
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 44
Rafael, Ronald, dan Musa bertemu dengan Ning Annisa saat mereka berjalan dekat pagar gerbang ndalem. Ronald sangat terkejut melihat perempuan bercadar yang dia yakini sebagai Ning Annisa, guru magang yang dia sukai.
'Apa ini sungguhan Ning Annisa?' (Ronald)
Rafael dan Ning Annisa saat berjalan berlawanan arah, sempat saling menggenggam tangan. Hal seperti ini saja sudah membuat Rafael senang.
'Ih, istri aku lucu, bikin gemes.' (Rafael)
Sepanjang perjalanan mereka melakukan safari berkeliling kompleks pesantren, wajah Rafael terus mengulas senyum tampannya. Tidak jarang itu membuat santriwati atau orang-orang yang kebetulan datang ke pesantren terpesona akan senyum tampannya dia.
Wajah Rafael dan Ronald yang kentara sekali seperti bule, membuat orang-orang penasaran dan mengalihkan perhatian mereka kepada kedua pemuda ini. Baik Rafael maupun Ronald berusaha bertingkah laku sopan kepada orang-orang yang berpapasan dengan mereka.
"Assalamualaikum, Musa. Siapa mereka?" tanya salah seorang santri yang tidak sengaja bertemu di tengah jalan.
"Wa'alaikumsalam, Bang. Mereka adalah siswa yang akan ikut program pesantren kilat," jawab Musa dengan sopan.
"Alhamdulillah. Semoga kalian berdua betah selama di sini dan bisa mendapatkan ilmu yang banyak," balas laki-laki itu.
"Aamiin." Rafael dan Ronald menjawab bersamaan.
Mereka bertiga melanjutkan lagi berkeliling komplek pesantren. Kali ini mereka memasuki kawasan ruang belajar santri pria. Tenyata kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di sana. Rafael dan Ronaldo menengok dari arah jendela terlihat murid-murid diam mendengarkan saat guru atau mereka menyebutnya ustadz sedang menerangkan.
"Belajar di sini menggunakan meja dan kursi? Aku kira duduk di lantai," ucap Ronald.
"Ada beberapa ruangan belajar yang menggunakan meja dan kursi, tetapi ada juga bagian ruangan yang semua santrinya duduk beralaskan karpet," terang Musa.
Rafael mendengarkan sambil matanya menjelajah area itu. Ada banyak santri yang sedang melakukan kegiatan bersama teman-teman lainnya. Mau itu bermain basket atau sepak bola.
__ADS_1
"Apa di sini juga selalu ada kegiatan berolahraga?" tanya Rafael.
Musa paham akan maksud pertanyaan Rafael. Dia ikut mengalihkan perhatiannya ke area belakang komplek bangunan ruang belajar yang kini sedang mereka datangi. Terlihat ada beberapa santri putra sedang berolahraga di sana.
"Tentu saja banyak sekali kegiatan berolahraga di sini, selain bermain basket dan sepak bola. Di sini juga ada kegiatan memanah, berkuda, dan berenang. Bahkan ada GOR untuk kegiatan olahraga di dalam ruangan. Selain itu, kami para santri diharuskan mengikuti kegiatan bela diri untuk menjaga kebugaran tubuh kita. Mau itu santri putra maupun santri putri," jelas Musa.
Rafael sekarang paham kenapa istrinya dengan mudah memiting pergerakan dia, karena pada dasarnya Ning Annisa itu bisa ilmu beladiri. Sampai sekarang pemuda itu belum tahu, kalau perempuan yang dulu membantunya menghajar preman adalah Ning Annisa.
"Hebat. Ternyata para santri perempuan pun di sini belajar beladiri," ujar Ronald.
"Banyak sekali manfaat bagi kita mempelajari ilmu beladiri. Selain kita bisa menjaga untuk diri kita sendiri ini juga bisa untuk menolong orang lain. Tentu saja kita tidak boleh sembarangan adu kekuatan hanya untuk menunjukkan kalau diri kita ini hebat," balas Musa.
Kegiatan berkeliling mereka terhenti saat adzan Zuhur berkumandang. Mereka bertiga pun memasuki area Masjid Al-Ikhlas.
"Assalamualaikum, Ustadz Azka," salam Musa ketika bertemu dengan seorang laki-laki berbadan tegap dan memiliki wajah yang teduh.
"Wa'alaikumsalam, Musa," balas Ustadz Azka diiringi senyum manis.
Rafael menatap laki-laki itu, dia merasa tidak asing saat mendengar namanya. Tiba-tiba saja terlintas dalam otaknya, kalau laki-laki itu mengenal Ning Annisa.
'Isssh, tentu saja pasti kenal. Diakan tinggal di kompleks pesantren. Bodoh banget aku ini.'
'Tapi, kenapa namanya tidak asing di telinga aku?' (Rafael)
Selesai menjalankan salat berjamaah Zuhur, Rafael dan Ronald kembali ke ndalem, di ruang tempat penerimaan tamu. Suasana di sana sudah sepi, tidak ada siapa-siapa lagi.
"Mereka pada ke mana?" tanya Ronald sambil celingukan kepalanya ke kanan kiri mencari sosok orang tua mereka.
"Mungkin masih di masjid atau di ruang prasmanan," jawab Musa.
Berbeda dengan Ronald, kalau Rafael celingukan mencari sosok istrinya. Dia membutuhkan nutrisi saat ini, untuk mentrasfer energi yang terasa sudah mulai melempem.
'Cinta mana, ya?' (Rafael) Matanya masih beredar ke penjuru seluruh bangunan itu.
__ADS_1
"Kita pergi ke sana untuk makan siang," ajak Musa.
Bagai kerbau yang lebih cocok hidungnya, Ronald dan Rafael mengikuti langkah Musa kemanapun pemuda itu pergi. Ruangan parasmanan yang dimaksud, berada di bagian belakang ruangan penerimaan tamu tadi. Ternyata di sana ada beberapa orang santri putra dan Bu Nyai Khadijah yang menemani mamanya Rafael dan Ronald.
"Nak Rafael ... Ronald, sini makan siang dulu! Musa kamu makan juga sekalian," perintah Bu Nyai Khadijah sambil melambaikan mengajak mereka makan.
Di waktu bersamaan Kiai Akbar datang bersama ayah Rafael dan ayah Ronal. Mereka pun makan siang bersama.
Lagi-lagi Rafael memberikan kode kepada mamanya untuk mencari tahu di mana istrinya berada saat ini. Tentu saja ini membuat Indira malu, karena dia harus bertanya kepada besannya secara langsung.
"Bu Nyai, Ning Annisa sekarang berada di mana?" bisik Indira.
Sejenak Bu Nyai Khodijah terdiam, tetapi saat matanya tanpa sengaja menangkap tatapan dari Rafael yang sepertinya sedang berharap bisa diberi tahu keberadaan istrinya saat ini, dia tersenyum di balik cadarnya.
"Ning Annisa, ada di belakang. Tadi sedang ngadem di halaman belakang," balas Bu Nyai Khadijah.
"Maaf, ya, Bu Nyai. Rafael itu sudah terlalu bucin sama Ning Annisa," ucap Indira dengan malu-malu.
Wanita paruh baya itu pun mengirim pesan kepada putranya, di mana istrinya berada sekarang. Meski gemas dan malu akan tingkah anaknya, Indira tetap saja mau melakukan apapun untuk Rafael.
Rafael buru-buru menghabiskan makan siangnya. Lalu, dia minta izin keluar terlebih dahulu dengan alasan ingin menghirup udara. Dia pun segera berlari menuju ke arah halaman belakang yang diduga istrinya berada di sana saat ini.
Ternyata benar, Ning Annisa sedang duduk di sebuah bangku sambil memberikan makan ikan. Rafael memastikan tidak ada orang di sana.
"Cinta, kangen~." Rafael memeluk Ning Annisa dari belakang.
Ning Annisa sangat terkejut saat merasakan ada yang memeluknya dari arah belakang. Namun, saat mendengar suara suaminya, dia merasa tenang.
"Kebiasaan. Lepas, banyak orang di sini! Ayang mau dihukum oleh dewan santri," ucap perempuan yang kini pipinya merona di balik cadar yang menutupi wajahnya.
"Khem ... Khem!" Terdengar suara dari arah belakang mereka.
***
__ADS_1
Suara milik siapakah itu? Bagaimana reaksi Rafael saat tahu Ustadz Azka adalah cinta pertamanya Ning Annisa? Tunggu kelanjutannya, ya!