
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 50
"Habis dari mana kamu?" tanya Adam.
Rafael dan kedua teman terkejut, saat melihat Adam berdiri dan menetap mereka dengan tajam. Rafael tahu kalau pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya.
"Habis dari rumah Kiai Akbar," jawab Rafael dengan tenang.
Sementara itu, Rizal dan Anton hanya dia mematung. Mereka baru saja datang dan tidak mengerti apapun keadaan di sana.
"Lain kali jika akan keluar malam hari harus lapor terlebih dahulu. Apa kamu tahu sudah membuat teman yang lain panik dan mencari keberadaan kamu?" Adam berkata dengan lembut setelah mengenal napasnya.
"Maaf Mas Adam lain kali tidak akan saya ulangi," ucap Rafael dengan rasa penuh penyesalan.
"Ya, sudah. Masuk sana … cepat tidur. Karena besok jam 03.00 kalian sudah harus bangun dan melakukan salat tahajud dilanjutkan dengan mengaji Alquran sampai waktu azan subuh." Ada ampun mau buka pintu.
"Terima kasih, Mas Adam. Kami masuk dulu." Rafael dan kedua temannya pun masuk ke ruangan yang ini sudah banyak ditempati oleh remaja seusianya.
Rafael pun mendatangi Ronald yang sedang duduk manis sendirian di atas tempat tidurnya sambil membaca sebuah buku. Dia pun langsung duduk di samping pemuda itu.
"Kamu sedang membaca apa sepertinya seru sekali?" tanya Rafael. Namun, Ronald diam saja tidak menjawab.
Anton dan Rizal pun mau melirik ke arah Ronald. Mereka melihat kalau temannya itu sedang dalam keadaan mood yang buruk.
"Kenapa lagi dia?" bisik Anton pada Rizal.
"Mana aku tahu? Dia itu seperti anak gadis yang sedang masa menstruasi, sering sensitif di saat-saat tertentu," balas Rizal sambil berbisik juga.
Kedua orang itu pun tertawa cekikikan dan membuat Ronald menatap tajam ke arah mereka. Namun, saat Rafael tersenyum kepadanya, dia memalingkan wajah dan pura-pura kembali membaca buku.
Sebagai teman yang sudah lama bersama, tentu saja Rafael tahu kalau saat ini Ronald sedang marah terhadap dirinya. Hanya saja dia tidak tahu apa yang sudah membuat temannya itu marah kepadanya.
__ADS_1
"Kamu marah kepadaku, ya?" tanya Rafael.
Anton dan Rizal saling berpandangan, mereka penasaran akan masalah apalagi yang sedang terjadi pada kedua temannya itu. Bukan hal yang aneh jika Rafael dan Ronald sering bertengkar. Bahkan untuk suatu perebutan yang remeh pun bisa menjadi masalah bagi mereka.
Ditanya seperti itu oleh Rafael, maka Ronald menutupkan buku yang sedang dibaca olehnya. Dia pun bergegas berbaring dan tidur.
"Dia sedang kedatangan tamu bulanan. Jadi, kamu harus bersabar, ya," ucap Rizal sambil menepuk bahu Rafael.
Suami dari Ning Annisa itu pun pergi dan berbaring di tempat tidurnya sendiri. Dia sedang dalam suasana hati yang gembira tidak mau dikotori oleh mood buruk sahabatnya itu.
Begitu juga dengan Rizal dan Anton mereka langsung membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Serta, membiarkan koper mereka masih bersandar di lemari baju.
'Awas kamu Rafael, akan aku bongkar kelakuan busuk kamu sama Kiai Akbar. Agar kamu di beri hukuman yang berat.' (Ronald)
'Ronald kenapa, ya?' (Anton)
'Aku rasa Ronald marah kepada Rafael. Masalah apalagi, sih!' (Rizal)
***
"Biar menghemat waktu, ayo, kita masuk bersama saja!" ajak Rafael.
"Yuk, cus, lah!" balas Anton dan Rizal bersamaan.
"Kalian saja, aku tidak mau," balas Ronald tanpa mengalihkan melihat kepada ketiga temannya itu.
Rafael, Rizal, dan Anton saling melirik dan berbicara lewat kode mata. Ketiganya tahu kalau Ronald masih marah terhadap salah seorang di antara mereka.
"Kamu punya masalah sama siapa?" tanya Rafael yang kini berdiri di hadapan Ronald.
"Bukan urusan kamu!" Ronald menatap tidak suka pada sahabat sejak masih dalam perut ibunya itu.
"Sepertinya kau sedang punya masalah denganku?" ujar Rafael sambil tersenyum miring.
"Sudahlah aku malas bicara dengan kamu." Ronald pun pergi ke luar dari kobong mereka.
__ADS_1
***
Semua kegiatan dapat dijalani dengan baik oleh keempat pemuda itu. Ternyata sudah banyak sekali santri peserta pesantren kilat yang datang hari ini. Mereka kebanyakan masih duduk di usia SMP. Namun, ada juga yang dari SMA kelas X.
Terlihat dengan jelas perbedaan fisik Rafael dan teman-temannya jika dibandingkan dengan santri yang lain. Poster tubuh mereka yang menjulang tinggi dan wajah bule campuran yang terlihat jelas.
"Kita akan berolahraga pagi. Kalian bebas mau melakukan kegiatan olahraga yang mana. Pilih sesuai dengan kesukaan kalian saja," kata Adam.
"Mas Adam, kita tadi basket, yuk! atau bermain sepak bola?" ajak Anton sambil memegang bola basket, lalu memantulkannya beberapa kali ke lantai.
"Boleh. Kalian, siapa yang mau ikut bermain basket pergi ke lapangan basket dan siapa yang ingin bermain sepak bola pergi ke lapangan sepak bola yang ada di sampingnya," titah Adam.
Tentu saja kegiatan ini mendapatkan sambutan gembira dari para santri dadakan itu. Mereka pun berbondong-bondong pergi ke lapangan. Ada yang menuju lapangan basket dan ada juga yang pergi menuju ke lapangan sepak bola.
***
Saat bermain basket pun Ronald tidak mau satu tim dengan Rafael. Jadinya, Anton satu tim dengan Rafael sedangkan Rizal satu tim dengan Ronald. Adam berada di pihak tim dan Musa berada di tim Rafael.
Mereka bermain dengan sangat seru, bahkan banyak penonton yang merasa ikut terhibur sekaligus tegang saat melihat permainan itu.
Sorak sorai penonton terus bergema ini lapangan basket. Orang-orang itu memberikan semangat untuk tim yang mereka dukung. Nama Rafael yang sering dielu-elukan oleh mereka. Sebab, dia yang paling banyak mencetak skor nilai.
Ronaldo sering sekali terlihat mengincar Rafael. Dia selalu berusaha merebut bola di tangan sahabatnya itu. Atau menabrakan badannya agar pemuda itu terjatuh.
Tentu saja hal ini membuat Anton dan Rizal merasa kesal terhadap Ronald. Mereka pun mendekati temannya itu dan memberi peringatan.
"Bermain yang bener, dong!" sindir Anton sambil merebut bola dari tangan Ronald.
"Kamu kalau lagi ada masalah dengan orang lain bicarakan dengan baik-baik. Jangan berbuat kasar, apalagi sampai beradu fisik," tambah Rizal, lalu dia pergi meninggalkan temannya itu.
Ronaldo dan Rafael pun saling menatap dari kejauhan. Tanpa mereka sadari Adam dan Musa memperhatikan keduanya.
***
Apa yang akan terjadi dengan hubungan persahabatan antara Rafael dan Ronald? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1