
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 41
Rafael pulang ke rumah sebelum adzan Ashar berkumandang. Ketika dia masuk ke kamar tidur, ternyata istrinya sedang berada di kamar mandi. Maka dia pun duduk di sofa sambil menunggu istrinya selesai mandi. Ada yang mau dia bicarakan kepadanya tentang kehidupan di pesantren, yang semalam dia lupa tanyakan. Tadi dia dan temannya sempat berdebat kecil tentang hukuman yang diberikan kepada santri yang melanggar peraturan.
"Aduh, aku buang air kecil lagi." Rafael merasa adanya panggilan alam yang harus segera dituntaskan.
"Cinta di kamar mandinya masih lama nggak, ya?" gumam Rafael sambil menatap pintu buram dan ada di samping kanan tempat dia duduk.
"Apa aku ikut masuk ke dalam saja, ya?" Rafael kini berdiri dan berjalan ke depan pintu kamar mandi.
Ada perasaan ragu yang dirasakan oleh Rafael. Dia takut kalau memaksa masuk ke dalam istrinya akan marah. Kemarin pagi saja saat dia mengikuti dari arah belakang untuk mencuci muka, Ning Annisa memiting tangannya, lalu mendorong keluarga kamar. Katanya dia mau buang air kecil dulu.
"Bukannya kita sudah menjadi pasangan suami istri? Jadi boleh kalau aku melihat tubuhnya, sebaliknya dia juga boleh melihat tubuh aku. Aku ridho lillahi ta'ala tubuh aku dilihat oleh istriku. Bahkan jika dia mau menyentuhnya, dengan senang hati aku perbolehkan sampai dia merasa puas."
Untuk menghilangkan perasaan ingin buang air kecil yang sudah tidak bisa ditahan olehnya, Rafael mau milih berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Dia benar-benar sungguh tidak bisa menahannya lagi.
"Cinta, buka pintunya! Aku mau pipis, nih. Sudah tidak tahan," teriak Rafael sambil menggedor pintu.
__ADS_1
Tidak ada suara balasan dari dalam kamar mandi. Rafael menjadi bingung antara harus masuk atau tidak.
"Bodo amat, deh. Aku sudah tidak kuat lagi menahannya." Rafael membuka pintu kamar mandi.
"Kya-aaaa!" Ning Annisa berteriak kencang karena suaminya seenaknya sendiri masuk ke dalam kamar mandi. Sementara dia masih dalam keadaan tidak memakai baju. Jelas dia malu sekali.
"Kya-aaaa!" Rafael berteriak karena melihat pemandangan indah di depannya. Namun, sesuatu yang dia tahan sejak tadi, akhirnya ke luar juga. Ada perasaan senang dan ringan yang dia rasakan saat ini.
"Cinta~, aku ngompol di celana." Air mata Rafael meluncur dari netranya karena kuatnya rasa malu dia saat ini. Mungkin ini adalah catatan kejadian terburuk yang menimpa dirinya seumur hidup dia.
Ning Annisa dengan cepat menarik kimono handuk yang tidak jauh darinya. Betapa malunya dia saat ini, karena tubuhnya sudah dilihat oleh sang suami.
Perempuan itu pun dengan cepat ke luar dari kamar mandi. Sementara itu, Rafael masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa sih, Ayang seenak nya sendiri masuk ke dalam kamar mandi. Sudah jelas aku masih berada di dalam sedang mandi. Ih, malu sekali aku sekarang, karena dia sudah melihat tubuhku yang dalam keadaan polos." Ning Annisa menutup mukanya dengan kedua tangan.
Tidak sampai 30 menit, Rafael pun ke luar kamar dalam keadaan sudah mandi hanya saja dia memakai kimono handuk karena tadi tidak membawa baju ganti. Muka dia merah padam, betapa malunya dia karena tadi sudah ngompol di celana.
Kedua sejoli itu sama-sama dalam keadaan malu. Jadinya, memilih saling diam. Belum berani bicara. Ning Annisa, yang tadi sempat ngomel-ngomel, tetapi ketika dia dihadapkan dengan Rafael malah menciut nyalinya. Rasa malu dia lebih besar dari rasa kesalnya. Begitu juga dengan Rafael yang tadi sudah banyak hal yang ingin dia tanyakan pada istrinya itu, kini menguap hilang bersamaan dengan rasa malu yang amat sangat.
Kini keduanya sedang duduk di sofa. Saling diam tidak bersuara, tetapi sesekali mata mereka saling melirik. Namun, tidak berani bicara. Jantung mereka masih berdebar-debar dan belum stabil detakkannya.
__ADS_1
Rafael menangkap gerakan kepala dan lirikan mata dari istrinya. Namun, dengan cepat dia menunduk lagi. Dia juga sebenarnya melakukan hal yang sama. Diam-diam melirik ke arahnya dan langsung memalingkan wajahnya ketika melihat istrinya melirik ke arahnya.
Terdengar suara kumandang adzan Ashar. Lalu, keduanya pun berdiri. Rafael ke kamar mandi untuk berwudhu, sedangkan Ning Annisa menyiapkan baju muslim untuk suaminya.
Setelah Rafael ganti baju, dia pun pamit pergi ke masjid. Ning Annisa sendiri sholat di kamarnya.
***
Biasanya Rafael akan bermanja-manja kepada istrinya mau di mana pun mereka berada. Tidak peduli ada orang lain atau tidak. Namun, kali ini dia diam saja seperti anak kucing yang sedang sakit.
Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga. Berkumpul bersama meski hanya sebentar sambil menunggu waktu adzan Isya. Kegiatan ini sangat membantu mempererat hubungan di keluarga Rafael. Mereka bisa membicarakan sesuatu mau itu hal penting atau hal ringan dan sepele. Kalau dulu, mereka seakan tidak peduli satu sama lain, padahal mereka saling menyayangi.
"Kalian berdua kenapa? Apa sedang marahan?" tanya Indira sambil menelisik kedua anak muda itu secara bergantian.
"Tidak." Rafael dan Ning Annisa menjawab bersamaan. Lalu, keduanya saling melirik dan menunduk kembali.
"Kalau ada masalah bicarakan baik-baik, jangan menuruti emosi. Kalau kalian tidak bisa menyelesaikan masalahnya, bisa minta bantuan kepada kita," ucap Regan.
"Ada apa, sih? Mama suka kalau kalian berdua terlihat mesra seperti biasanya," tanya Indira.
***
__ADS_1
Bagaimana cara Rafael dan Ning Annisa agar tidak merasa canggung lagi? Tunggu kelanjutannya, ya!