Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 52. Terbongkar


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 52


"Ada apa ini?" Adam berdiri di dekat keempat pemuda itu.


Baik Rafael maupun Ronald tidak ada yang menjawab. Keduanya malas jika harus membicarakan lagi apa yang yang sudah terjadi barusan di antara mereka.


"Jawab! Atau kalian semua akan diberi hukuman," desak Adam.


Rafael pun maju ke depan dan menjawab, "Aku tidak sengaja menumpahkan kuah makanan ke baju Ronald. Karena orang di belakangku mendorong tubuhku tidak sengaja, mungkin karena kita semua sedang berdesak-desakan antri untuk mengambil makanan."


Adam pun memperhatikan tubuh Ronald yang bagian depan nampak bersih dan di belakangnya kotor dengan noda kuah berwarna kuning dari kuah sayur. Namun, dia nampak melihat wajah Ronald yang sedang tidak bersahabat.


"Apa kamu sudah mau minta maaf kepadanya?" tanya ketua kobong itu pada Rafael.


"Tentu saja aku sudah terlebih dahulu meminta maaf kepadanya, Mas Adam," jawab suami Ning Annisa.


"Lalu, kenapa dari sampai terjadi ribut-ribut?" Adam memperhatikan orang-orang yang berdiri di sana melihat ke arah mereka.


"Itu karena aku merasa kalau Rafael sengaja melakukan hal ini kepadaku," balas Ronald.


Rafael tidak suka akan tuduhan temannya ini. Dia pun memutar bola matanya karena rasa kesal.Β 


"Tidak ada untungnya sama sekali buat aku untuk melakukan hal itu kepadamu dengan sengaja," bantah Rafael.


"Kamu jangan cari gara-gara!" Rizal ikut menimpali.


"Iya. Masalah seperti begini jangan membuat persahabatan kita rusak." Anton pun ikut-ikutan.


Rizal dan Anton yang mulai kesal dengan sikap kedua temannya itu, maka mereka pun ikut meramaikan suasana di sana. Jadinya, saat ini ada empat orang pemuda yang saling bersitegang dan cekcok.


"Berisik! Bisa diam nggak!"

__ADS_1


Adam yang semakin pusing mendengar pertengkaran keempat orang itu. Akhirnya, dia berteriak dan meminta keempatnya berdiri di depan pintu gerbang sampai teman-teman yang lainnya selesai makan.


"Pokoknya kalian semua akan harus berbaikan dan saling meminta maaf, sebelum makan sarapan nanti!" perintah Adam.


Meski dengan berat hati dan ogah-ogahan, Rafael dan Ronald saling meminta maaf. Keduanya tahu kalau mereka mendapatkan hukumanΒ di hari sebelum dimulainya kegiatan belajar, akan memberikan kesan dan nilai buruk pada diri mereka dihadapan orang lain.


***


Ternyata Ronald mendatangi Kiai Akbar di ndalem sebelum masuk waktu Zuhur. Untuk memberitahu apa yang sudah dilakukan oleh Rafael dan Ning Annisa di kamar.


"Itu yang saya lihat, Pak Kiai," kata Ronald.


"Semalam Bapak tahu kalau Rafael datang ke sini dan Ning Annisa sendiri yang membawanya ke kamar," balas Kiai Akbar.


Mendengar pengakuan Kiai Akbar ini membuat Ronald sangat terkejut. Dia tidak menyangka kalau seorang Kiai membiarkan putrinya berduaan dengan seorang laki-laki.


"Bukannya dosa jika seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berduaan. Apalagi mereka di kamar dan berbuat sesuatu hal yang dilarang. Karena mereka bukan pasangan suami istri," ucap pemuda campuran orang asing.


"Tentu saja hal itu dosa jika dilakukan bukan dengan muhrimnya. Akan tetapi, Ning Annisa dan Rafael punya hubungan yang halal, tentu saja mereka tidak berdosa," jelas laki-laki paruh baya itu sambil tersenyum lembut.


Ronald tidak mengerti maksud ucapan dari Kiai Akbar. Sebab, setahu dia kalau Rafael tidak punya saudara atau sanak family yang berasal dari kalangan pesantren.


"Kabar ini memang belum terpublikasi secara umum. Kalau Ning Annisa dan Rafael sudah menikah setengah tahun yang lalu. Hanya saja pernikahan mereka disaksikan oleh dua keluarga besar masing-masing mempelai dan beberapa orang saksi penting lainnya," ungkap laki-laki tua berjubah putih ini.


"A-pa?" pekik Ronald sangat terkejut.


Pemuda ini bagai terkena sambaran petir di siang hari tanpa adanya hujan atau mendung. Suatu kabar yang sangat mengguncang jiwanya. Sebab, sang pujaan hati ternyata sudah menjadi milik orang.


"Bapak harap Nak Ronald bisa menjaga rahasia ini. Jangan bongkar dulu di lingkungan sekolah nanti, ya!" pinta ayah dari Ning Annisa.


Ronald hanya diam mematung. Hatinya sangat sakit saat mengetahui gadis yang merupakan cinta pertamanya itu merupakan istri dari sahabatnya sendiri. Dia teringat kembali ucapan Rafael dulu saat mengatakan kalau Ning Annisa sudah punya seorang pasangan dan memintanya jangan mengharapkan perempuan itu untuk jadi kekasihnya.


'Rafael, kenapa kamu tidak jujur saja dari dulu kalau neng Anisa adalah istrimu.' (Ronald)


"I-ya, Pak Kiai," balas pemuda yang kini wajahnya pucat.

__ADS_1


***


Rafael sedang berkumpul dengan para santri putra lainnya mereka saling mengakrabkan diri. Mereka berselonjoran di teras masjid sambil menunggu waktu azan Zuhur. Tentu saja sekumpulan anak muda yang masih remaja itu membuat ramai suasana masjid Al ikhlas. Canda tawa terdengar saling bersahutan di sana.Β 


"Ada apa ini? Ramai sekali di sini."


Saat mereka sedang larut dalam suasana gembira, datang Ustadz Azka. Dia menegur anak-anak muda itu. Seketika para pemuda itu langsung diam.


"Sebaiknya kalian menghabiskan waktu untuk sesuatu yang bermanfaat. Bukan bersenda guru dan tertawa terbahak seperti barusan," kata Ustadz Azka.


"Ambillah wudhu! Lalu, belajar mengaji atau kalian bisa berdzikir. Akan bagus kalau kalian berdiskusi tentang ilmu agama. Gunakanlah waktu yang kalian punya sebaik mungkin. Jangan kalian sia-siakan sesuatu yang sangat berharga ini karena tak akan pernah kembali lagi," lanjut pria berwajah teduh.


'Bukannya dia ini adalah laki-laki yang tadi terus memperhatikan Cinta, ya?' (Rafael)


Rafael melihat, menelisik, dan menilai sosok Ustadz Azka yang kini berdiri di depan pelataran masjid. Lalu, dia pun memutuskan untuk mengambil air wudhu. Niatnya ingin melanjutkan hafalan miliknya sambil menunggu waktu adzan.


Ternyata Ustadz Azka pun bersamaan dengannya mengambil air wudhu. Dia berdiri di samping Rafael.


Sebenarnya guru itu diam-diam memperhatikan Rafael. Dalam hatinya apa perasaan menggelitik, entah kenapa dia merasa Ning Annisa tadi pagi memperhatikan pemuda ini saat bermain basket.


Saat di dalam masjid pun Ustadz Azka masih memperhatikan Rafael setelah mereka menyelesaikan salat tahiyatul masjid. Dia penasaran akan identitas pemuda ini.


"Rafael?"


Rafael yang sedang mengaji menghentikan bacaannya begitu selesai ayat terakhir. Dia melihat ada Gus Fathir yang duduk di sampingnya.


"Gus Fathir, ke mana saja?" tanya Rafael sambil mencium tangan kakak iparnya.


"Mencari calon bidadari surga," jawabnya sambil berbisik.


Rafael mengerutkan keningnya. Dia teringat akan ucapan istrinya kalau kakak iparnya ini masih duda dan sedang menanti seorang perempuan yang menjadi sosok cinta pertamanya.


"Siapa calon bidadari surga itu?" tanya pemuda yang selalu penasaran dengan keadaan di sekitarnya.


***

__ADS_1


Buat yang sudah baca "DZIKIR CINTA SANG PENDOSA" tahu siapa calon bidadari surga yang dimaksud oleh Gus Fathir. Kubu para pria dewasa masih saling berebutan belum ada yang jadi pemenangnya πŸ˜πŸ˜….


Bagaimana kisah Rafael dan Ning Annisa selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2