
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ๐๐๐๐๐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 51
Rafael tidak tahu apa yang menyebabkan Ronald marah terhadapnya. Namun, dia tahu pasti temannya itu punya alasan kenapa sampai bisa bersikap demikian.
Tidak mau pusing dengan tingkah Ronald padannya, Rafael pun pergi menjauhi darinya. Biasanya juga dia akan baikan sendiri.
"Kenapa, sih? Ronald marah sama kamu?" tanya Rizal saat berjalan posisikan dengan Rafael.
"Mana aku tahu? Sejak semalam dia tiba-tiba seperti itu kepadaku. Padahal sebelumnya kami baik-baik saja," jawab Rafael.
Permainan basket punย dilanjutkan kembali dan dari kejauhan terdengar teriakan histeris dari para santri putri. Mereka bersorak mengelu-elukan nama Rafael.ย
Entah dari mana para santri putri itu tahu nama Rafael. Padahal belum ada 24 jam tinggal di pesantren ini.
Ning Annisa dan Hajar yang kebetulan sedang lewat di sana, melihat sang suami sedang berolahraga. Sosoknya sangat terlihat keren, apalagi sehingga mudah tawanya yang membuat jantung dia berdebar.
'Kenapa, sih, Ayang malah basket sekeren itu? Jadinya, banyak santri putri yang melihatnya.' (Ning Annisa)
"Ada apa, Ning? Kenapa mau lihat ke arah lapangan basket? Hati-hati, lho! Nanti ada setan yang bisa menyusup ke dalam hati dan membisikan sesuatu," tanya Hajar menggoda temannya.
"Aku lagi lihat calon imam bagi keluarga aku kelak. Dia malah tebar pesona begitu," ucap Ning Annisa saat melihat Rafael melambaikan tangan pada para pendukungnya.
Hajar hanya tertawa terkece di balik cadarnya. Sebab, dia ingat kejadian semalam. Di mana dia mengira Rafael adalah seorang maling yang hendak masuk ke ndalem.
Ning Annisa juga hanya tersenyum tipis. Dia sebenarnya ingin berteriak memanggil nama suaminya seperti orang-orang di sana, ketika Rafael berhasil merebut bola dari tangan lawan.
'Ayang, keren banget!' (Ning Annisa)
'Calon imamnya Ning Annisa, jago main basket.' (Hajar)
__ADS_1
Ternyata tidak jauh dari sana ada Ustadz Azka yang juga sedang melihat ke arah lapangan basket. Tempat yang menjadi perhatian Ning Annisa saat ini. Di dalam hati laki-laki itu, Ning Annisa masih mempunyai tempat yang istimewa. Perempuan yang menjadi cinta pertama dan akan selalu dia kenang. Perempuan yang selalu mendukung dan pemberi semangat saat dulu sering kesusahan. Perempuan yang pernah ingin dijadikan calon istri. Perempuan yang sudah dia lukai hatinya.ย
Kini laki-laki itu hidup dalam perasaan bersalah, meski Ning Annisa sudah memaafkannya. Dia tetap saja merasa hidupnya tidak akan bahagia sebelum melihat sang pujaan hatinya.
Ning Annisa tanpa sengaja melihat ke arah Ustadz Azka. Kedua bola mata itu saling bersirobok. Ustad Azka pun langsung menundukkan kepalanya, karena dia tidak punya hak untuk saling menatap dengan perempuan itu.
Rafael yang sedang bermain basket dan merasakan kehadiran istrinya tidak jauh dari sana. Dia berniat untuk menyapanya, tetapi Ning Annisa sedang mengalihkan perhatiannya kepada seorang laki-laki yang berdiri agak jauh dari lapangan.
'Apa Ning Annisa sedang melihat ke arah ustadz itu, ya?' (Rafael)
"Permainan berakhir! Kita istirahat sambil makan sarapan." Adam memberi perintah pada orang-orang yang ada di sana.
Kini perhatian Rafael masih tertuju kepada sang istri.ย Dia melihat kalau Ning Annisa sedang memperhatikan seorang laki-laki yang sedang berdiri di ujung lapangan. Ada perasaan tidak suka akan pemandangan itu.
'Apa Cinta dan laki-laki itu punya hubungan dekat?' (Rafael)
"Rafael, ayo!" teriak Rizal.
Rafael memutuskan untuk mengikuti langkah teman-teman pergi menuju kobong untuk sarapan bersama. Dia tidak mau marah-marah atau cemburu buta. Pemuda itu yakin kalau istrinya itu akan bicara nanti.ย
Ning Annisa sendiri sangat terkejut saat dia melihat Rafael sedang memperhatikan dirinya ketika dia melihat ke arah Ustadz Azka. Sosok laki-laki yang pernah menghiasi hatinya. Pria yang pernah memberikan harapan dan impian akan masa depannya yang indah bersama dengannya dulu.
Saat makan sarapan semua mengantri dengan rapi karena ada Adam yang mengawasi dan menyuruh mereka berjajar sesuai urutan. Setiap ada anak yang mencoba menyelinap atau menyerobot pasti akan ditegur dan disuruh antri ke urutan belakang.
"Belajar yang disiplin dan bersabar. Jangan berbuat seenaknya dan merugikan orang lain. Datang yang duluan antri paling depan dan yang datang paling terakhir antri dibelakang," kata Adam.
Makanan yang disajikan pun sederhana yang penting banyak mengandung gizi yang diperlukan oleh tubuh. Menu yang disajikan tiap makan juga bervariasi agar para santri tidak bosan.ย
"Oops, sorry. Tidak sengaja," kata Rafael.
Rafael tidak sengaja menumpahkan kuah makanannya pada Ronald yang berdiri di depannya. Sebab, orang di belakangnya menabrak Rafael.
Ronald membalikan badannya, dia menatap nyalang pada temannya itu. Terlihat matanya memerah, menandakan kalau saat ini saat marah.
__ADS_1
"Kamu sengaja!" bentak Ronald menuduh Rafael.
Suara nyaring lelaki itu membuat yang ada di dekatnya mengalihkan perhatian mereka. Termasuk Rizal dan Anton yang antri di depan Ronald.
"Hei, kenapa lagi?" Rizal membalikan badannya dan menghadap ke arah temannya itu.
"Buat apa sengaja melakukan hal itu sama kamu. Aku juga sudah meminta maaf barusan sama kamu," bantah pemuda yang memakai baju Koko tangan tiga perempat.
"Ngaku saja, deh! Kamu sedang cari gara-garakan sama aku," tuduh remaja berperawakan tinggi.
Melihat temannya mulai mendramatisir keadaan, membuat Rafael berusaha tidak ikut terpancing. Dia sudah janji kepada istrinya untuk tidak berbuat onar selama mencari ilmu di pesantren.
"Tuh, orang yang di belakang menabrak aku sampai kuahnya tumpah ke baju kamu," jelas Rafael dengan tenang.
"Bohong. Aku tahu sifat licik kamu," ujar Ronald.
Rizal dan Anton mencoba menenangkan kedua temannya. Namun, hal ini malah memperkeruh suasana di area kobong mereka.
"Kalian berdua jangan meributkan masalah sepele seperti ini," ucap Anton yang wajahnya terlihat sangat kesal. Lalu, dia menarik tubuh Ronald yang maju seperti mau mengintimidasi Rafael.
"Jangan ganggu! Ini urusan aku dengan dia!" tunjuk Ronald kepada Rafael.
Adam yang melihat adanya pertengkaran di dekat meja prasmanan. Lalu, dia pun mendatangi mereka yang sedang berdiri.
"Ada apa ini?" Adam berdiri di dekat keempat pemuda itu.
Baik Rafael maupun Ronald tidak ada yang menjawab. Keduanya malas jika harus membicarakan lagi apa yang yang sudah terjadi barusan di antara mereka.
"Jawab! Atau kalian semua akan diberi hukuman," desak Adam.
***
Apakah mereka akan mendapatkan hukuman atau lolos? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1