Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 7. Kentut


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, Vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 7


"Ma ... Pa. Kok, mereka yang peluk Annisa? Lalu, aku kapan giliran memeluknya? Dia itu sekarang sudah jadi istri aku, 'kan?" adu Rafael kepada kedua orang tuanya.


Kiai Akbar yang mendengar hal ini, tersenyum tipis. Lalu, dia memberikan kode pada istrinya agar membawa Ning Annisa kepada Rafael.


"Salah kamu sendiri. Kenapa tadi setelah melaksanakan ijab qobul malah kabur ke toilet," balas perempuan yang kini terlihat lebih cantik saat mengenakan jilbab.


"Mama nggak tahu kalau aku ini gugup sekali sejak dari semalam. Bahkan aku tidak tidur, hanya untuk menghafal kata-kata ijab qobul ini. Saking gugupnya sampai perut aku terasa mulai," kata Rafael dengan menggebu-gebu.


Kedua orang tua Rafael hanya menahan tawa mendengar ocehan putra mereka. Meski mereka jarang bersama dan sibuk dengan urusan mereka, tetapi keduanya menyayangi Rafael. Hanya saja mereka menyayangi putranya dengan cara mereka sendiri.


Bu Nyai Khadijah membawa Ning Annisa ke hadapan Rafael dan kedua orang tuanya. Ning Annisa merasa gugup, jadi dia jalan sambil terus menunduk.


"Sana samperin suami kamu," bisik Bu Nyai Khadijah kepada putrinya.


Rafael mendadak mulas kembali saat Ning Annisa datang menghampiri dirinya. Keringat langsung membanjiri sekujur tubuhnya.


"Ma ... Pa. Perut aku mulas lagi," bisik Rafael.


"Kamu jangan malu-maluin mama," balas Indira—mamanya Rafael—sambil mencubit paha putranya.


Duuuut! Pret!


'Tidak!' Mata Rafael melotot dan mulut mengaga.


Semua orang yang ada di sana terdiam sesaat. Lalu, semua menahan tawa mereka saat mendengar mempelai pria mengeluarkan bom angin.

__ADS_1


Wajah Rafael yang sudah pucat kini semakin pasi, seakan tidak ada darah di wajahnya. Hanya butiran keringat sebesar biji kacang tanah yang menghiasi parasnya saat ini.


"Mama ... Papa!" Rafael langsung berlari menuju ke toilet dan meninggalkan istrinya yang sudah berjarak satu langkah dari pelukannya.


Berbeda dengan Rafael yang wajahnya berubah pucat pasi selayaknya mayat. Paras Ning Annisa merah padam. Dia malu mendengar suara kentut suaminya.


'Ya Allah, kenapa dia malah memberi aku kentut, bukannya memberikan aku doa.' Ning Annisa merana dalam hatinya.


Setelah 15 menit (lama banget😆) Rafael pun kembali dengan kulit wajahnya yang basah. Dia mencuci wajahnya yang terasa sangat panas.


"Bagaimana sekarang keadaan kamu, Nak Rafael?" tanya Bu Nyai Khadijah.


"Sudah baikan, U-umma," jawab Rafael canggung.


"Nih, kamu belum kasih cincin kawin sama istri kamu," ucap Indira sambil menyodorkan kotak perhiasan kecil yang berisi cincin berlian bermata hijau yang sangat cantik.


Rafael pun melangkah perlahan ke arah Ning Annisa. Kini keduanya berdiri saling berhadapan.


'Gila, ini tangan kulitnya lembut banget.'


Lalu, Rafael pun memasangkan cincin nikahnya kepada Ning Annisa. Selanjutnya, Ning Annisa mencium tangan Rafael sebagai bukti penghormatan padanya.


Jantung Rafael tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat dan keras. Dia merasa sakit, tapi hatinya merasa sangat senang.


'Ada apa dengan jantungku. Aku tidak akan mati jantungan, 'kan?'


'A-h, lupa doanya apa, ya? Aduh, saking gugupnya sampai lupa bacaan doanya apa!'


'Pakai bahasa Indonesia saja.'


Rafael pun berbisik membacakan doa dan meniupkan ke ubun-ubun Ning Annisa.

__ADS_1


"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikan atas dirinya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku mohon perlindungan kepadaMu dari kejelekan atas dirinya dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya."


Doa Rafael pun di aamiin kan oleh Ning Annisa. Sebaliknya dengan Ning Annisa meminta keridhoan Rafael agar bisa menjadi istri yang sholeha. Tempatnya berbagi dan mengharapkan ridho pahala dari Allah.


Setelah selesai menandatangani semua dokumen pernikahan mereka. Keluarga mereka memberi selamat dan mendoakan kebaikan bagi rumah tangga baru bagi Rafael dan Ning Annisa. Sekarang Ning Annisa telah sah menjadi istri dari seorang muridnya yang terkenal suka bikin onar, Rafael Adiwangsa Grazian.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Semoga tidak akan menjadi sebuah skandal ke depannya," kata kepala sekolah yang ikut menyaksikan proses pernikahan guru dan murid itu.


'Ini semua 'kan, gara-gara dia! Meminta kita untuk menikah.' Rafael menggerutu dalam hatinya.


***


Rafael menyangka kalau hari ini dia bisa libur sekolah karena sedang jadi pengantin baru. Namun, bayangannya itu harus musnah saat kepala sekolah menyuruh keduanya untuk masuk ke sekolah hari ini. Hal ini juga bisa mengurangi kecurigaan orang-orang pada mereka.


Kini keduanya sedang berada di kamar milik Rafael. Kamar tidur yang sangat luas dan bergaya minimalis dengan fasilitas lengkap.


"Aku harus panggil kamu dengan nama apa?" tanya Rafael kepada Ning Annisa.


"Panggil saja seperti yang lainnya. Atau kamu punya panggilan khusus untuk aku?" tanya Ning Annisa.


Terlihat Rafael terdiam seperti sedang berpikir. Lalu, tercipta senyum menghiasi paras tampannya.


"Untuk mengurangi kecurigaan dari orang lain, aku akan panggil kamu 'Ning Annisa' saat ada orang lain. Namun, jika hanya kita berdua aku akan panggil kamu, 'Cinta'," bisik Rafael sambil tersenyum genit kepada istrinya.


Ning Annisa merasakan tubuhnya merinding mendengar suara dari Rafael barusan. Dia kini merasa harus waspada pemuda yang lagi masa puber pertama.


***


Bagaimana kehidupan rumah tangga Rafael dan Ning Annisa? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya. Ini sudah tamat, jadi kalian bisa membacanya dengan maraton.

__ADS_1



__ADS_2