
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 62
Begitu pintu ditutup, Rafael langsung memeluk tubuh istrinya. Dia meminta maaf karena sudah membuat terjatuh sakit, bahkan sampai harus dirawat.
"Cinta, maafkan aku!" Terdengar suara isak tangis dari pemuda itu.
"Aku juga ingin minta maaf sama Ayang. Apa kamu mau memaafkan aku?" Ning Annisa memeluk erat tubuh laki-laki yang sudah beberapa hari ini dia rindukan.
"Sejak malam itu juga aku sudah memaafkan kamu, kok. Hanya saja aku sering ketiduran saat mau menyusup ke ndalem. Apalagi ada jam patroli, aku jadi tidak bisa kabur untuk menemui kamu, Cinta. Aku rindu sekali!" Rafael kini menatap wajah istrinya yang dia buka cadarnya barusan.
Keduanya saling menatap penuh rasa rindu. Padahal mereka cuma tiga hari tidak bertemu, tetapi rasanya sudah sangat lama sekali.
Rafael mencium kening, kelopak mata, hidung, kedua pipi, dan dagu Ning Annisa dengan sangat lembut seakan-akan itu barang yang mudah pecah. Lalu, dia pun memberikan ciuman lembut pada bibir yang sudah tiga hari tidak dijamah olehnya itu.
Keduanya larut dalam kehangatan sentuhan lembut dan saling menuntut minta dibalas dengan yang lebih. Mereka menjeda tautan bibir itu hanya untuk mengambil oksigen.
"Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau Cinta begitu kepikiran aku yang sedang marah," kata Rafael dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku awalnya marah, tetapi foto itu ada sebelum kita saling mengenal. Jadi, seharusnya aku tidak marah. Hanya saja rasa cemburu aku ini membuat kamu dalam kesulitan. Maafkan aku yang bodoh ini." Air mata itu akhirnya jatuh juga.
Rafael tidak tahu kalau marahnya suami bisa membuat seorang istri dilaknat oleh malaikat (dengan alasan yang dibenarkan dalam agama). Padahal Ning Annisa sudah meminta maaf padanya malam itu dan dirinya juga sebenarnya sudah memaafkan istrinya sebelum dia tidur. Meski rasa cemburu itu tidak hilang.
"Aku mencintaimu Rafael. Kamu harus ingat ini," ucap Ning Annisa mengeluarkan isi hatinya.
Keduanya saling menatap dan berakhir dengan dengan ciuman mesra sambil berpelukan. Ciuman yang sering mereka lakukan belakang ini.
"Aku mencintaimu," bisik Rafael dan kembali me_magut bibir istrinya.
***
Ning Annisa dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Seharusnya hari ini adalah agenda malam pertama untuk Rafael dan Ning Annisa. Namun, mereka harus menundanya karena keadaan fisik sang istri yang masih lemah. Pemuda itu sendiri juga tidak mau membuat gadis yang dicintainya itu menderita.
Muka Ning Annisa langsung merona. Terlihat jelas di pipinya yang kini berubah memerah. Tidak jauh dari mereka ada dua pasang orang tua yang besanan, tersenyum geli mendengar pembicaraan kedua sejoli itu. Sejak kemarin mereka membicarakan acara belah duren.Â
Indira dan Regan menyangka kalau keduanya pernah melakukan hal itu. Hal ini dikarenakan melihat kemesraan mereka yang sering terlihat romantis bahkan mereka beberapa kali melihat anak dan menantunya itu berciuman mesra secara sembunyi-sembunyi.
"Sepertinya keinginan kita untuk punya cucu secepatnya, harus kembali tertunda," bisik Indira pada Regan.
"Sedikasihnya saja sama Allah," balas Regan.
__ADS_1
***
Rafael bersama teman-temannya menjalani sisa waktu di pesantren dengan suka cita dan kadang duka. Mereka sering ketiduran saat mengikuti pelajaran dan akan mendapat hukuman membersihkan lingkungan pesantren. Seperti saat ini, ketika 70 orang kena hukuman karena tidur berjamaah saat pelajaran ilmu tajwid. Mendengarkan suara Ustadz Ibra yang merdu dan indah ditambah suasana masjid yang adem dan tenang, membuat mereka jatuh tertidur lelap.Â
Ada saja santri pesantren kilat itu yang mendapatkan hukuman membersihkan masjid, halaman asrama, dan toilet setiap harinya. Tentu ini membuat keadaan di sana selalu terlihat bersih.
Hari ujian pun akan tiba, para santri banyak yang belajar dibandingkan dengan bermain di lapangan seperti biasanya. Mereka ingin lulus dengan nilai yang baik, gara-gara Rafael membuat pengakuan kalau dia lulus dengan nilai yang baik akan mengadakan liburan. Bersama mereka sebelum kepulangan kembali ke kota. Tentu saja semuanya jadi semakin bersemangat untuk belajar.
***
Malam hari setelah selesai ujian. Rafael mendatangi Ning Annisa dan memadu kasih meski tidak sampai ke tahap pembuatan calon bayi mereka. Hanya sampai tangan nakal Rafael pegang-pegang bagian tubuh istrinya yang terlihat menggoda.
"Ayang, tangannya kondisikan!" Ning Annisa menahan tangan suaminya jika dirasa sudah keterlaluan.
"Gemes, Cinta~!" balas Rafael dengan kedua tangannya berada di bukit kembar istrinya.
"Itu bikin aku sakit, Ayang," ucap Ning Annisa dengan lirih.
"Maafkan aku, Cinta." Rafael membalikan badan sang istri agar duduk menghadapnya.
"Boleh tidak malam ini aku tidur di sini?" tanya Rafael dengan tatapan memohon.
__ADS_1
***
Akankah Ning Annisa mengizinkan Rafael tidur di kamarnya? Tunggu kelanjutannya, ya!