Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 63. Malam Pertama


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 63


Saat ini Ning Annisa sedang berada di pangkuan Rafael. Kedua sejoli ini sudah tidak malu-malu lagi dalam mengungkapkan perasaan mereka baik melalui ucapan dan perbuatan.


"Boleh tidak malam ini aku tidur di sini?" tanya Rafael dengan tatapan memohon.


Ning Annisa memikirkan dulu takut perbuatan mereka ini malah akan mendatangkan fitnah dan masalah bagi mereka nantinya. Namun saat melihat tatapan suami hati dia menjadi luluh. 


"Boleh saja, tapi jika sudah mendapatkan izin dari Abah dan Umma," jawab Ning Annisa sambil tersenyum manis.


Wajah Rafael pun langsung secerah mentari saking bahagianya dia. Dikecupnya bibir sang istri berulang kali dengan kecupan ringan. 


"Terima kasih, Cinta!" ucap Rafael dengan penuh semangat dengan alis yang naik turun.


Ning Annisa hanya tertawa kecil melihat wajah suami. Dia selalu senang saat melihat senyum di wajah Rafael.


***


Rafael pun menemui Kiai Akbar dan Bu Nyai Khadijah, untuk meminta izin agar dia bisa tidur malam ini di sana. Dia beralasan kalau Ning Annisa tidak mau jauh darinya. Tentu saja hal ini mendapat pelototan dari sang istri.


"Boleh," jawab kyai Akbar sambil tersenyum kecil.


"Asyik, terima kasih Abah!" seru Rafael dan langsung menghambur memeluk Ayah mertuanya.


"Tidak mau memeluk Umma," ucap Bu Nyai Khadijah.


Tentu saja Rafael merasa sangat canggung, jika harus memeluk Ibu mertuanya. Dia melirik kepada Kiai Akbar, bertanya apakah boleh memeluk Umma. Setelah mendapatkan anggukkan kepala dari laki-laki tua itu, maka Rafael pun langsung memeluk ibu mertuanya.


"Terima kasih, Umma. Terima kasih juga karena sudah melahirkan dan membesarkan Ning Annisa," ucap Rafael yang membuat orang-orang di sana tertawa kecil.


"Jagalah Ning Annisa dengan baik. Buatlah dia menjadi salah satu wanita yang paling bahagia di dunia ini," balas Bu Nyai Khadijah dengan senyum tulusnya.


"Insha Allah, Umma. Semoga aku bisa membuatnya bahagia," kata Rafael.


Jadilah malam ini Rafael tidur di kamarnya Ning Annisa. Keduanya merindukan saat tidur saling berpelukan.

__ADS_1


Mereka benar-benar tertidur dengan sangat lelap. Begitu bangun tidur, perasaannya juga merasa bahagia saat membuka mata melihat ada pasangannya di sana.


"Assalamualaikum, Imamku," kata Ning Annisa dengan senyum manis menghiasi wajahnya.


"Wa'alaikumsalam, bidadariku," balas Rafael dengan senyum tampan yang bikin Ning Annisa terpesona.


"Bangun, yuk! Kita melaksanakan shalat tahajud bersama!" ajak sang istri.


"Izinkan aku untuk menjadi imam shalat-mu." Rafael menatap dengan penuh harap.


Ning Annisa pun tersenyum senang saat mendengar perkataan suaminya barusan. Dia sudah menunggu-nunggu, di mana Rafael akan menjadi imam sholat-nya.


Keduanya pun terbangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Setelahnya mereka melaksanakan salat tahajud bersama.


Ning Annisa memberikan setelan baju untuk Rafael yang sudah dia siapkan di dalam lemari baju. Perempuan itu juga sudah menyiapkan banyak baju yang lain, milik suaminya.


"Bismillah." Rafael merasa deg-degan karena akan menjadi imam bagi Ning Annisa.


Hati Ning Annisa bergetar saat mendengar bacaan Rafael saat ini. Selama dua minggu di pesantren ini, membuat banyak sekali perubahan yang dialami oleh Rafael. Saat ini dia sudah fasih dalam membaca Alquran. Baik itu makhraj maupun tajwid sudah lebih sempurna lagi.


'Alhamdulillah. Akhirnya suamiku mampu menjadi hamba-Mu yang lebih baik. Semoga Engkau senantiasa menjaga keimanan dalam hatinya.' (Ning Annisa)


"Ayang sekarang sudah pandai sekali mengajinya," puji Ning Annisa.


"Benarkah?" Rafael merasa sangat senang sekali.


"Iya. Lalu, kita akan pergi bulan madu ke mana?" bisik sang istri dengan malu-malu.


Mendengar pertanyaan dari istri, membuat Rafael bahagia. Dia pun langsung memeluk lembut tubuh perempuan itu dan berbisik, "Aku pergi ke mana pun tidak masalah, asalkan selalu bersamamu dan membuatmu merasa bahagia."


"Kita akan pergi berbulan madu, jika Ayang punya waktu luang," balas Ning Annisa.


***


Hari terakhir Rafael dan teman-temannya di sana, pergi berlibur ke tempat wisata yang masih ada di kota itu. Sesuai dengan janji dia akan mengajak semua peserta pesantren kilat berlibur bersama.


Revaldi dan teman-temannya kini berteman baik dengan Rafael. Ini semua karena nasehat Gus Fathir kepada mereka dulu.


Regan menyewa dua bis berukuran besar untuk membawa para santri dadakan itu pergi ke wisata alam. Sebenarnya Rafael ingin mengajak Ning Annisa. Namun, hal itu tidak bisa dia lakukan karena yang berangkat ke sana adalah santri laki-laki.

__ADS_1


***


Meski saat ini mereka belum pernah melakukan hubungan suami istri, tetapi kehidupan keduanya sangat bahagia. Rumah yang dulu terasa sepi, kini terasa hangat karena para penghuninya selalu ada di rumah. Selain itu juga diramaikan dengan bacaan Alquran.


Kedua orang tua Rafael sekarang lebih banyak tinggal di Indonesia. Mereka menyerahkan pengurusan perusahaan yang ada di luar negeri kepada orang lain. Mereka sekarang tidak merasa takut akan kerugian atau hilangnya kekayaan mereka, yang dulu adalah hal yang paling mereka takuti. Namun, sekarang hal yang paling mereka takuti adalah kehidupan setelah di dunia ini.


Regan dan Indira menjadi orang tua yang menghabiskan waktu masa tuanya dengan berserah diri kepada Allah.


Rafael dan teman-temannya semakin bersemangat dalam menghadapi ujian nasional yang akan mereka jalani. Semua murid kelas tiga belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa lulus dan melanjutkan ke universitas.


"Cinta~,kita berbulan madu di kamar saja, ya! Tidak perlu pergi kemana-mana," teriak Rafael saat melihat ada sebuah lingerie di dalam paper bag yang ada di sofa.


Ning Annisa yang sedang berada di kamar mandi, dia sedang memakai baju dinas malam pemberian mertuanya tadi. Saat ini sang istri sedang mempersiapkan diri untuk malam pertama mereka, setelah menikah hampir satu tahun.


"Ayang," panggil Ning Annisa dengan suara merdu dan manja.


"Cinta!" Rafael merinding saat melihat penampilan istrinya saat ini.


Ning Annisa begitu menggoda dengan lingerie berwarna merah yang menampilkan kulit putih bersih yang mulus. Lekuk tubuh yang menggoda dan aset dada yang sering di jamah oleh Rafael tanpa pernah menyentuhnya secara langsung.


"Bolehkah aku menyentuhmu malam ini?" tanya Rafael dengan gagap.


'Bukannya dari minggu kemarin dia merengek terus minta belah duren.' (Ning Annisa)


"Boleh, sekarang aku sudah dalam keadaan suci," jawab Ning Annisa.


"Kita sholat sunah dulu, ya?" tanya Rafael dengan gugup dan tidak menentu.


'Ya Allah, jangan sampai pingsan! Terlalu indah tubuh istriku ini.' (Raafel)


Malam itu pun menjadi malam tak terlupakan bagi keduanya. Berbagi cinta, peluh, dalam melodi indah untuk pertama kalinya.


'Alhamdulillah, Engkaulah tahu yang terbaik buat kami.' (Rafael dan Ning Annisa)


Keduanya tidak menyangka gara-gara terkurung di perpustakaan, akan berjodoh. Mendapatkan cinta, kasih, sayang, cemburu, takut kehilangan, dan ingin bersama sampai maut memisahkan.


***


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2