
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 46
Rafael memberenggut saat istrinya menyuruh pergi untuk kembali ke Ronald yang sedang mencarinya bersama Musa. Dia itu masih mau bersama dengan istrinya. Sebab, nanti besok-besok akan sulit untuk bermesraan berdua karena dia harus tinggal di kobong bersama teman-teman yang lainnya.
"Apa, Ayang mau berbuat dzolim pada orang yang sudah mengkhawatirkan keadaan suamiku ini?"
"Asal kabulkan satu permintaan aku ini. Bagaimana?" tanya Rafael dengan sorot mata yang nakal.
Ning Annisa pun akhirnya mengalah dan mengangguk. Dia berharap dengan begitu suaminya bisa segera pergi.
"Berikan aku ciuman terbaikmu, Cinta! Seperti saat di taman belakang kemarin," lanjut Rafael dengan senyum tengilnya.
Mendengar permintaan dari suaminya, Ning Annisa terperangah. Dia malah merasa malu sendiri. Dia pun menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkan dengan perlahan.
"Baiklah. Tapi, setelah itu Ayang harus segera kembali berkumpul dengan yang lainnya," balas perempuan yang kini duduk di pangkuan suaminya.
"Tentu saja, istriku."
Ning Annisa menempelkan bibirnya dan mulai menggerakkan tangannya melingkari leher dan mere_mas rambut Rafael dengan lembut. Dia dan pemuda itu saling memberikan kepuasan pada pasangannya. Saling melu_mat dan menye_sap dengan lembut tidak kasar.
Kedua tangan Rafael melingkar di pinggul dan punggung Ning Annisa. Dia menarik tubuh istrinya agar menempel kepadanya.
Jantung kedua sejoli itu saling bertalu-talu dengan kencang. Aliran darah pun dengan cepat mengalir akibat dari jantung yang terpompa dengan sangat cepat.
Keduanya begitu menikmati kegiatan ini. Mereka lupa pada apa yang yang mereka bicarakan barusan. Sekarang Rafael malah membaringkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Dia menahan dengan sebelah tangannya agar tubuh bagian atas tidak menindih tubuh Ning Annisa terlalu kuat.
"Ayang~. Sudah, sanaβ" ucapan Ning Annisa terpotong oleh kecupan singkat dari pemuda jahil itu.
"Cinta harus merindukan aku setiap harinya! Karena aku juga pasti akan merindukan istri cantik aku ini," pinta Rafael pada Ning Annisa.
__ADS_1
"Iya." Ning Annisa menatap bola mata coklat itu. Muka dia sangat merah karena posisi mereka yang sangat in_tim sangat ini.
***
Rafael pun mendatangi kedua pemuda yang kini sedang berjalan dari arah lapangan yang tadi dipakai main sepak bola para santri putra. Tanpa merasa bersalah, dia pun melemparkan senyum terbaiknya.
"Rafael. Kamu ke mana saja?" tanya Ronald dengan mimik wajah kesal.
Kedua pemuda itu sudah berkeliling hampir sebagian kompleks pesantren. Terlihat dari keringat yang membasahi kening mereka.
"Aku berada di belakang ndalem. Lihat kolam ikan," kata Rafael berdusta.
"Kok, tadi kami ke sana tidak ada?" Musa merasa heran.
"Iya, tadi kita juga mencari ke sana. Kamu tidak ada di sana," lanjut Ronald.
"Kalau tidak percaya, tanya saja Gus Fathir. Tadi kita bertemu di sana," ujar Rafael tidak bohong.
Musa percaya kalau Rafael di sana. Apalagi, jarang ada yang tahu pada Gus Fathir bagi santri baru, kecuali santri yang sudah lama belajar di sana.
***
Ruangan yang sangat besar itu terisi oleh 25 orang anak dan seorang pendamping atau biasa disebut ketua kobong. Tempat tidur hanya kasur busa berukuran single dengan satu bantal dan guling. Berjajar rapi saling berhadapan. Lemari baju juga berjajar rapi sebagai penyekat antar tempat tidur mereka.
Jendela-jendela besar yang memakai teralis untuk pergantian udara dan masuknya cahaya membuat ruangan itu terkesan jauh lebih luas dan tidak pengap meski diisi oleh 26 orang. Kamar mandi hanya ada dua, itu juga berukuran sedang.
"Ayo, ambil air wudhu! Jika tidak bisa di sini, lebih baik, cepat-cepat pergi ke masjid," perintah ketua kobong yang sering mereka panggil Mas Adam.
Anak-anak itu sudah berganti dengan baju muslim dengan sarung yang tidak menutup mata kaki mereka. Rafael yang takut kejadian melorotnya sarung seperti dulu, dia pun memakai sabuk untuk menahan kain polos ini.
"Rafael, cepat!" teriak Ronald yang sudah keluar ruangan itu.
"Tunggu!" Rafael merapikan bajunya dan memakai peci untuk menahan rambutnya agar jangan sampai menutupi kening ketika bersujud nanti.
__ADS_1
Saat mereka hendak masuk ke gerbang masjid, berpapasan dengan Ning Annisa dan Buku Nyai Khadijah dan beberapa santri putri lainnya yang pintu gerbang untuk jemaah perempuan ada di balik satunya lagi.Β
Rafael dan Ning Annisa saling mencuri pandang. Beberapa santri perempuan berbisik-bisik setelah mereka berpapasan tadi dengan Rafael.
"Yang barusan itu bule, 'kan?"Β
"Iya. Dia bule, ganteng banget."
"Yang satunya juga bule. Terlihat dari lensa mata dan warna rambutnya yang coklat. Tubuh mereka tinggi-tinggi dan hidungnya mancung sekali."
"Santri putra peserta pesantren kilat tahun ini banyak yang tampan."
"Bisa cuci mata. Apa mereka juga akan aktif berolahraga di lapangan?"
"Pasti akan senang bisa melihat mereka ketika berolahraga."
Keempat santri putri yang berjalan di belang Ning Annisa, membuat merasa kesal. Dia tidak sadar kalau itu adalah cemburu.
'Tidak akan aku biarkan Ayang aku berolahraga.' (Ning Annisa)
'Enak saja tubuh atletis suami aku dilihat sama kalian. Aku tidak ridho.' Ning Annisa menggerutu pada santri putri peserta pesantren kilat itu.
***
Rafael dan Ronald kebagian shaf ke lima dari belakang. Masjid sudah penuh oleh para santri dan pengajar. Mereka yang sudah terbiasa, akan pergi ke masjid sebelum adzan berkumandang. Berbeda dengan santri yang masih baru dan para santri dadakan atau peserta pesantren kilat, yang belum terbiasa.
Pada rakaat pertama semua berjalan lancar. Namun, saat rakaat kedua, setelah rukuk sarung milik Ronald lepas ikatannya dan melorot tinggal boxer yang masih menutupi paha.
Sontak saja orang-orang di sana dan yang ada di belakang mereka langsung tertawa. Iman mereka masih cetek. Belum kuat menahan gangguan kecil seperti ini.
Rafael juga ingin tertawa, tetapi menahannya. Dia teringat kata Ning Annisa, ketika sedang sholat harus khusyuk. Tidak boleh terganggu oleh keadaan sekitar, apalagi karena ada kejadian yang biasa saja. Kecuali, kalau tiba-tiba terjadi bencana alam atau serangan musuh, baru boleh pergi menghentikan sholat dan cari tempat yang aman untuk melanjutkan sholatnya.
'Aduh. Kenapa mesti melorot!' Ronald langsung memakai kembali sarungnya dan mengikat dengan kuat.
__ADS_1
***
Kejadian apa saja yang akan dilalui oleh Rafael dan teman-temannya selama menjalani pesantren kilat di sana? Tunggu kelanjutannya, ya!