
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 32
Rafael malu setengah hidup saat dia sadar kalau tadi sudah pingsan karena melihat penampakan Ning Annisa yang tidak pernah ada dalam pikirannya. Bahkan dia merasa menjadi laki-laki lemah karena baru segitu saja dia sudah tepar duluan.
"Ayang, kamu sakit?" tanya Ning Annisa sambil menatap dengan penuh kekhawatiran pada suaminya.
"Mungkin saja. Yang jelas aku ini selalu ingin bersama dengan Cinta dalam menghabiskan waktu dalam ke seharian. Mungkin juga karena seharian ini aku rindu pada istriku ini," ucap Rafael dan membuat hati dan perasaan perempuan itu melambung ke angkasa.
Dibelainya pipi mulus sang istri yang begitu lembut. Ditatapnya bibir ranum yang menggoda. Ingin sekali rasanya dia mencium bibirnya ini.
"Kita ubah saja perjanjiannya," kata Ning Annisa.
"Maksudnya?" tanya Rafael tidak mengerti.
"Jika Ayang hafal dari surat Ad-Dhuha sampai An-Nas. Ayang bisa mencium bibir aku. Jika selama satu bulan ini Ayang pergi sholat berjamaah tanpa bolong. Kita akan melakukan malam pertama. Jika, Ayang mampu menjadi imam sholat aku, kita pergi berbulan madu," jawab Ning Annisa dengan muka yang memerah.
Mendengar ucapan istrinya ini, Rafael serasa mendapatkan harta karun yang sangat berharga dan dia sudah incar dari lama. Dia pun mengangguk dengan semangat.
"Beneran, 'kan? Bukan prank atau bohongan?" tanya Rafael lagi.
__ADS_1
"Iya. Aku tidak bohong. Jika, Ayang sudah hafal surat-surat itu. Sudah bebas mencium bi-bir a-ku," jawab Ning Annisa dengan gugup karena malu.
"Baiklah aku siap untuk tes hafalan surat Ad-Dhuha sampai An-Nas, sekarang juga!" ujar Rafael dengan penuh semangat.
Lalu, pemuda itu pun mulai berta'awwudz dan membacakan satu persatu surat-surat pendek itu. Ning Annisa mendengarkan dan membenarkan bagian yang kurang tepat dan menyuruh suaminya mengulang. Akhirnya, dia sampai juga ke surat An-Nas. Diakhiri dengan bacaan tasdiq.
Rafael menatap Ning Annisa, apakah dia lulus uji tes bacaan Al-Qur'an tadi. Hatinya sekarang merasa harap-harap cemas.
"Jadi?" tanya sang pemuda.
"Lulus! Selamat Ayang, kamu sudah lulus." Ning Annisa tersenyum manis.
"Alhamdulillah," ucap Rafael langsung menerjang tubuh istrinya dan terjatuh terlentang di atas sofa yang baru saja mereka duduki.
"Ayang sambil duduk, ya. Si Rafelo takut terbangun," bisik Ning Annisa.
Mendengar keinginan istrinya itu, Rafael pun menarik tubuh sang gadis yang sudah mencuri hatinya. Keduanya duduk saling bersisian dengan muka saling berhadapan.
"Aku ingin ciuman pertama ini menjadi salah satu kenangan terindah dalam hidupku," bisik Rafael.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Ning Annisa. Dia ingin momen ini menjadi kenangan yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya.
Rafael menyentuh kepala, alis, pipi, dan bibir Ning Annisa dengan lembut. Menghantarkan gelenjar-gelenjar sengatan listrik yang ringan pada syaraf-syaraf di dalam tubuh keduanya.
__ADS_1
"Aku, mencintaimu Annisa Nurul Haidar," kata Rafael tidak mengharapkan jawaban dari sang perempuan. Sebab, dia yakin kalau dialah pemilik hati perempuan itu pada akhirnya.
Rafael memajukan dan memiringkan sedikit kepalanya. Dia berhasil menyentuh bibir Ning Annisa. Terasa lembut, dingin, kenyal, dan agak manis jeruk yang dia yakini itu rasa dari lip balm yang dipakai istrinya.
Jantung Ning Annisa tidak bisa di ajak kompromi. Detakkannya terasa sangat keras bahkan rasanya dia bisa mendengar sendiri suara degup jantungnya. Bibir lembut dan hangat sang suami membuatnya berasa di dunia lain. Dia merasa sangat senang, entah apa yang membuat perasaan dia bisa seperti ini.
'Apa berciuman itu bisa menghantarkan perasaan senang seperti ini? Pantas saja banyak orang suka sekali melakukan perbuatan ini.' (Ning Annisa)
'Aku baru tahu kalau berciuman itu rasanya semenyenangkan seperti ini. Rasanya aku tidak mau mengakhirinya.' (Rafael)
Kedua sejoli yang baru saja merasakan ciuman di bibir itu saling membalas dengan pergerakan lembut. Bahkan Rafael tidak membiarkan bibirnya lama-lama berpisah. Beberapa detik berpisah untuk mengambil oksigen, dia menyosor kembali bibir ranum milik istrinya.
Ciuman yang awalnya sentuhan lembut, berubah menjadi saling mengu_lum, saling membalas luma_tan dan berubah menjadi ciuman yang panas. Bahkan Rafael menarik tubuh Ning Annisa agar duduk di pangkuannya. Mereka melakukan semua itu dengan naluri.
Setelah benar-benar merasa puas, keduanya memisahkan diri. Betapa malunya Ning Annisa yang kini duduk di pangkuan Rafael.
"Terima kasih, sudah mulai mengizinkan aku untuk mencium dirimu," ucap Rafael yang masih merangkul tubuh sang istri dia pangkuannya. Dia tidak mau kalau Ning Annisa beranjak dari pangkuannya.
"Apa, Ayang merasa senang?" tanya gadis bersurai hitam legam itu.
"Sangat, sangat bahagia sekali aku saat ini," jawab pemuda yang matanya penuh binar kebahagiaan.
***
__ADS_1
🙈🙈🙈 Kedua anak manusia yang lagi mulai pada puber. Bersiap-siaplah Ning Annisa karena kamu sudah membangkitkan jiwa mesum suamimu. Langsung baca bab berikutnya, tapi jangan lupa dukungannya buat aku 😁