Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 49. Ketahuan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 49


Rafael dan Ning Annisa larut dalam perasaan saling berbagi. Sentuhan lembut yang memabukkan dan membuat candu keduanya seakan lupa akan alam dunia dan sekeliling mereka. Ketika mereka asyik bercumbu di balik kaca jendela ada Ronald yang sedang mencari keberadaan sahabatnya.


Beberapa saat yang lalu.


Ronaldo mencari keberadaan Rafael karena tidak ada di Kobong mereka. Dia pun berjalan-jalan di sekitar Kobong dan tanpa sengaja dia melihat Rafael berjalan mengendap-ngendap ke ndelam lewat belakang.


"Rafael lagi ngapain di sana?" gumam Ronald.


Maka dia pun mencoba menyusul Rafael ke sana. Dia takut kalau sahabatnya itu berbuat yang tidak-tidak dan melanggar peraturan di pesantren.


Saat Ronald berjalan ke halaman belakang Rafael sudah tidak ada. Maka dia pun berjalan menelusuri ke halaman samping kanan mencoba Mencari keberadaannya. Tanpa sengaja pemuda itu melihat ada jendela kaca yang kain gordennya tidak ditutup. Niatnya ingin mengintip, apa kamar itu punya Ning Annisa atau bukan. Ternyata ada suatu pemandangan yang membuat hatinya terluka. Laki-laki remaja itu melihat sang sahabat sedang berciuman dengan seorang wanita yang memakai jilbab. Meski wajah wanita itu tidak terlihat, tetapi hati kecilnya berkata kalau perempuan yang sedang bercumbu dengan Rafael adalah Ning Annisa.


'Berengsek kau, Rafael!' umpat Ronald dalam hati. Kedua tangan pemuda itu mengepal sangat kuat. Menunjukkan betapa sangat marah dirinya saat ini karena merasa dikhianati oleh temannya sendiri.


***


"Cinta, aku tidur di sini malam ini, ya?" pinta Rafael sambil mengusap lembut pipi Ning Annisa.


Perempuan itu hanya tersenyum tipis. Lalu, memegang tangan pemuda itu yang masih bertengger di pipinya.


"Kalau Ayang berhasil menyelesaikan pesantren kilat ini dengan hasil yang baik, kita akan pergi berkencan lagi," tawar Ning Annisa.


Mata Rafael langsung berbinar. Betapa dia sangat menyukai acara kencan bersama istrinya seperti dulu.


"Baiklah kalau begitu, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai yang terbaik.Agar Cintaku ini tidak kecewa terhadap diriku," balas Rafael.


'Dia itu seharusnya mencari ilmu karena Allah, bukan karena aku.' (Ning Annisa)


"Ayang, ingat apa pesan aku dulu?" tanya gadis yang kini masih duduk di hadapan suaminya.


"Pesan yang mana, Sayang? Cinta terlalu banyak memberi pesan dan nasehat kepada diriku yang fakir ilmu ini," tanya Rafael dengan gaya seperti seorang pujangga.

__ADS_1


Ning Annisa malah tertawa geli karena mendengar perkataan suaminya barusan. Perempuan itu selalu terlibur dengan hal-hal yang menurutnya konyol atas perbuatan suaminya.


Padahal niat Rafael sendiri ingin terlihat seperti orang yang cerdas dan dewasa di hadapan istrinya. Namun, sering kali gagal dalam usahanya itu.


"Saat kita berbuat sesuatu itu harus diniatkan karena Allah," ujar Ning Annisa sambil memencet hidung mancung suaminya dengan gemas.


Rafael pun ingat kembali dan dia tersenyum kaku. Sering kali dia lupa saat mengerjakan sesuatu tidak diniatkan karena Allah.


"Hehehe, lupa." Rafael tertawa garing.


"Ya Allah, maafkan aku yang sempat lupa. Aku niatkan kembali belajar di pesantren ini karena diri-Mu," ucap Rafael.


"Semoga Allah tidak marah dan memudahkan aku untuk memahami ilmu yang diajarkan oleh para guru di sini," tambah pemuda yang kini sedang pose berdoa.


"Aamiin." Ning Annisa tersenyum tipis.


Ning Annisa meminta Rafael untuk segera kembali ke Kobong. Agar tidak mendapat hukuman dari ketua santri dan dewan pesantren.


Tiba-tiba saja Rafael teringat akan tujuannya datang ke sini. Dia ingin memberi hukuman kepada istrinya, sesekali. Jangan dirinya terus yang mendapat hukuman dari Ning Annisa.


"Hukuman?" Ning Annisa mengerutkan alisnya tidak mengerti.


"Karena sudah membohongi aku," ujar pemuda itu.


"Kapan aku membohongi Ayang?" tanya sang istri.


"Dulu, katanya kalau makan kita tinggal tunggu di Kobong karena makanan akan di antarkan ke sana. Aku tadi tetap harus ambil sendiri," jawab Rafael sambil memanyunkan bibirnya.


"Bukannya semua makanan untuk para santri dikirim ke Kobong masing-masing?"


"Iya. Tapi kita harus ambil sendiri, mengantri. Aku kira seperti yang sering Cinta lakukan setiap hari. Aku tinggal duduk manis dan makanan akan di antarkan kayak di restoran atau rumah makan."


Ning Annisa menepuk jidatnya. Dia tidak menyangka kalau otak suaminya bisa berpikir seperti itu.


"Ayang, orang di sini jumlahnya ribuan. Kalau cara makan seperti itu akan memakan waktu yang lama. Masa tidak pernah terpikirkan mode prasmanan."


Kini giliran Rafael yang melongo. Memang mode prasmanan tadi. Dan itu bisa dimengerti karena jumlah orang sangat banyak dan waktu yang ada itu terbatas. Pemuda itu pun menyeringai malu-malu kucing.

__ADS_1


"Benar, juga."


Ning Annisa memutarkan bola matanya. Baru sadar dia kalau gorden kamarnya terbuka lebar. Lalu, dia pun berjalan ke arahnya dan menutup dengan sempurna.


"Sudah sana balik ke Kobong!" perintah gadis itu.


Rafael yang sudah terlanjur datang ke ndalem dan juga sudah dituduh maling tidak mau pergi begitu saja. Dia tetap merencanakan niat awalnya datang ke sana, yaitu untuk memberi hukuman kepada sang istri.


"Pokoknya Cinta harus dihukum, jangan aku saja yang selalu kena hukuman darimu!" ucap Rafael sambil menari pinggang Ning Annisa.


Kini keduanya saling berhadapan dengan tubuh yang menempel. Perempuan itu tahu sifat suaminya yang mesum dan jahil. Dia sudah menduga apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu.


CUP


'Benarkan apa kataku.' (Ning Annisa)


Rafael mencium bibir istrinya kembali sampai dia merasa puas. Setelah itu, dia baru pergi dan kembali ke kobong. Tentu saja dengan perasaan bahagia.


***


Ketika Rafael berjalan menuju ke Kobong, dia bertemu dengan Anton dan Rizal yang baru saja sampai pesantren. Kedua orang tua mereka disambut oleh Gus Gibran di ndalem. Sementara itu, ketiganya bareng pergi ke Kobong, tempat mereka akan menghabiskan waktu karena tinggal di pesantren itu.


Rafael menceritakan kejadian ketika shalat berjamaah tadi, di mana sarung yang dipakai oleh Ronald terlepas dan melorot akhirnya menampakkan kolor box_er miliknya. Tentu saja cerita ini membuat kedua sahabatnya itu tertawa sampai tertinggal-pingkal.


"Ini bisa menjadi pelajaran buat kita. kalau memakai sarung harus kuat mengikat ikatannya agar tidak lepas," ucap Anton yang sedang memegang perutnya karena terus tertawa.


"Akan lebih aman memakai sabuk seperti Rafael," tambah Rizal sambil menyekan sudut matanya yang berair.


Ketika ketiganya hendak masuk ke dalam Kobong, ada Adam yang berdiri di depan menghalangi pintu. Dia menatap tajam ke arah Rafael.


"Habis dari mana kamu?" tanya Adam.


***


Apa yang akan dikatakan oleh Rafael? Bagaimana reaksi Ronald ketika bertemu dengan Rafael setelah merasa dikhianati olehnya? Tunggu kelanjutannya, ya!


😭😭 seharusnya aku up ini tadi pagi. Gara-Gara ngetik langsung di app noveltoon, semua hilang padahal sudah 1000 kata lebih. Jadi, harus ngulang lagi mana aku lupa nama-nama orang tua Anton dan Rizal.

__ADS_1


__ADS_2