
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 25
Rafael belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian semester. Dia punya perjanjian dengan istrinya kalau masuk rangking sepuluh besar mereka akan dinner di restoran dan kalau masuk tiga besar mereka akan pergi kencan seharian. Tentu saja reward ini yang diincar oleh pemuda tengil itu.
"Tumben rajin belajar. Padahal masih lama ujiannya," kata Rizal begitu masuk ke markas mereka.
"Diam, jangan mengganggunya. Atau dia akan benar-benar marah padamu nanti," bisik Anton pada sahabatnya paling rame jika mereka berkumpul bersama.
Ronald yang sedang duduk sambil memainkan handphone miliknya, tersenyum-senyum seperti orang yang berbahagia. Tentu ini membuat Rizal penasaran dengan hal yang membuat sahabatnya itu tersenyum kayak pengantin.
Saat Rizal mendekat, Ronald langsung mematikan handphone miliknya dan menyimpannya ke saku. Dia pun pura-pura membuka buku dan belajar.
Terlihat jelas wajah Rizal yang kesal. Pemuda itu berdecih karena penasaran dengan isi handphone milik pemuda campuran yang berkulit eksotis itu.
"Kita main game, yuk!" ajak Rizal, tetapi tidak mendapatkan tanggapan dari ketiga temannya.
"Woy! Ada apa dengan kalian? Kenapa tiba-tiba kalian jadi rajin belajar seperti ini?" tanya Rizal dengan gemas akan kelakuan sahabat gendengnya dari dulu.
Rizal pun akhirnya ikut duduk sambil membaca. Namun, bukan buku pelajaran yang dia baca. Melainkan komik kesukaannya.
Tidak lama kemudian keadaan ruangan itu sepi seperti tidak ada penghuninya. Semua larut dalam kegiatannya masing-masing. Sampai sebuah dering telepon memecah kesunyian di sana.
"Assalamualaikum, Cinβ." Rafael menutup mulutnya saat ketiga sahabatnya melirik ke arahnya.
^^^"Wa'alaikumsalam. Ayang, pulangnya jangan terlalu sore. Mama dan papa sudah ada di rumah."^^^
"Apa? Bukannya mereka baru pergi tiga hari yang lalu."
^^^"Bukannya bagus jika mereka sering tinggal di rumah."^^^
"Iya, Benar juga. Sekarang aku akan pulang. Assalamualaikum."
^^^"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."^^^
Ketiga teman Rafael penasaran siapa yang sudah menelepon temannya. Sebab, jarang-jarang dia mengucapkan salam saat menelepon.
"Siapa?" tanya mereka kompak dan membuat Rafael terkejut.
__ADS_1
"Kepo!" jawab Rafael sambil berdiri dan membereskan buku pelajarannya.
"Aku pulang duluan, mama dan papa sedang menunggu aku di rumah," lanjut Rafael sambil memakai tas gendongnya.
"Tumben orang tua kamu pergi hanya sebentar," ucap Ronald.
"Iya, biasanya juga berminggu-minggu atau sebulan lebih. Sudah gitu akan berangkat lagi," tambah Rizal.
Rafael tidak menghiraukan ucapan temannya. Dia buru-buru pulang karena ingin bertemu dengan istrinya juga. Meski mereka tiap hari bersama, rasa rindu untuk selalu terus bersama itu selalu menguasai dirinya.
***
Rafael tersenyum lebar saat melihat istrinya sedang membuat minuman jus buah. Dia menyuruh para pelayan yang ada di dapur untuk pergi dengan isyarat tangan dan matanya.
Kini tinggal Rafael dan Ning Annisa yang ada di dapur. Langkah yang pelan dan tidak menimbulkan bunyi, pemuda itu akhirnya bisa berdiri di belakang istrinya.
Ning Annisa tidak menyadari kalau ada Rafael berdiri di belakang. Dia asyik memblender buah mangga yang sudah dipotong-potong kecil.
"Assalamualaikum, Ning Annisa." Rafael memberikan salam sambil menunduk.
Ning Annisa yang terkejut tubuh melonjak dan memalingkan kepalanya ke arah belakang. Dia berniat memarahi pemuda itu yang sudah membuatnya terkejut. Namun, hal lain yang terjadi. Saat dia memalingkan kepalanya wajahnya bertabrakan dengan wajah Rafael.
Hidung mereka beradu dengan keras dan tentu saja keduanya mengaduh. Keduanya memegang hidung masing-masing.
"Hidung aku juga sakit, Cinta." Rafael mengusap-usap pelan hidungnya.
Melihat istrinya sampai berkaca-kaca seperti itu membuat Rafael iba. Dia juga mengakui itu kesalahannya karena sudah mengejutkannya.Β
"Cinta, maafkan aku," kata Rafael sambil memeluk tubuh istrinya.
'Hidung aku yang sakit, kenapa malah memeluk tubuh aku?' (Ning Annisa)
Kedua muda-mudi itu malah asyik menikmati moment ini, sampai lupa mereka sedang ada di mana. Rafael sangat senang merengkuh tubuh istrinya yang terasa pas dalam pelukannya. Sementara itu, Ning Annisa selalu suka dengan aroma tubuh sang pemuda yang enak wanginya dan membuat dia merasa nyaman. Meski sekarang bercampur bau matahari karena Rafael baru pulang sekolah.
"Kalau mau mesra-mesraan sebaiknya di kamar," kata Indira yang kini berdiri di belakang Rafael.
Sontak saja kedua makhluk itu sangat terkejut. Ning Annisa mencubit lengan suaminya, karena gara-gara dia, mereka jadi kepergok lagi oleh mama mertuanya.
"Mama ganggu saja orang yang sedang melepas rindu," ujar Rafael kecewa.
Ning Annisa sendiri memilih meneruskan membuat jus. Sebenarnya tinggal menuangkan saja ke gelas. Muka dibalik cadar itu kini memerah dan tentu saja gugup juga sedang melanda dirinya.
__ADS_1
"Yang mengganggu itu, kamu! Istrimu sedang membuat jus tadi, iya, 'kan?" Indira memicingkan matanya dengan tatapan mengintimidasi putranya.
"Sebaiknya kamu ganti baju dulu. Aku sudah membuatkan kue kesukaan kamu," kata Ning Annisa sambil melirik kepada Rafael.
***
Saat makan malam bersama keluarga itu terlibat obrolan santai. Para pelayan juga merasa sangat senang melihat keakraban mereka. Dulu rumah terasa sepi dan dingin. Namun, sekarang terdengar tawa canda dari tuan rumah. Selain itu juga, sekarang tuan dan nyonya pemilik rumah lebih sering berada di rumah.
"Mama dan papa akan ikut mengantar kalian ke pesantren nanti," kata Indira yang kini duduk di samping suaminya.
"Ma, tahu tidak? Teman-teman Rafael juga akan ikut mondok di pesantren selama liburan nanti," ujar Rafael diiringi senyuman nakalnya.
"Apa? Tumben mereka juga mau ikut kamu. Mama kira kalian hanya bersama saat bersenang-senang saja," balas Indira terkejut.
"Bagus, itu. Jadi, kamu akan punya teman nanti saat di sana," tukas Regan.
"Ini sudah masuk Isya, kita ke masjid, Pa!" ajak Rafael.
"Mama sholat berjamaah bersama Ning Annisa dan yang lainnya di rumah," kata Indira.
Kehadiran Ning Annisa di rumah itu memberikan banyak sekali perubahan. Semua orang yang tinggal di sana senang dengan sang menantu. Selain mengajari Rafael, dia juga mengajari mertua dan para pembantu yang ada di sana.Β
***
Malam hari sebelum tidur ada kegiatan yang sekarang selalu dilakukan oleh Rafael dan Ning Annisa. Sang istri akan mengajari pelajaran yang masih kurang dipahami oleh Rafael. Mereka akan belajar bersama sampai pukul 21:00:00. Setelah itu, mereka akan tidur.
Setelah seminggu pernikahan mereka dulu. Rafael tidur dengan memeluk tubuh Ning Annisa. Guling dia singkirkan dan tentunya ada ciuman selamat malam. Rafael kini sudah terbiasa berdoa sebelum tidur, tidak lupa berdzikir, bershalawat, dan membaca ayat-ayat pendek, serta ayat kursi.
"Ciumannya mana, Cinta~!" pinta Rafael sambil menyodorkan pipinya.
Meski sudah setiap hari mencium pipi sang suami, Ning Annisa masih saja malu-malu dan selalu deg-degan jika memberikan ciuman pada Rafael. Dia pun mencium pipi itu dengan lembut. Jangan harap suaminya mau diberikan ciuman kilat. Pernah dulu dia melakukan itu dan Rafael meminta ulang.
"Tidur yang nyenyak dan mimpikan aku, ya!" ucap Rafael sambil tersenyum menggoda dan itu membuat pipi sang istri merona.
"Ayang, tadi ada Yasmin ke sini," ucap Ning Annisa setelah dia menahan diri sejak tadi sepulang sekolah.
"Mau apa dia ke sini?" tanya Rafael semakin mengeratkan pelukannya dan mencium kepala Ning Annisa.
"Bang Sapri bilang dia ke sini mau minta pertanggungjawaban kamu," jawab Ning Annisa dengan lirih.
"Apa?" teriak Rafael sangat terkejut.
__ADS_1
***
Pertanggungjawaban apa yang di maksud oleh Yasmin kepada Rafael? Tunggu kelanjutannya, ya!