Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 15. Hukuman


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 15


Rafael mencium pipi Ning Annisa dengan perlahan dan lembut. Dia diam beberapa saat menikmati kelembutan pipi chubby istrinya. Dia inginnya menggeserkan lagi bibirnya agar bisa mencium bibir Ning Annisa.


Ning Annisa merasakan tubuhnya dialiri sengatan listrik yang mengejutkan dan jantungnya juga berdebar kencang. Namun, di sudut hatinya ada perasaan asing. Dia bisa merasakan hangat dari bibir Rafael di kulit pipinya. 


'Ya Allah, jangan sampai aku pingsan!' Ning Annisa sudah merasa tidak sanggup menahan debaran jantungnya saat Rafael merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan hangat dia. Dia bingung harus apa sekarang. Mendorong tubuh suaminya atau membalas pelukannya.


Rafael menggunakan instingnya saat ini. Dia memeluk tubuh istrinya dan tidak melepaskan ciuman di pipi mulus itu. Perlahan tapi pasti dia membaringkan tubuh mereka sampai Ning Annisa memukulnya.


"Jangan melewati batas Rafael!" teriak Ning Annisa yang kini berada di bawah tubuh pemuda itu. Terlihat ekspresi wajahnya sangat kesal.


Rafael langsung menegakkan badannya dan meminta maaf. Dia sangat takut kalau Ning Annisa marah dan tidak mau lagi bersama dengannya.


"Cinta~. Maafkan aku," ucap Rafael sambil menangkupkan keduanya di depan muka dia.


Ning Annisa pura-pura marah sama Rafael. Dia ingin memberinya pelajaran agar tidak berbuat seenaknya sendiri.


"Ayang, tahu nggak? Kalau tadi itu sudah berbuat melebihi kesepakatan kita. Maka, kamu harus di hukum," kata Ning Annisa.


Rafael memasang raut wajah yang pasrah. Dia menerima apa saja yang jadi hukuman untuknya.


"Apa hukumannya?" tanya Rafael dengan lirih.


"Ucapkan kata 'Astaghfirullahal'adzim' 100 kali dengan penuh penyesalan," jawab Ning Annisa.


Rafael merasa senang dengan hukumannya ini. Dia tadi sudah membayangkan yang tidak-tidak. Maka dengan penuh perasaan dia mengucapkan kata istighfar itu.


"Astaghfirullahal'adzim … astaghfirullahal'adzim," katanya dengan pelan dan lirih dengan mata yang terpejam.


Hati Rafael tiba-tiba bergetar sampai ke tubuhnya. Air matanya luruh tanpa bisa dia cegah. Dalam hatinya ada perasaan penyesalan yang sangat dalam karena selama ini dia sangat jauh dari Sang Pencipta. Entah kenapa dia jadi seperti ini. Hanya mengucapkan kata istighfar dengan rasa penuh penyesalan, tiba-tiba saja semua gambaran perbuatan dia selama ini yang jauh dari Tuhannya, seperti potongan video yang di perlihatkan di depan matanya.


Ning Annisa yang melihat itu, hatinya juga ikut bergetar. Dia bisa merasakan kalau saat ini Rafael sedang menyesali semua perbuatannya dahulu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Rafael merasakan sentuhan hangat dan lembut di pipinya. Saat dia membukakan mata, istrinya dengan menyapukan tangan di pipinya.


Senyum Ning Annisa membuat jantung Rafael kembali bertalu-talu. Dia merasa sangat bahagia bisa mendapatkan perempuan seperti Ning Annisa. Meski dia lebih tua dan lebih banyak ilmunya dari dia, tetapi tidak memandang rendah dirinya sebagai seorang suami.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Ning Annisa.


Rafael terhenyak dan memikirkan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Baru dia sadari sekarang kalau ada yang berbeda dengan perasaannya.


"Aku merasakan ada perasaan ringan dan merasa tenang," jawab Rafael dengan perasaan heran.


"Itu karena Ayang sudah mengakui kesalahan dan perbuatan dosa yang sudah dilakukan. Lalu, menyesali sudah melakukan perbuatan itu. Semua saraf dalam tubuhmu memberikan respon positif," jelas Ning Annisa.


Rafael tidak tahu harus berkata apa lagi. Apa yang dikatakan oleh istrinya itu adalah benar. Dia sangat menyesali perbuatannya dahulu.


"Ingatkan aku, jika aku kembali melakukan dosa seperti dulu," kata Rafael dengan tatapan memohon pada Ning Annisa.


"Iya. Itu adalah tugas kita sebagai pasangan suami istri. Jika, salah satu di antara kita melakukan kesalahan karena khilaf, maka yang lainnya harus mengingatkan dengan cara yang baik, tanpa melukai perasaannya," balas Ning Annisa dengan senyum manis terukir di wajahnya.


Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22:00:00 sudah waktunya mereka tidur. Saat hendak tidur Rafael langsung berbaring begitu saja. Tentu hal ini mendapat teguran dari Ning Annisa.


"Ayang, baca doa dulu," kata Ning Annisa sambil menggoyangkan lengan Rafael.


"Setidaknya minimal ucapkan 'Bismillah' dulu. Biar tidur jadi ibadah," kata Ning Annisa.


"Bismillah," lirih Rafael sambil bergumam.


"A-h, sayang sekali. Nggak akan di kasih ciuman selamat malam, karena sudah tidur," goda Ning Annisa.


Mata Rafael langsung terbuka dan dia membalikan badan menatap Ning Annisa. Dia meyakinkan kalau tidak salah dengar tadi.


"Aku belum tidur benar. Ayo, mana ciuman selamat malamnya," kata Rafael sambil memonyongkan bibirnya.


"Baru akan dikasih, jika sudah membaca doa sebelum tidur, baca sholawat, dzikir, dan surat-surat pendek Al-Qur'an," balas Ning Annisa.


Mendengar itu Rafael langsung menciut. Dia pun membalikan badannya lagi dan tidur. Dia merasa tidak hafal dengan yang diminta oleh Ning Annisa.


Melihat Rafael yang kembali tidur, membuat Ning Annisa kecewa. Namun, dia tidak boleh terlalu memaksakan pada Rafael yang baru belajar mengenal agamanya.

__ADS_1


'Masih ada hari esok. Harus dilakukan secara perlahan-lahan,' batin Ning Annisa, lalu dia pun berdoa dan membaca sholawat, dzikir, dan surat-surat pendek.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 03:15:25, Ning Annisa pun bangun membangunkan Rafael. Dia berniat mengajaknya sholat tahajud bersama.


"Ayang, bangun!" Ning Annisa mencoba membangunkan Rafael.


Meski mencoba beberapa kali, suaminya itu tetap bergeming. Akhirnya, dia pun pergi ke kamar mandi. Setelah dia gosok gigi dan berwudhu, Ning Annisa membawa air ke wadah dan mencipratkan ke muka Rafael.


"Hujan … hujan!" Rafael berteriak dan bangun terduduk.


Sementara itu, Ning Annisa menatapnya sambil berdiri di samping ranjang. Dia ingin membiasakan Rafael bangun dini hari sebelum subuh.


Rafael kini tersadar kalau dirinya masih berada di kamar tidur. Dia melirik ke arah Ning Annisa yang sedang memegang gelas.


"Cinta~ ada apa, sih!" Rafael sangat kesal karena tidurnya sudah terganggu.


"Bangun, kita sholat tahajud bersama," ucap Ning Annisa.


Rafael pun turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian dia sudah keluar dalam keadaan lebih segar.


"Aku sudah siapkan baju Koko dan sarungnya," kata Ning Annisa sambil menunjuk pada kain yang teronggok di ujung tempat tidur.


Rafael pun ganti baju dengan setelan baju koko dan sarung. Ini pertama kali bagi Rafael memakai sarung.


"Ayang berdiri di samping aku. Selama Ayang belum bisa menjadi imam sholat, saat ini kita niatnya munfarid, ya," kata Ning Annisa.


Rafael mendengarkan cara-cara yang diberi tahu oleh Ning Annisa. Dia juga belajar dulu iqomat dan berapa rakat yang harus dia kerjakan.


Begitu Ning Annisa takbir, Rafael juga ikutan takbir. Ning Annisa membaca bacaan dalam solat dengan lirih, tetapi Rafael bisa mendengarnya karena keadaan sangat hening. Dia pun mengikuti dalam hati. Saking fokusnya mendengarkan bacaan sholat Ning Annisa, Rafael tidak sadar kalau ikatan sarungnya terlepas.


"Sami'allahu liman hamidah" (Allah mendengar pujian dari orang yang memujiNya)."


Ning Annisa bangkit dari ruku' dan Rafael pun mengikutinya. Namun, di saat bersamaan sarungnya terlepas dan melorot sampai ke kaki. Memperlihatkan kolor box_er dan kakinya. Mata Rafael melotot melihat sarungnya kini jatuh di mata kakinya.


'Ya Allah, sarungnya terlepas! Harus bagaimana ini?'

__ADS_1


***


😁😁 Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Rafael? Tetap melakukan sholat atau membatalkan sholatnya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2