Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 13. Imam


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 13


"Kamu sedang apa?" tanya Ning Annisa dan itu membuat Rafael berteriak karena terkejut. 


"Kyaaaak. Cinta, kamu membuat aku kaget," balas Rafael sambil menyembunyikan handphone miliknya ke belakang punggungnya.


Ning Annisa menatap suaminya dengan penuh curiga. Dia menelisik keadaan Rafael dengan mata yang memicing.


"Kenapa kamu bertingkah laku aneh begitu. Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Ning Annisa.


"Ti-dak a-da," jawab Rafael gugup.


"Ayo, sini aku lihat kamu tadi melihat video apa!" titah Ning Annisa sambil mengulurkan tangan.


Rafael bersikukuh tidak mau menunjukkan video tadi. Dia malu pada Ning Annisa kalau dia sedang mulai belajar sholat. Tanpa Rafael bilang pun, Ning Annisa sudah tahu kalau suaminya itu tidak paham akan ilmu agama, sehingga tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Ya, sudah kalau kamu tidak mau menunjukan itu padaku. Sebaiknya kita turun dan makan malam bersama. Mama dan papa sedang menunggu kita," ucap Ning Annisa.


Keduanya pun bersama-sama turun ke lantai satu dan masuk ke ruang makan. Di mana kedua orang tua Rafael sedang asik mengobrol di sana.


"Sayang, sini. Mama barusan mencicipi masakan kamu. Ternyata lumayan enak. Cocok di lidah mama," kata Indira.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Jujur saja, Ma. Aku belajar masak itu baru-baru ini. Makanya tidak banyak variasi masakan yang bisa saya masak," kata Ning Annisa dengan perasaan malu.


"Tapi rawon ini enak rasanya," lanjut Regan.


"Mana, aku juga ingin mencoba masakan istriku ini," pungkas Rafael sambil duduk di kursi dekat Regan.


Ning Annisa menyiapkan makan untuk Rafael. Abah dan Umma sudah memberi tahu dan mengajarkan kepadanya. Meski suaminya itu masih muda, brutal, dan nyebelin. Dia tetap harus sebisa mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai istri. Salah satunya memasak dan menyiapkan makanan untuknya.

__ADS_1


"Apa segini sudah cukup?" tanya Ning Annisa kepada Rafael.


"Tambah sedikit lagi, karena hari ini terlalu banyak kegiatan. Jadinya lapar sekali," jawab Rafael, padahal mah dia modus.


Keluarga Rafael menghabiskan semua rawon yang di masak oleh Ning Annisa. Tentu saja ini membuat Ning Annisa bahagia, karena kerja keras dan bersusah payah memasak untuk keluarganya dihargai.


***


Setelah selesai sholat Isya, Rafael mencoba menggoda istrinya. Dia memegang tangan Ning Annisa dan mencium tiap jemarinya.


"Kyaaaak, apa yang kamu lakukan?" teriak Ning Annisa histeris karena dia tidak menyangka kalau Rafael akan melakukan hal seperti ini.


Ning Annisa dengan kuat menarik tangannya kembali. Dia merasakan tubuhnya merinding dan seperti mendapatkan sengatan listrik.


'Ini anak suka banget membuat aku merinding. Kayak hantu saja.'


"Aku melakukan yang harus seorang suami lakukan pada istrinya," jawab Rafael.


Ning Annisa menatap Rafael dengan terperangah. Dia mencoba mencerna baik-baik ucapan suaminya itu, agar dia tidak salah arti.


"Nah, itu! Aku mau memberikan nafkah batin saat ini sama istriku," ujar Rafael dengan senyum nakalnya.


"Tidak. Kamu tidak perlu melakukan hal itu saat ini," sahut Ning Annisa menolak keinginan pemuda yang kini berdiri di depannya.


"Kenapa? Dosa, loh. Menolak ajakan suami," balas Rafael.


"Sebelum kamu meminta hak, lebih baik lakukan dulu kewajiban kamu yang lebih utama," ujar Ning Annisa.


Rafael terdiam. Dia memikirkan kewajiban apa yang lebih utama baginya.


"Apa itu?" tanya Rafael penasaran.


Ning Annisa tersenyum manis karena Rafael mau mendengarkannya. Dia yakin kalau laki-laki ini akan bisa berubah jika selalu ada yang mengatakan dirinya.

__ADS_1


"Jadilah imam yang baik bagi aku," jawab Ning Annisa.


Otak Rafael mengartikan kalau dia harus bisa menjadi imam yang memimpin sholat. Sementara itu, dia belum bisa sholat sama sekali. Bagaimana mungkin bisa menjadi imam sholat bagi Ning Annisa.


"Apa harus bisa sholat dulu untuk menjadi imam?" tanya Rafael dengan suara rendah.


"Apa kamu tahu arti dari kata 'Imam'?" tanya Ning Annisa.


"Iya. Orang yang memimpin sholat berjamaah," jawab Rafael.


Ning Annisa mengangguk dengan senyum tipis. Baginya itu tidak salah.


"Arti 'Imam' adalah pemimpin. Jadi, kamu harus bisa menjadi seorang pemimpin di keluarga yang sedang kita bina ini. Kamu pasti tahu seperti apa gambaran seorang pemimpin itu," pungkas Ning Annisa masih menatap wajah Rafael yang menurutnya terlihat menggemaskan karena berekspresi lucu.


"Aku harus membimbing kamu. Harus menjaga kamu. Harus melindungi kamu," tukas Rafael dengan pandangannya masih pada wajah cantik Ning Annisa.


"Ya. Mengingatkan aku jika lupa. Menegur aku dengan cara yang baik jika melakukan kesalahan. Mengurus aku jika sedang sakit," tambah Ning Annisa.


Rafael merasa kalau dia belum bisa menjadi seorang imam bagi Ning Annisa. Dia pun menundukkan kepala. Entah sampai kapan dia mampu menjadi sosok yang seperti itu.


"Apa aku tidak boleh menyentuh kamu, eh, mendapatkan hak aku atas dirimu malam ini?" tanya Rafael.


"Kamu boleh menyentuh tubuhku, jika kamu minimal sudah bisa menjadi imam sholat aku," jawab Ning Annisa.


Rafael menengadahkan kepalanya dan tersenyum lebar. Dia pun berkata, "Benaran, ya? Jika aku sudah bisa menjadi seorang imam sholat kamu. Maka, kita akan melakukan malam pertama kita," ucap Rafael dengan semangat.


"Iya. Makanya kamu belajar sholat tepat waktu. Pergi berjamaah ke masjid. Belajar mengaji agar bisa membaca ayat-ayat Al-Qur'an dengan tartil," ujar Ning Annisa.


"Baiklah, aku akan mulai belajar sholat!" Rafael menjeda ucapannya dan melirik malu-malu pada Ning Annisa.


"Tapi, ajari aku, ya!" pinta Rafael dengan memasang puppy eyes yang sangat menggoda di mata Ning Annisa.


'Astaghfirullahal'adzim! Ada apa dengan aku!'

__ADS_1


***


Bagaimana cara Rafael agar bisa dengan cepat menguasai bacaan sholat dan gerakannya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2