
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 39
Ning Annisa merasa sakit hatinya saat orang yang sudah dianggap berarti dalam hidupnya bicara seperti itu. Dia marah kepada Rafael, karena meragukan perasaannya untuknya.
'Apa dia tidak melihat dan merasakan semua yang aku perbuat untuknya selama ini?' Ning Annisa menggerutu di dalam hatinya.
Dia pun memilih tidur di sofa karena merasa kesal pada suaminya. Dia tidak terima dengan ucapannya tadi.
Tidak lama kemudian, terdengar pintu dibuka. Perempuan itu tahu siapa yang masuk ke kamarnya. Wangi tubuh orang yang sudah membuatnya jengkel, tetapi selalu bikin dia khawatir.
Ning Annisa bisa merasakan kalau saat ini, lelaki itu duduk di dekatnya. Adanya tekanan ke sofa yang sedang ditiduri olehnya, membuktikan kalau lelaki itu duduk bersandar di samping kepalanya.
Pemuda itu membelai rambut sang istri sambil berbicara dengan suaranya yang lembut. Hal ini membuat sang perempuan merasa terharu.
"Maaf. Bukannya aku berpikiran buruk. Aku tahu, Cinta sangat sayang dan perhatian sama aku. Buktinya mau mengajari aku sholat, mengaji, dan mengurus semua keperluan aku sehari-hari. Maksud aku tadi itu ... agar rasa cinta dalam diri istriku juga bisa cepat hadir. Aku sangat, sangat, mencintaimu. Aku juga berharap Cinta juga bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu."
Ning Annisa rasanya ingin mengatakan kalau dia sudah ada perasaan cinta untuknya meski masih sedikit. Dia yakin perasaan itu adalah cinta untuk suaminya. Meski rasanya berbeda ketika dia dulu jatuh cinta kepada Ustadz Azka. Namun, perasaan ini adalah cinta dia untuk Rafael.
__ADS_1
"Cinta, maaf kalau aku sudah membuat hati kamu terluka. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak akan pernah memaksa kamu untuk mencintaiku. Aku harap perasaan itu bisa hadir dengan seiring berjalannya waktu yang kita lalui bersama. Aku hanya ingin kamu tahu saja, kalau aku sudah menyukaimu sebelum kita menikah. Perasaan itu terus tumbuh setiap harinya. Sampai-sampai aku takut kalau kamu direbut oleh orang lain. Salah satunya Ronald, sahabat baik aku sendiri. Saat dia bilang mencintaimu, aku cemburu ... marah. Aku tidak mau kalau ada yang mengambil dirimu dari sisiku. Ning Annisa adalah istriku, perempuan yang selamanya harus berada di samping aku. Perasaan egois dalam diriku untuk memiliki kamu seutuhnya sering terlintas dalam pikiran aku. Namun, rasa cintaku kepadamu, menyadarkan kalau rasa saling mencintai dengan cara yang benar akan kekal. Aku pun berusaha membuat kamu agar bisa jatuh cinta kepadaku."
Rafael bicara dengan mata yang berkaca-kaca, meski begitu suaranya masih tetap stabil. Gelora jiwa anak muda di dalam dirinya menginginkan hal-hal baru dalam hidupnya. Namun, dia harus mengekang perasaan itu. Sebab, dia juga tidak boleh melakukan perbuatan seenaknya sendiri. Tanpa memikirkan sebab akibatnya.
Ning Annisa terenyuh mendengar ucap suaminya. Dia pun membuka mata dan memalingkan wajahnya ke belakang. Dia melihat kalau Rafael menyandarkan kepalanya di sampingnya. Tangan perempuan itu pun terulur dan mengusap lembut rambut sang suami.
"Terima kasih sudah mencintai aku, menyayangi aku, dan selalu memberikan perhatian padaku. Bersabarlah, aku harap perasaan cinta ini secepatnya bisa tumbuh besar seperti perasaan cinta yang dimiliki olehmu."
Mata Ning Annisa terbelalak saat tiba-tiba Rafael mengangkat kepalanya. Kini mereka saling beradu pandang dalam jarak yang sangat dekat. Tidak sampai tiga jari jarak bibir mereka.
Terlihat binar kebahagian di mata Rafael setelah mendengar ucapan Ning Annisa barusan. Dia merasa bahagia, ternyata istrinya itu sedang memupuk perasaan cintanya agar cepat tumbuh besar.
Rafael memajukan kepalanya sedikit dan bibirnya menyentuh bibir lembut milik istrinya. Mereka berciuman saling melu_mat, menye_sap, dan tanpa disadari kini tubuh sang pemuda sudah berada di atas sang istri.
"Tenang saja. Aku tidak akan melewati batas," bisik Rafael.
Pemuda itu menggendong tubuh sang istri dan meletakkan kembali di atas tempat tidur. Malam itu keduanya tidur dengan lelap sambil berpelukan.
***
Hari Senin adalah waktu ujian semester di mulai. Saat Rafael mengerjakan soal-soal ujian, ada panggilan untuk dirinya.
__ADS_1
"Rafael, Ronald, dan Rizal di suruh menghadap kepala sekolah di ruangnya!" perintah salah seorang guru pengawas.
"Baik. Mungkin setelah bunyi bel, Pak," balas guru pengawas di ruangannya.
Rafael dan kedua temannya pun pergi menuju ruang kepala sekolah begitu selesai waktu ujian hari itu. Saat dalam perjalanan ke sana, dia bertemu dengan Yasmin yang ternyata dipanggil juga ke sana.
"Jadi, kita semua dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk apa?" tanya Rizal tidak mengerti.
"Yang jelas bukan untuk mendapat uang bantuan," balas Ronald.
"Apa gara-gara kejadian semalam?" tanya Yasmin dengan raut wajah yang terlihat cemas.
"Mungkin saja," jawab Rafael. Baginya bukan hal yang aneh dan asing. Setelah balapan liar atau tawuran, keesokan harinya dia akan dipanggil oleh guru dan disuruh menghadap ke ruang kepala sekolah.
Keempat siswa itu pun masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata ada dua orang berseragam polisi yang sedang berbincang-bincang dengan kepala sekolah.
"Akhirnya kalian berempat datang juga. Pak polisi ini keempat siswa yang sedang Anda cari tadi," kata Pak Kepala Sekolah.
***
Apa yang terjadi pada Rafael dan teman-temannya? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya, Yuk baca juga karya aku yang sudah tamat biar kalian bisa baca maraton.