
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 17
Rafael berangkat ke sekolah seperti biasa. Dia merasa sangat senang saat neng Anisa mencium tangannya, sedangkan dia mencium kening istrinya. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat berarti dan memberikan semangat untuknya dalam memulai harinya.
"Cinta~. Aku berangkat duluan, ya!" Rafael pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang, karena tadi istrinya sudah mengingatkan dia jangan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
Mulut Rafael tidak berhenti bernyanyi mengungkapkan rasa bahagianya dia saat ini. Meski baru bisa menyentuh tangan dan mencium pipi serta keningnya, itu sudah membuat dia bahagia.
Begitu sampai pintu gerbang sekolah, Rafael bisa melihat beberapa teman geng dia sedang menunggu dirinya di tempat biasa mereka mangkal. Sambil menunggu bunyi bel masuk, mereka bisa cuci mata melihat para gadis yang baru masuk ke sekolah.
"Yasmin, tuh!" ucap Rizal dengan memonyongkan bibirnya ke arah seorang perempuan cantik dan anggun yang baru turun dari mobil mewah yang dikendarai oleh sopir pribadinya.
Rafael sudah memasang kuda-kuda kabur jika perempuan itu bersikeras menghadang dan mengajak dirinya untuk nongkrong. Sejak dulu dia paling tidak suka, jika seseorang memaksa dirinya, kecuali Ning Annisa.
"Rafael~, Sayangku ~!" Yasmin berlari ke arah Rafael yang kini langsung berlari meninggalkan kumpulan temannya.
"Aku harus pergi ke kelas karena saat ini akan diadakan kerjasama kepada semua murid yang berprestasi," kata Rafael sebelum pergi.
"Rafael, tunggu!" Yasmin berteriak.
Rafael sengaja menjauh dari wanita itu. Hanya saja Yasmin bukanlah seorang perempuan yang mudah menyerah begitu saja. Gadis berambut panjang bergelombang itu akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kenapa si Rafael selalu menolak Yasmin? Bukannya dia primadona di sekolah ini dan banyak disukai oleh para murid laki-laki, bahkan beberapa guru pria yang magang pun suka padanya." Anton bertanya pada Rizal, tetapi tidak mendapat tanggapan.
Ning Annisa yang baru sampai ke sekolah melihat adegan barusan. Dia juga merasa aneh, kenapa Rafael dari dulu selalu menjauhi Yasmin.
__ADS_1
***
"Rafael, kamu udah Ronald masih marahan, ya?" tanya Rizal saat melihat keduanya tidak tegur sapa sepeti biasanya.
"Dia yang memulai permusuhan ini. Biarkan saja dia yang meminta maaf terlebih dahulu," jawab Rafael.
Rizal pun hanya diam karena kedua temannya itu sama-sama keras kepala. Biasanya mereka akan perbaikan sendiri seiring berjalannya waktu.
"Paling juga mereka marahan tidak akan lebih dari satu minggu," ucap Anton.
"Iya, kamu benar. Buat apa kita pusing-pusing memikirkan mereka berdua," timpal Rizal sambil manggut-manggut.
Kegiatan belajar mengajar pun berjalan dengan aman dan damai. Ini karena kedua murid pembuat onar sedang sama-sama diam. Suasana seperti itu kurang menyenangkan bagi para murid, terasa membosankan. Jadinya, mereka tidak semangat dalam mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru.
Waktu istirahat datang dan semua murid berhamburan keluar kelas termasuk dengan Rafael dan teman gengnya. Mereka semua pergi menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Anton kepada Rafael.
Biasanya anda dan hari ini akan memesan makanan dan Rafael yang akan mencari tempat untuk mereka makan nanti. Meski Ronald sedang bermusuhan dengannya, mereka masih duduk di satu meja untuk makan siang.
Keempat pemuda remaja itu pun makan bersama di meja paling pojok. Canda tawa menghiasi meja itu dan terlihat kalau Ronal dan Rafael sudah bisa bicara satu sama lain.
Tidak lama kemudian datang Ning Annisa dan beberapa guru lainnya ke kantin itu. Meja yang biasanya mereka pakai gini ditempati oleh Rafael dan teman-temannya. Maka, Ning Annisa pun mau milih keluar dari ruang kantin itu mencari tempat yang agak sepi dan tersembunyi.
Rafael melihat istrinya dan ingin menyapa. Namun, dia tidak bisa melakukan hal seperti ini di depan orang lain, apalagi sekarang di kantin begitu penuh dengan para siswa dan juga guru yang sedang makan.
Ternyata Ronald pun mau memperhatikan Ning Annisa semenjak masuk ke gedung kantin sampai pergi bersama kedua teman baiknya. Dia masih terpesona oleh guru magang itu.
Rafael yang menyadari kalau Ronald sedang memperhatikan istrinya merasa sangat kesal kembali. Dia rasanya ingin kembali menonjok wajah temannya itu. Hanya saja dia teringat kembali akan janjinya kepada Ning Annisa, untuk tidak melakukan pelanggaran hukum lagi di sekolah.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, mau ke toilet dulu," kata Rafael sambil berdiri.
Dia pun berjalan dengan cepat keluar dari kantin. Sebenarnya dia ingin menemui perempuan bercadar yang statusnya sudah halal bagi dia.
"Cinta, ke mana, ya?" gumam Rafael sambil mengedarkan penglihatannya menelusuri semua tempat yang dia lewati.
Meski sudah berkeliling tidak menemukan sosok perempuan yang dicarinya itu. Akhirnya dia harus menyerah karena bunyi bel tanda masuk sudah terdengar.
"A-h, malah berbunyi belnya. Apa tidak bisa diundur 5 menit saja," gerutu Rafael sambil melangkahkan kakinya menuju ruang kelas tempat dia belajar.
***
Setelah pulang sekolah, Rafael dan teman-temannya seperti biasa bermain di markasnya yang dekat dengan sekolah. Biasanya mereka akan bermain game untuk menghibur hati mereka. Namun, kali ini Rafael menolak ajakan itu dan meminta semua temannya untuk ikut belajar mengaji. Tentu saja hal ini membuat terkejut semua temannya yang itu.
"Apa? Mengaji?" pekik ketiga pemuda tengil itu kompak.
"Semenjak masuk SMP aku sudah nggak ngaji. Pastinya bacaan aku akan terbata-bata," kata Rizal.
"Apalagi aku. Sejak duduk di kelas 6 SD karena sibuk les, aku nggak mengaji. Jadi, malas sampai sekarang. Sholat saja kalau lebaran," sambung Anton.
"Sehati kita, Bro!" Rizal merangkul Anton.
Rafael dan Ronald yang sejak orok selalu bersama, tahu betul kalau mereka berdua tidak pernah mendapatkan pendidikan agama. Mereka hidup dilingkungan yang mengutamakan pendidikan formal dan mengabaikan ilmu agama. Jadinya, mereka tidak tahu apa-apa. Pelajaran agama di sekolah juga tidak terlalu ditekankan pada murid-muridnya.
"Bagus kalau begitu. Ini bisa mengasah kembali ilmu kalian yang sudah karatan. Ayo, kita belajar mengaji sama-sama!" ajak Rafael.
"Kenapa kamu tiba-tiba saja ingin belajar mengaji?" tanya Rizal dengan tatapan penuh selidik.
"Iya. Aku curiga pasti ada udang di balik batu, nih!" ujar Anton dengan tatapan mengintimidasi minta penjelasan yang jujur.
__ADS_1
***
Jawaban apa yang akan diberikan oleh Rafael? Tunggu kelanjutannya, ya!