Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 54. Perkelahian Di Pesantren


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini segala urusan kalian dimudahkan.


***


Bab 54


"Maaf. Aku tidak mau. Itu urusan di luar pesantren. Kamu bisa ajukan tantangan itu ke pihak sekolah." Rafael menolak, dia tidak mau gara-gara hal sepele agenda untuk pergi kencan dengan sang istri nanti terancam gagal.


Terlihat jelas sorot mata Revaldi tersirat kekecewaan. Dia menganggap Rafael sombong.


"Aku harus kembali ke Kobong. Nanti ketua santri mencari lagi," kata Rafael dan pergi dari sana.


Akan tetapi, baru saja dia berjalan dua langkah. Laki-laki itu menarik baju Rafael.


"Kau jangan melarikan diri!" tuduh Revaldi.


Rafael memutarkan bola matanya dengan ekspresi wajah kesal. Dia paling tidak suka jika ada orang yang sudah mengganggu dirinya. Termasuk perbuatan Revaldi ini.


"Lepas!" Rafael mendorong perut pemuda itu.


"Kamu takut, 'kan? Melawan aku." Revaldi menarik baju Rafael sampai sobek.


Tidak terima dengan perlakuan itu. Rafael pun memukul perut lawannya sampai mundur beberapa langkah ke belakang.


Ternyata pemuda itu bisa memberikan serangan balasan kepada Rafael, dengan menonjok mukanya.


"Aaggkh, sakit tahu!" Rafael memberikan tendangan menyamping dan membuat Revaldi tersungkur ke tanah.


Pemuda yang memiliki postur tubuh hampir sama dengan si tokoh utama ini, menggenggam tanah. Lalu melemparkan ke arah mata Rafael.


"Aaagghk. Kau curang!" Rafael menutup matanya dan membersihkan mukanya.


Tentu saja hal ini tidak disia-siakan oleh Revaldi, dia memukul kepala Rafael dan membuatnya terhuyung meski tidak sampai jatuh.


Sementara itu, Ronald dan Rizal yang mencari keberadaan Rafael, dikejutkan saat melihat temannya jadi bulan-bulanan orang tak di kenal.


"Woy, apa yang kau lakukan!" teriak Ronald sambil berlari ke arah dua orang yang sedang berkelahi.

__ADS_1


Ronald pun menyerang pemuda yang sedang memukuli Rafael. Dia menonjok muka Revaldi beberapa kali. Kini, keduanya yang saling berkelahi adu jotos.


Sementara itu, Rizal membantu Rafael berdiri. Dia cemas karena melihat baju temannya sampai robek.


"Jangan kasih ampun, dia!" perintah Rizal pada Ronald.


Tanpa diduga, teman-temannya Revaldi juga sedang mencari keberadaannya. Mereka mengira kalau sedang terjadi pengeroyokan, sehingga kini terjadi perkelahian di antara dua kubu. Mereka saling memukul, menendang, mencakar, bahkan menggigit.


"Jangan mau kalah sama mereka!" seru Revaldi kepada teman-temannya.


Perkelahian itu tiga lawan lima. Rafael kini sudah melihat meski masih terasa perih. Dia melawan Revaldi yang sudah berbuat curang dan licik saat awal pertarungan tadi.


Kondisi kedelapan pemuda itu sudah tidak karuan. Baju mereka robek dan kotor karena saling berguling di atas tanah.


"Hei, apa yang sedang kalian lakukan!" teriak Ustadz Azka yang kebetulan lewat sana. 


Akan tetapi, kedelapan anak remaja itu tidak menghentikan perkelahian itu. Mereka masih sibuk untuk membuat lawan tidak berdaya.


Anton yang baru saja selesai mandi dan mencari keberadaan temannya lewat sana. Dia terkejut saat melihat ketiga orang yang sedang dicari itu sedang berlaga adu kekuatan di lapangan. Saat dia akan ikut membantu, Ustadz Azka meminta dirinya untuk melaporkan kejadian ini kepada dewan pondok atau pada pengajar lainnya. Sementara dia sendiri berusaha merelai anak muda yang sedang berkelahi dengan tidak punya aturan. Siapa lawan yang mendekat langsung hajar saja.


"Hentikan, kalian semua!" Ustadz Azka menarik Rizal yang sedang menginjak perut lawannya.


"Ustadz Azka, ada apa ini?" mereka pun mendekati area pertandingan.


"Tidak tahu. Aku juga baru sampai sini, mereka sedang berkelahi.


Keempat laki-laki dewasa itu masih kewalahan menghentikan perkelahian kedelapan bocah itu. Sampai Anton datang ke sama bersama Gus Fathir dan beberapa pengurus pondok pesantren.


"Berhenti kalian semua!" teriak Gus Fathir dan mereka baru menghentikan perkelahian itu.


"Kalian berdiri semua dan berbaris!" perintah putra kedua dari Kiai Akbar itu.


Kedelapan remaja yang penampilannya seperti gembel itu pun berbaris. Mereka menjadi dua kelompok.


Tatapan mata tajam Gus Fathir yang terlihat memerah membuat kedelapan orang itu ketakutan. Tentu saja mereka tahu akan kena hukuman.


'Gara-gara cecunguk gila itu, aku jadi kena hukuman. Semoga tidak sampai di pecat jadi adik iparnya. (Rafael)

__ADS_1


Gus Fathir berjalan dan memperhatikan anak-anak yang berkelahi itu. Begitu dekat dengan Rafael. Dia menyentil kening adik iparnya itu dengan gemas, tetapi terasa sakit oleh pemuda itu. Namun, tidak berani bersuara.


"Kalian semua adalah santri putra pesantren kilat. Belum juga dimulai kegiatan belajar sudah berbuat yang melanggar hukum. Meski begitu aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman untuk kalian," ucap Gus Fathir.


Kedelapan orang pemuda itu merasa lemas kakinya, menanti hukuman apa yang akan diberikan oleh laki-laki berwajah tampan itu. Mereka yakin pasti hukuman yang sangat berat.


"Kalian berlima bersihkan kamar mandi dan toilet santri putra," tunjuk Gus Fathir kepada kelima orang, Revaldi dan teman-temannya.


"Lalu, kalian bertiga. Bersihkan sampah di seluruh area asrama putra. Kalau sampai masih ada sisa sampah hukuman akan ditambah." Gus Fathir melihat ke arah Rafael dan kedua temannya.


Kedua kubu itu hendak protes. Kelompok Revaldi tidak mau karena kamar mandi, khususnya toilet itu bau. Sementara itu, kelompok Rafael mengeluh luasnya area asrama putra. Belum lagi banyak pohon yang pasti banyak daun yang akan berguguran.


"Cepat! Kalau sampai adzan Maghrib kalian belum menyelesaikan hukuman kalian, maka akan diteruskan lagi setelah Isya," lanjut laki-laki dewasa itu dengan tegas.


Kedelapan anak remaja itu pergi ke ruang kesehatan untuk mendapatkan pengobatan terlebih dahulu. Tentu saja Gus Fathir dan Ustadz Azka ikut mendampingi mereka.


Setelah berganti baju mereka melaksanakan tugasnya yang jadi hukuman tadi. Revaldi dan teman-temannya diawasi oleh Gus Fathir. Mulut mereka menggerutu dan mengumpat. Namun, Pria yang berprofesi sebagai dosen, tidak mempedulikan hal itu.


"Ini hukuman ringan sebagai kenalan kepada kalian. Jika kedepannya kalian melakukan pelanggaran peraturan di pesantren ini, maka hukumannya lebih dari ini," ancam Gus Fathir.


***


Ning Annisa yang mendengar kabar perkelahian itu, langsung pergi untuk memastikan keadaan suaminya. Dia mencari kebenaran suami dan teman-temannya. Saat dia mendatangi ketiga pemuda itu, dia dihentikan oleh Ustadz Azka.


"Kenapa seorang Ning Annisa bisa berada di lingkungan asrama putra?" tanya Ustadz Azka.


Ning Annisa tahu kalau dia tidak boleh masuk ke area asrama putra. Namun, saat ini keadaan sedang darurat. Dia mendengar kalau Rafael mendapat luka parah.


"Ada keperluan sebentar. Untuk mengecek sesuatu," jawab Ning Annisa.


'Gara-gara mengkhawatirkan keadaan Rafael aku jadi melakukan hal seperti ini.' (Ning Annisa)


"Apa Ning Annisa lupa? Kalau saat ini Ning Annisa sudah melanggar peraturan pondok pesantren," kata Ustadz Azka dan menohok bagi Ning Annisa.


Belum juga bertemu dengan Rafael, Ning Annisa harus pergi dari lingkungan asrama putra. Mau tidak mau dia pun pergi meski dengan perasaan kesal.


***

__ADS_1


Apakah Rafael akan mendapatkan omelan dari Ning Annisa karena sudah melanggar peraturan? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2