
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 30
Mata Ning Annisa melotot saat merasakan ada sentuhan di kedua dadanya. Dia melihat kedua tangan Rafael menahan dadanya yang menimpa dirinya barusan. Pemuda itu sedikit mere_mas bukit kembar milik sang istri.
"Kyaaa-ak!" Ning Annisa memukul Rafael dengan tas kerjanya.
"Ampun, Cinta! Ini bukan salah aku," ucap Rafael sambil melindungi kepala dan wajahnya dari pukulan tas yang dilayangkan oleh sang istri.
"Tidak mau. Ini pele_cehan!" teriak Ning Annisa.
"Bukan, Cinta. Ini namanya sengsara membawa nikmat," bantah Rafael.
Ide jahil Rafael tiba-tiba saja terlintas dalam otaknya. Dia meringkas kaki istrinya, sehingga terjatuh menimpa tubuhnya. Pemuda ini tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencium bibir istrinya yang kebetulan cadar yang dipakai tersingkap. Meski dia hanya bisa mencium ujung bibirnya saja, itu sudah membuatnya merasa sangat bahagia. Begitu juga dengan si Rafelo baru langsung bangun dengan gagah berani.
Ning Annisa membelalakkan matanya saat merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Tubuh dia langsung merinding dari ujung kaki sampai ke ubun-ubunnya. Dia tahu apa yang mengganjal itu. Lalu, dengan cepat perempuan pun berdiri.
"Ayang~, tidurkan si Rafelo!" titahnya sambil membenarkan bajunya. Muka dia sudah merah padam. Untungnya tertutup oleh cadar.
"Sulit, Cinta. Dia itu ingin kenalan secara langsung sama belahan jiwanya," balas Rafael.
"Hafal dulu juz Amma dan harus bisa jadi imam aku saat sholat. Pokoknya, Ayang akan mendapatkan semuanya setelah itu," ucap Ning Annisa dengan tegas.
Rafael mengkerut, lalu dia tersenyum manis. Dia cepat-cepat berdiri dan berkata, "Eh, tidak ... tidak ... tidak! Sepertinya dulu Ning Annisa pernah bilang seperti ini, 'Nanti kita bisa melakukan malam pertama, setelah bisa menjadi imam sholat.' Aku sudah siap sekarang juga!"
Ning Annisa membulat bola matanya, karena sangat terkejut mendengarkan ucapan barusan. Kata-kata yang keluar dari mulut sama suami.
__ADS_1
"Jangan bohong, kalau Ayang sudah bisa membaca bacaan Quran dengan Tartil," tukas Ning Annisa.
"Coba saja sekarang aku sudah siap untuk di tes," balas Rafael.
Selama ini dia selalu di bimbing oleh Gus Fathir. Dia belajar bacaan sholat dengan benar dan mencari tahu cara biar cepat menghafal Al-Qur'an, biasanya dilakukan setelah sepulang sekolah. Meski Ning Annisa akan mengetes hafalannya setelah pulang dari berjamaah sholat Isya.
Ning Annisa melihat jam di dinding dan waktu hampir menunjukkan pukul 07: 00:00. Dia sudah tidak punya waktu lagi karena sekolah akan segera masuk.
"Ayang, aku tes setelah pulang sekolah, ya? Sekarang aku tidak punya waktu," ucap Ning Annisa sambil meraih tangan Rafael dan menciumnya.
"Assalamualaikum," salam Ning Annisa.
"Wa'alaikumsalam," balas Rafael setelah mencium kening istrinya.
***
Selama di rumah Rafael belajar. Dia juga menghubungi Gus Fathir untuk belajar ilmu agama. Meski harus mendapat wejangan dulu sang kakak ipar, dia tidak marah atau kesal. Semua ucapan yang dikatakan oleh kakaknya Ning Annisa itu demi kebaikan dirinya.
^^^"Bacaan panjang pendeknya masih harus belajar. Tapi, aku acungi jempol untuk adik ipar aku ini, yang mau belajar dan sudah bisa sampai ke tahap ini."^^^
"Terima kasih, Gus. Aku akan lebih rajin lagi belajar."
^^^"Bagus, itu. Terus cari ilmu yang bermanfaat bagi dirimu sampai ajal menjemput. Jangan berputus asa atau bosan."^^^
"Iya. Insha Allah, liburan sekolah nanti aku akan berlibur di pesantren untuk belajar agama."
^^^"Alhamdulillah. Semoga Allah mempermudah kamu untuk mendapatkan ilmu di sana."^^^
"Aamiin."
__ADS_1
***
Rafael saat ini merasakan gugup saat melihat yang di dinding sudah menunjukkan pukul 03.00.00 sore hari. Tidak biasanya Ning Annisa pulang terlambat.
"Dia ke mana, ya?" gumam Rafael sambil mondar-mandir di depan pintu rumahnya.
Tidak sama kemudian motor milik Ning Annisa masuk ke pintu gerbang. Melihat hal itu membuat hati Rafael merasa tenang karena istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Assalamualaikum," salam Ning Annisa begitu dia menginjakkan kaki di teras rumah.
"Wa'alaikumsalam. Akhirnya, Cinta pulang juga. Kamu tahu tidak, aku begitu sangat mengkhawatirkan dirimu karena sudah pulang terlambat," aku Rafael.
"Maaf, Ayang. Barusan ada keperluan mendadak dan baterei handphone habis. Entah kenapa padahal aku merasa kemarin sudah mengecasnya," kata Ning Annisa dengan perasaan menyesal.
Rafael diam saja karena dia adalah bilang keladi dari baterai cepat habis itu. Dia semalam bermain toktok dan nonton yutub di handphone milik Ning Annisa.
"Oh, sudah tidak apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkan istriku saja. Aku percaya kalau Cinta tidak akan berbuat sesuatu yang dilarang," balas Rafael jangan diiringi senyum tampannya.
Mendengar ucapan suaminya ini, Ning Anisa merasa senang dan tenang. Sejak tadi dia merasa tidak tenang karena tidak bisa menghubungi suaminya, kalau dia akan bertemu dahulu dengan Gus Fathir.
Rafael duduk manis menunggu istrinya yang sedang mandi. Dia sudah tidak sabar untuk melakukan tes menjadi imam sholat.
Melihat Ning Annisa sekeluar dari kamar mandi, membuat jantung Rafael berdetak sangat kencang. Bahkan kakinya pun sampai dia benar. Dia merasa melihat bidadari yang turun ke bumi untuk menemui dirinya.
'Ya Allah, nikmat mana lagi yang aku dustakan!' (Rafael)
***
😆😆😆 Ada apa lagi yang terjadi pada Rafael? Penampakan seperti apa yang terjadi pada Ning Annisa? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Ingin crazy up sebenarnya ðŸ˜ðŸ˜. Tapi cuaca hujan malah membuat aku tertidur tanpa sadar.