
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 25
Hari-hari Rafael diisi dengan belajar dan menghafal ayat-ayat Alquran. Setidaknya untuk semester ini pemuda itu ingin mendapatkan nilai yang lebih baik dari yang sebelumnya.
"Ujian tinggal satu bulan lagi, apa benar kamu akan menghabiskan liburan nanti di pesantren?" tanya Rizal kepada Rafael yang duduk di depannya sedang memakan bakso.
"Tentu saja itu sudah keinginan bulat aku. Apa kalian mau juga ikut ke pesantren yang ada di suatu desa dan jauh dari kota?" tanya Rafael kepada ketiga temannya.
Ketiganya saling melirik, mereka bertanya lewat tatapan mata. Apa ingin menghabiskan waktu bersama Rafael atau punya kegiatan masing-masing lainnya.
"Aku harus bertanya dahulu kepada mami dan papi. Apa mereka setuju aku ikut bersama denganmu atau tidak," jawab Anton yang biasanya suka ngintil Rafael jika pergi liburan.
"Aku juga sama, harus bertanya dulu sama mommy dan Daddy. Apa aku diizinkan ikut bersama kamu atau tidak? Kebetulan liburan kali ini aku sedang malas berkunjung ke rumah nenek," kata Ronald yang punya nenek di Italia.
Lalu, yang lainnya mengalihkan perhatian ke arah Rizal. Pemuda itu malah asyik makan.
"Apa? Asal kalian tahu kalau mama dan papa aku itu malah menyuruh untuk ikut pergi ke pesantren bersama Rafael. Entah tahu dari mana mereka kalau kamu akan pergi ke pesantren, untuk menghabiskan masa liburan kali ini," ucap Rizal denah memasang wajah yang kesal.
Rafael hanya diam saja, karena dialah yang memberitahu kedua orang tua sahabatnya ini. Dia berharap kalau Rizal juga bisa ikut menghabiskan waktu bersama dengannya di Pesantren Al-Huda. Sebab dia tahu kalau orang tua sahabatnya ini, selalu berharap anaknya selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan dalam beragama. Dia pun memilih diam pura-pura tidak tahu.
"Bukannya akan seru kalau kita berempat menghabiskan waktu bersama di suatu tempat dengan hal yang baru dan belum pernah kita coba sebelumnya," ucap Rafael.
__ADS_1
Ketiga pemuda labil itu pun selalu melirik kembali. Dalam banyak mereka memang hal seperti ini belum pernah mereka coba sebelumnya. Ada rasa tantangan tersendiri bagi mereka.
"Setidaknya kita juga bisa belajar sekalian bermain di sana," lanjut Rafael.
"Apa di sana ada santri perempuan?" tanya Anton penasaran.
"Tentu saja ada!" jawab Rafael yang sering gemas dengan temannya ini, semangat jika melihat wanita cantik atau seksi.
Rerlihat raut wajah Anton berubah menjadi bersemangat dan tatapan matanya yang berbinar. Pemuda ini tanpa ragu-ragu langsung setuju untuk ikut bersama Rafael.
"Sekarang tinggal Ronald yang belum pasti mau ikut atau enggak," ucap Rafael sambil melihat ke arah pemuda yang sedang menyuapkan bakso ke mulutnya.
Ronaldo berpikir kalau sekarang adalah liburan terakhir mereka di masa SMA. Dia ingin mengisi liburan kali ini dengan sesuatu yang spesial. Serta akan menjadi sesuatu yang indah, saat dia kenang di masa nanti.
"Aku akan bicarakan hal ini dulu dengan mommy dan daddy. Baru aku beritahu kalian keputusannya nanti," tukas Ronald.
***
Setelah kejadian itu, Ning Annisa menyuruh Rafael memakai cel-ana da-lam di kamar mandi. Jangan sampai kejadian dahulu terulang kembali.
Ning Annisa menyerahkan benda itu lewat balik pintu. Dia masih belum siap untuk melihat tubuh milik suaminya. Meski dia akui kalau Rafael mempunyai bentuk tubuh yang proporsional, idaman para laki-laki dan wanita.
Rafael keluar kamar mandi dengan memakai kimono handuk. Juga handuk yang dipakai untuk mengeringkan rambut. Pemandangan ini terlihat indah di mata Ning Annisa.
"Ayang, jangan menggosok rambut seperti itu," kata perempuan itu beralasan.
__ADS_1
"Keringkan, dong, Cinta!" pinta Rafael dengan suara yang manja.
"Sini!" Ning Annisa meminta rapat untuk duduk di kursi meja riasnya.
Setelah Rafael duduk dengan anteng, Ning Annisa pun mengeringkan rambut Rafael dengan menggunakan hair dryer. Hal ini merupakan salah satu kegiatan yang disukai oleh sang gadis, saat bersama dengan suaminya.
Rambut Rafael yang terasa halus di tangan. Membuat Ning Annisa senang membelainya. Begitu juga hal seperti ini merupakan kegiatan yang disukai oleh Rafael. Sebab, di saat seperti ini, dia bisa bermanja-manja kepada istrinya.
"Sudah selesai. Siapa sih, laki-laki tampan ini?" Ning Annisa menggoda Rafael.
"Kenalkan, aku suaminya Ning Annisa yang sering bisa bikin dia merinding disko," ucap Rafael.
"Sudah sana kamu pergi belajar!" titah Ning Annisa sebelum dia pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.
***
Terlihat Ronald keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah temannya yang sedang berkumpul di tempat biasa. Wajahnya yang tengil itu menyeringai dengan lebar saat teman-temannya mengalihkan perhatian mereka terhadap dirinya.
"Hai, sepertinya aku akan ikut kalian," kata Ronald begitu dia sampai di tempat berkumpul teman-temannya.
Ketiga pemuda yang ada di sana menyeringai dengan lebar. Akhirnya, mereka semua bisa liburan bersama.
"Hore! Akhirnya, kita akan liburan bersama lagi," ujar Anton dengan semangat dan mereka pun bertos silih berganti.
'Hehehe, akhirnya aku akan punya teman yang masih bodoh dalam urusan agama. Jadi, nanti aku nggak akan terlalu malu saat tidak bisa atau tidak tahu apa-apa.' (Rafael)
__ADS_1
***
Bagaimanakah mereka akan menghabiskan waktu liburan di pesantren? Tunggu kelanjutannya, ya!