu Nyai Khadijah karena putrinya menghentikan langkah kakinya.
Rafael dan Ning Annisa saling menatap dengan tangan yang saling terhubung oleh sajadah panjang.
Kedua sejoli itu menjadi tontonan orang-orang yang hendak ke masjid. Sekilas akan terlihat seperti adegan romantis dan manis seperti film India yang Terhubung oleh kain selendang yang tidak sengaja benangnya terkait. Kalau ini entah bagaimana caranya kedua orang berbeda gender itu terhubung oleh sajadah yang terkait, hanya Rafael yang tahu caranya.
"Maaf!" Rafael dan Ning Annisa bersamaan.
Keduanya masih saling menatap dan melempar senyum. Ning Annisa bahkan menahan tawanya karena ada-ada saja ulah suaminya ini yang di luar dugaan dia.
Ketika keduanya hendak melepaskan kaitan sajadah itu, Rafael berbisik, "Cinta, nanti izinkan aku menemui kamu dulu. Ada sesuatu yang sangat … sangat penting!"Â
Ning Annisa terkejut dengan permintaan suaminya. Bahkan dia merasa penasaran dengan hal yang sangat penting itu.
'Apa, ya? Kira-kira yang sangat penting itu.' (Ning Annisa)
"Iya, datang ke halaman belakang. Nanti masuk lewat sana," jawab perempuan yang memakai gamis moca.
***
Sholat Isya berjalan lancar berbeda dengan saat sholat Magrib tadi. Tidak ada insiden sarung melorot. Bahkan setelah selesai berjamaah, mereka sempat berbincang-bincang dulu sebentar dengan teman-teman yang berbeda kobong. Di saat orang-orang asyik berkenalan. Rafael langsung ambil langkah kaki seribu berlari ke rumah mertuanya.
Pemuda itu berjalan mengendap-endap di halaman belakang ndalem. Dia hendak menemui sang istri di kamar tidurnya. Namun, saat dia sedang berjalan sambil celingukan ke kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang, dia malah dikagetkan oleh orang lain.
"Maling! Maling!" Orang itu memukul badan Rafael memakai sapu lidi.
***
__ADS_1
Siapa yang sudah memukul Rafael? Apa yang akan terjadi pada Rafael selanjut? Tunggu kelanjutannya, ya!