
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 29
Bukan Rafael namanya jika tidak melanggar aturan dan hukum. Dia yang di suruh tidur di sofa malam ini, saat tengah malam dia pindah ke tempat tidur. Dia tidak bisa tidur karena tidak memeluk tubuh istrinya.
Pemuda tengil itu pun diam-diam masuk ke dalam selimut. Rafael merasakan kenyamanan saat sudah berdekatan dengan istrinya.
'A-h, nyamannya. Tidak bisa tidur nyenyak kalau tidak memeluk dan menghirup wangi tubuh Cinta.' (Rafael)
Deg! Deg! Deg!
Rafael dan Ning Annisa biasanya tidur sambil berpelukan, tetapi ada penyekat di antara mereka. Yaitu, selimut tebal yang selalu tersedia di tempat tidur. Namun, kini selimut itu tidak ada digunakan sebagai penyekat. Keduanya saling berpelukan secara langsung.
Deg! Deg! Deg!
Jantung pemuda itu bertalu-talu dengan sangat kencang. Bahkan sengatan-sengatan listrik yang kini terus mengalir di seluruh syaraf yang ada di tubuhnya dapat dia rasakan dengan kuat. Bahkan dia merasakan kepalanya sakit saat si Rafelo bangun di tengah malam.
Hal ini karena dia bisa merasakan langsung sesuatu yang empuk menekan dadanya. Kebiasaan Ning Annisa adalah tidak memakai b-r-a saat tidur di malam hari.
'Ya Allah, bagaimana ini? Tubuhku mengkhianati janji yang sudah diucapkan oleh lisan aku.' (Rafael)
Rasanya Rafael ini menyentuh dada sang istri yang kini membuat kepalanya pening. Pikiran-pikiran surga duniawi kini tergambar dalam otaknya.
'Ya Allah, boleh tidak aku menyentuhnya!' (Rafael)
Meski Rafael mencoba memejamkan mata, dia tidak bisa tidur. Dia pun menciumi pucuk kepala Ning Annisa dan menghirup wangi shampo dari rambutnya. Pemuda itu juga semakin kuat merengkuh tubuh istrinya.
Ning Annisa, mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya. Dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Rafael dan mengeratkan pelukannya. Wangi maskulin yang dikeluarkan oleh tubuh sang suami membuatnya nyaman.
__ADS_1
Rafael merasa semakin tersiksa. Dia bingung saat ini. Entah apa yang harus dia lakukan.
"Cinta, aku tidak bisa tidur," rengek Rafael sambil mengusap-usap punggung istrinya.
"Berdzikir, nanti kamu akan tertidur juga," balas Ning Annisa dengan mata yang masih terpejam.
Rafael sangat terkejut mendengar ucapan istrinya barusan. Dia mengira kalau perempuan itu sedang pura-pura tidur.
'Apa dia sebenarnya terjaga?' (Rafael)
Rafael pun mengikuti ucapan Ning Annisa. Dia berdzikir sampai benar-benar jatuh tertidur. Keduanya kembali tidur pulas dengan saling berpelukan. Jeritan hati Rafael pun bisa mereda seiring rasa kantuk melanda dirinya.
***
Kali ini bunyi alarm membangunkan Ning Annisa. Betapa terkejutnya dia saat terbangun dalam pelukan suaminya. Apalagi sebelah tangan Rafael bertengger di dada kanannya.
"Kyaaa-aak!" teriak Ning Annisa sambil mendorong tubuh Rafael.
"Cinta, ada apa? Kenapa berteriak?" tanya Rafael dengan suaranya yang serak dan membuat tubuh Ning Annisa merinding mendengarnya.
Pemuda itu mengucek kedua matanya dan kembali berbaring karena merasa hari masih gelap. Dia juga malah menarik tangan Ning Annisa, sehingga jatuh di atas tubuhnya dan memeluk dengan lembut.
"Tidur lagi," kata Rafael sambil membelai surai hitam milik perempuan yang kini merasakan debaran jantung yang sangat cepat.
"Apanya yang tidur lagi. Bangun!" ucap Ning Annisa sambil menjauhkan tubuhnya dari Rafael.
"Ini jam berapa?" tanya sang suami yang masih memejamkan matanya.
"Kita sholat tahajud sekarang. Aku tidak mau kalau kesiangan seperti kemarin," ujar Ning Annisa sambil beranjak dari tempat tidur.
Rafael pun mengikuti istrinya dan mereka melakukan sholat tahajud bersama. Setelah itu Ning Annisa akan mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari Rafael. Banyak sekali kemajuan yang diperlihatkan oleh pemuda itu. Bacaannya dari hari ke hari itu lebih baik. Semangat belajar pemuda itu masih tinggi dan Ning Annisa sangat menyukainya.
__ADS_1
***
Rafael mulai hari ini menjalankan hukuman skorsing dari pihak sekolah. Kedua orang tuanya tidak pernah memarahi dia, paling hanya menasehatinya, "Jangan lakukan lagi hal seperti itu!"
Berbeda dengan ayah mertuanya. Dia menasehati Rafael dengan senyuman dan kata-kata bijak, sehingga dia merasa malu sudah berbuat tidak baik.
"Meski kamu tidak masuk sekolah, tetap harus belajar di rumah," kata Ning Annisa pada pemuda yang kini duduk main game.
"Iya, Cinta. Aku akan mulai belajar saat jam 07:00:00 tepat seperti orang-orang pada umumnya mencari ilmu," balas Rafael.
"Awas, kalau nggak sampai belajar aku akan memberikan hukuman tambahan yang lebih dari semalam," ancam Ning Annisa dan membuat Rafael langsung menyimpan handphone miliknya.
Melihat hal itu membuat Ning Annisa tersenyum senang. Dia pun mengambil tas kerjanya. Jam masih menunjukan pukul 06:30:00 dia tidak mau harus kebut-kebutan lagi di jalan seperti kemarin.
"Ayang, aku berangkat dulu," kata Ning Annisa menghampiri Rafael yang duduk di atas karpet dengan beberapa buku pelajaran.
Ning Annisa hendak berpamitan pada suaminya. Namun, tanpa sengaja kaki dia tersandung oleh ujung karpet, sehingga jatuh dan menimpa tubuh Rafael.
"Kyaaa-aak!"
"Astaghfirullahal'adzim," lirih Ning Annisa.
Mata perempuan itu melotot saat merasakan ada sentuhan di kedua dadanya. Dia melihat kedua tangan Rafael menahan dadanya yang menimpa dirinya barusan.
'Alhamdulillah. Ya Allah, ini rezeki anak Sholeh!' (Rafael)
"Tidak!" Ning Annisa memukul Rafael dengan tas kerjanya.
***
🙈🙈🙈 Ini ujung-ujungnya petakan bagi Rafael. Apa yang akan terjadi kemudian di antara Rafael dan Ning Annisa? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1