Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 18. Apakah Ini Rezeki?


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 18


"Kenapa kamu tiba-tiba saja ingin belajar mengaji?" tanya Rizal dengan tatapan penuh selidik.


Rafael menelan ludahnya dia bingung harus menjawab apa. Dia pun tersenyum tipis.


"Hei, kita ini sekarang sudah besar dan balig. Itu berarti segala perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak diakhirat," jawab Rafael mengulang ucapan Ning Annisa tadi subuh.


Ketiga temannya itu menganga mendengar ucapan dari Rafael. Mereka tidak menyangka kalau kata-kata bijak itu akan keluar dari mulutnya.


"Kamu sedang tidak ketumpangan setan yang tobat, 'kan?" tanya Anton dengan tatapan heran.


"Memangnya ada setan yang bertobat?" tanya Ronald.


Rafael kesal sama teman-temannya. Mereka diajak ke jalan benar malah banyak cing-cong. 


"Sepertinya dia kesasar sama jin muslim saat dalam perjalanan pulang tadi," ujar Rizal.


"Hah, memangnya ada jin yang beragama, gitu?" tanya Ronald.

__ADS_1


"Kata ustadz yang mengajarkan aku mengaji dulu, ada. Mereka juga sama kayak manusia di suruh menyembah Allah," jawab Rizal.


Baik Rafael, Ronald, dan Anton baru tahu akan hal ini. Sebab, yang mereka tahu setan, hantu, atau makhluk astral yang kasat mata itu adalah makhluk terkutuk. Makhluk yang suka menyesatkan dan menakut-nakuti manusia, selalu mengajak agar berbuat dosa, dan tentunya buruk rupa.


'Aku harus tanya ini sama Cinta, nanti.'


"Aku baru tahu hal seperti ini. Sumpah!" ucap Ronald.


Keempat pemuda itu tiba-tiba saja jadi merinding. Mereka merasa kalau sedang ada yang mengintai mereka. 


"Yuk, kita belajar mengaji!" ajak Rizal kali ini.


"Ayo!" Ketiga pemuda labil yang lainnya itu kompak menjawab.


"Rafael, kenapa kamu lebih fasih dari aku?" tanya Anton.


Rafael memutarkan matanya. Jelas dia lebih fasih dari Anton karena sejak sebelum subuh mulutnya terus diasah agar tidak kaku saat mengucapkan huruf-huruf arab itu. Ning Annisa terus menggemblengnya sampai bunyi huruf itu benar. Banyak bunyi huruf yang di ucapkan sama, padahal itu berbeda. Sampai-sampai dia hampir menyerah karena tidak bisa juga. Setelah istrinya menjelaskan lebih terperinci tentang posisi lidah saat huruf yang akan dibunyikan, baru dia bisa.


"Aku sudah buka video asli tadi pagi. Jadi, untuk huruf dasar sudah tahu. Tinggal menggabungkan huruf yang memakai tajwid," kata Rafael.


"Hebat!" ucap ketiga temannya.


Mereka pun mulai belajar mengucapkan huruf Hijaiyah dengan benar. Ronald yang sering berbuat kesalahan, karena dia tidak pernah belajar mengaji dari dulu. Kebanyakan orang kaya di kalangan mereka itu menekankan prestasi akademik tanpa memikirkan nutrisi hati, ucapan, perbuatan, dan pikiran yang baik. Jadinya, banyak persaingan yang tidak sehat. Saling menjatuhkan, memfitnah, dan melakukan segala cara agar tujuannya sendiri tercapai. Mereka minim akan rasa simpati dan empati kepada orang lain.

__ADS_1


***


Rafael sekarang pulang ke rumah sebelum magrib karena sudah punya orang yang menunggunya. Dia sudah membicarakan hal ini dengan Ning Annisa semalam. Dia minta izin untuk bermain bersama teman-temannya. Istrinya mengizinkan dengan syarat sebelum magrib harus sudah pulang ke rumah. Jangan melakukan hal yang melanggar aturan atau berbuat dosa.


"Assalamualaikum," sapa Rafael begitu masuk ke rumah.


Tentu saja membuat para pelayan yang kebetulan sedang ada di sana terperangah. Mereka merasa aneh saat tuan muda mereka mengucapkan salam begitu masuk ke rumah.


"Kalian kenapa? Kayak melihat hantu saja. Bukannya menjawab salam aku. Dosa loh, nggak jawab salam," ucap Rafael pada tiga orang pelayang yang sedang membereskan ruangan depan karena baru saja ada tamu.


"Wa'alaikumsalam," balas ketiga orang itu.


Rafael sambil bernyanyi masuk ke dalam kamar tidurnya. Dia tidak menemukan keberadaan Ning Annisa. Namun, saat terdengar suara gemericik air di balik pintu kamar mandi, dia tahu kalau istrinya sedang berada di dalam sana.


Sepertinya Ning Annisa tidak menutup pintu kamar mandi dengan benar, sehingga Rafael bisa mengintipnya. Pemuda itu membulatkan matanya saat melihat tubuh istrinya. Sesuatu yang jarang bangun pun tiba-tiba saja bereaksi. 


Posisi Ning Annisa menyamping jadi Rafael bisa melihat dengan jelas lekuk tubuhnya yang menggoda baginya sampai tubuhnya merinding terasa dialiri oleh kejutan-kejutan ringan dari listrik bertegangan rendah. Kepalanya terasa cenat-cenut sakit. Tanpa dia sadari dari hidungnya keluar darah.


'Ya Allah, ini rezeki yang tidak disangka-sangka. Apakah ini nikmat yang tidak boleh didustakan itu?'


***


Wah, Rafael dapat durian runtuh 😆😆. Apakah Ning Annisa akan tahu kalau suaminya sudah mengintip dia? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2