
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 43
Pagi-pagi Ning Annisa disibukan dengan mengurusi keperluan suaminya yang akan pergi ke pesantren. Di dekat pintu dua buah koper milik mereka sudah berjajar rapi.
"Cinta, baju aku hari ini pakai yang ini?" tanya Rafael sambil menunjukkan baju kaos dan kemeja berbahan kain katun dan celana chino.
"Iya, Ayang. Jangan pakai celana jeans, ya." Ning Annisa sedang memoleskan lip balm pada bibirnya.
"Cinta," panggil Rafael yang kini berdiri di dekat perempuan itu.
"Iya, ada apa?" Ning Annisa memalingkan wajahnya pada sang suami.
CUP
Rafael mencium bibir istrinya dengan lembut dan menuntut. Kedua tangan pemuda itu memeluk lembut tubuh sang pasangan, sebaliknya perempuan itu mengalungkan kedua tahan di leher Rafael. Ujung-ujungnya mereka melakukan ciuman mesra yang berdurasi lama.
"Morning kiss," ucap Rafael dengan senyum nakal yang sering dia perlihatkan pada Ning Annisa, belakangan ini.
"Ini sudah lebih dari yang kesepuluh kalinya Ayang bilang seperti itu, sejak bangun tidur," gerutu gadis berjilbab mocca dengan muka cemberut karena dia harus mengulang lagi dandanannya.
Sementara itu, sang pelaku hanya tersenyum bahagia. Mencium bibir lembut milik Ning Annisa sudah menjadi candu bagi pemuda itu setiap harinya. Bagi Rafael akan ada yang kurang dalam menjalani harinya, jika dia tidak mencium istrinya.
Setelah sarapan seluruh keluarga Rafael pergi ke bandara, di mana Gus Fathir sudah menunggu mereka. Perjalanan melalui pesawat terbang, akan lebih cepat sampai, dibandingkan dengan perjalanan melalui jalur darat.
Saat di bandara Rafael bertemu dengan keluarga Ronald. Mereka sempat berbincang-bincang sebentar. Ronald sendiri menyangka kalau gadis bercadar yang memakai kaca mata dan laki-laki dewasa di samping Rafael adalah penumpang lain, yang kebetulan sedang menunggu keberangkatan pesawat.
Rafael sudah merasa ketar-ketir saat Ronald melirik ke arah perempuan yang duduk di sampingnya. Dia takut kalau temannya ini bisa menyadari perempuan itu adalah Ning Annisa.
__ADS_1
Keberuntungan Rafael lainnya adalah posisi duduk dia dan Ronald cukup berjauhan meski mereka sama-sama berada di kelas pertama. Dia pun bisa bermesraan dengan Ning Annisa tanpa selalu mencemaskan pandangan dari orang lain.
Duduk sambil bergandengan tangan dan berbicara berdua saja itu sudah membuat Rafael sangat bahagia. Tidak perlu drama berpelukan dan berciuman di tempat umum.
"Cinta, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Abah dan Umma. Selama ini aku hanya bisa berkomunikasi dengan mereka saluran telepon atau video call," ucap Rafael sambil mengusap punggung tangan istrinya.
"Abah dan Umma juga sangat menantikan kehadiran Ayang di sana," balas Ning Annisa.
"Semoga saja aku kerasan tinggal di sana. Agar bisa melewati hari liburan ini dengan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi diriku," ujar Rafael dengan senyum lembut.
Kedua sejoli yang sedang kasmaran itu mengisi waktu dengan saling berbincang-bincang selama dalam perjalanan menuju ke Pesantren Al ikhlas. Mereka membicarakan sesuatu yang ringan seperti membicarakan masa kecil mereka.
Tidak terasa mereka pun sampai ke pesantren sekitar pukul 11.00.00 siang. Keluarga Rafael dan keluarga Ronald menghadap kepala dewan di ruangannya. Baik Regan maupun Fernando(aku lupa papanya Ronald sudah dikasih nama atau belum, ya? ðŸ¤), sudah menghubungi ketua dewan Pesantren Al ikhlas ini sejak jauh-jauh hari. Sekarang ini mereka semua sedang membicarakan sistem pembelajaran dan tempat tinggal anak-anak mereka.
"Setiap liburan sekolah, pesantren kami selalu membuka program pesantren kilat. Tentu saja mereka semua akan di tempatkan di dalan kobong pesantren yang sama, berbeda dengan santri yang bermukim di sini," jelas Ustadz Maulana.
"Kelas pembelajaran juga berbeda dengan para santri yang lebih padat dan pelajarannya juga lebih banyak, karena mereka sudah terbiasa. Berbeda dengan santri pesantren kilat, mereka belajar setelah waktu Dhuha sampai waktu Isya. Tentu dengan waktu istrirahat tiga puluh menit sebelum dan sesudah waktu sholat berjamaah. Setelah itu mereka bebas, mau beristirahat atau mau ikut kegiatan santri yang lainnya," lanjut Ustadz Maulana
***
"Alhamdulillah, akhirnya Rafael dan Ronald mau ikut kegiatan ini. Semoga bisa memperkuat iman dan menambah ilmu agama mereka," kata laki-laki yang sudah sepuh itu.
"Insha Allah, Pak Kiai. Mereka akan menjadi anak-anak yang lebih baik dan selalu berada di jalan yang benar," balas Regan dan diangguki oleh Fernando.
"Daripada mereka menghabiskan waktu dengan perbuatan yang sia-sia, lebih baik mereka mengikuti kegiatan yang bermanfaat seperti ini," lanjut Fernando.
Kiai Akbar senang mendengar perkataan dua laki-laki berdarah asing itu. Keduanya tidak ingin anak-anak mereka jatuh ke dalam kesesatan dan perbuatan yang tidak dibenarkan.
Begitu juga dengan para istri mereka yang mendukung suaminya. Mereka tahu kalau belum bisa mendidik anak-anak mereka dengan baik. Terutama mendidik buah hati mereka dalam urusan ilmu agama, karena kefakiran ilmu mereka.
"Insha Allah, semoga semuanya bisa berjalan lancar dan mereka akan menjadi sosok pemuda yang lebih baik lagi kedepannya," tambah Bu Nyai Khadijah.
__ADS_1
Rafael sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya lagi. Semenjak dari bandara tadi mereka berpisah karena mobil jemputan ada dua. Pemuda itu sudah gatal rasanya ingin memeluk sang istri.
Indira mencubit lengan putra semata wayangnya yang merengek ingin ke luar ruangan itu. Wanita paruh baya itu gemas karena kelakuan putrnya, dia tahu melalui pancaran mata anaknya yang sudah ingin menemui sang pujaan hati.
"Ma," panggil Rafael dengan berbisik.
"Apaan, sih!" balas Indira.
"Cinta," ucap Rafael.
Indira yang merasa kesal akan kelakuan putranya, meminta izin pada mereka untuk ke luar terlebih dahulu. Untungnya Kiai Akbar dan Bu Nyai Khodijah mau memaklumi Rafael.
"Sana berjalan-jalan dulu, keliling pesantren. Agar kalian lebih tahu keadaan di sini," ucap Kiai Akbar.
"Biar Musa yang antar mereka berkeliling," lanjut Bu Nyai Khadijah.
***
Rafael dan Ronald mengikuti langkah pemuda bertubuh tegap dan berkulit bersih bercahaya. Setiap tempat atau ruangan yang mereka lalui, pemuda itu menjelaskan dengan baik.
"Assalamualaikum, Ning Annisa," sapa Musa saat mereka berpapasan dengan dua orang perempuan bercadar yang ke luar dari pagar ndalem.
"Wa'alaikumsalam," balas kedua perempuan bercadar itu.
Rafael merasa sangat senang karena bisa melihat istrinya. Dia dan Ning Annisa saling melirik dan melempar senyum. Meski Ning Annisa memakai cadar yang menutupi wajahnya, tetapi bentuk mata dia juga melengkung menandakan kalau dia sedang tersenyum.
'Apa ini sungguhan Ning Annisa?' (Ronald)
***
Apa saja kejadian yang akan terjadi pada Rafael selama di pesantren itu? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1