
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 19
Ning Annisa mandi dengan tenang, tanpa dia sadari kalau pintu kamar mandi itu terbuka dan ada Rafael berdiri di sana. Dia pun menyelesaikan ritual membersihkan tubuhnya agar bersih dan wangi. Dia pun segera menggunakan handuk.
'Eh, pakaian aku tertinggal di atas tempat tidur.' (dalam hati karena di toilet dilarang berbicara apalagi bernyanyi. Meski aku kadang berteriak minta sabun 🙈)
Merasa tidak ada siapa-siapa tadi di kamar, maka Ning Annisa pun keluar kamar hanya menggunakan handuk. Dia tidak melihat Rafael yang duduk di sofa sambil menutup hidungnya yang terus mengeluarkan darah.
'Ya Allah. Cobaan apa lagi ini!' teriak Rafael dalam hatinya.
Ning Annisa, memakai bajunya di sana dengan posisi memunggungi Rafael. Sampai selesai memakai baju, dia belum juga sadar akan kehadiran suaminya di sana. Lalu, dia pun mengeringkan rambut yang baru saja dia keramas.
Begitu selesai dilanjutkan dengan ritual memberikan ramuan kecantikan kulit wajah dan tubuhnya. Baru Ning Annisa menyimpan handuk tadi ke kamar mandi.
"Astaghfirullahal'adzim. Ayang, kapan datang? Kenapa tidak mengucapkan salam?" tanya Ning Annisa sambil berjalan ke arah Rafael.
"Assalamualaikum," jawab Rafael sambil menutup hidungnya.
"Wa'alaikumsalam," balas gadis yang kini menatap pemuda itu dengan cemas.
Hidung Rafael yang tadi mengeluarkan darah, kini kembali mimisan karena dia kembali membayangkan keindahan tubuh perempuan itu. Dia sungguh tidak kuat lagi saat Ning Annisa duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Ayang, kenapa? Kamu sakit?" tanya gadis berbaju gamis warna maroon itu.
Rafael melihat Ning Annisa yang berbaju gamis saja, kini sudah membayangkan yang tidak-tidak. Hari ini Rafael bukan pertama kali melihat tubuh polos seorang perempuan. Jika dia pergi ke pantai atau kolam renang, banyak wanita memakai pakaian bikini. Namun, kali ini berbeda rasanya. Melihat kemolekan tubuh istrinya sendiri ternyata membuat tubuhnya bereaksi liar sampai dia tidak bisa mengendalikan has_rat dirinya.
"Aku mimisan," jawab Rafael yang masih menutup hidungnya.
"Tengadahkan kepalamu!" Ning Annisa memegang kepala Rafael dengan kedua tangannya.
Rafael merasakan kelembutan kedua telapak tangan Ning Annisa, malah membuatnya semakin tidak merantau perasaannya. Has_ratnya sebagai laki-laki mulai bangkit, lalu dia menarik kedua tangan dengan segera berdiri. Dia pun dengan cepat berlari ke kamar mandi.
Ning Annisa yang melihat itu, merasa heran dan hanya menggelengkan kepalanya saja. biarpun mengambil baju ganti untuk Rafael di lemari yang ada di walk in closet.
Rafael keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah kuyup. Dia baru saja selesai mandi dan berkeramas untuk menenangkan hati, pikiran, dan tumbuhnya.
"Ayang, Ini bajunya sudah aku siapkan," kata Ning Annisa.
"Apa kamu sudah mengambil air wudhu?" tanya Ning Annisa begitu Rafael menerima pakaian dari tangan istrinya.
"Belum. Kan adzan maghribnya juga belum berkumandang," jawab pemuda yang kini malah seenaknya berganti baju di depan Ning Annisa.
"Kya_aaa! Apa yang kamu lakukan, Rafael?" teriak Ning Annisa begitu Rafael membuka kimono handuknya dan menampilkan tubuh atletis miliknya yang masih dalam pertumbuhan.
Ning Annisa langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Wajah dan telinganya berubah merah. Betapa sangat malunya dia saat ini. Dalam hidupnya gadis bersurai hitam itu melihat tubuh polos seorang laki-laki. Dia tidak menyangka kalau Rafael punya tubuh yang sangat indah dan enak di pandang oleh mata. Selama ini Ning Annisa berpikir kalau suaminya itu memiliki tubuh rata. Namun, semua pikiran itu salah saat melihat adanya ton-jolan seperti batu yang tertata rapi di perutnya.
'Itu bukan sixpack lagi, tapi eightpack.'
__ADS_1
Kali ini pikiran Ning Annisa yang terkontaminasi oleh tubuh Rafael. Dia merasakan bulu di tubuhnya juga meremang. Jantungnya jangan ditanya. Sejak tadi bertalu-talu layaknya sebuah genderang.
'Ini pasti gara-gara ada setan lewat. A’udzu billahi minasy syaitanir rajim.'
Ning Annisa yang masih memejamkan matanya terus melafalkan taawudz. Dia minta perlindungan kepada Allah.
Tanpa perempuan itu tahu, hal yang sebaliknya juga tadi dirasakan oleh Rafael sejak tadi. Melihat istrinya yang sedang menutup muka dengan kedua tangannya. Membuat Rafael gemas dan ingin memeluk serta menciumnya.
Justru saat ini Rafael malah melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Dia meletakan tangannya di atas kepala Ning Annisa.
"Hei, setan. Keluarlah kalian dari otak istri aku! Jangan ganggu kami," kata Rafael.
Seharusnya ini untuk dirinya sendiri, karena otak dia yang duluan tercemar tadi. Namun, dia tidak mau kalau Ning Annisa berpikiran buruk kepadanya.
Mendengar ucapan Rafael, membuat Ning Annisa membuka matanya. Kini kedua sejoli itu saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.
"Apa aku sudah berhasil mengusir setan dalam otak kamu, Cinta?" tanya Rafael berbisik.
"Sejak kapan setan masuk ke dalam otak aku?" tanya Ning Annisa.
"Sejak kamu melihat tubuh aku yang macho ini, tadi," jawab Rafael dengan percaya diri. Tidak lupa dengan senyum tengilnya yang malah membuat Ning Annisa terpesona.
'Apa? Ya Allah, aku sepertinya harus benar-benar di ruqyah.' Jeritan hati Ning Annisa.
Kedua makhluk Tuhan yang sedang berdiri berhadapan dalam jarak yang kurang dari satu jengkal, bisa merasakan wangi dari sabun mandi mereka. Rafael yang otaknya belum di ruqyah, kini memikirkan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1
***
Akankah Rafael melakukan hal itu? Atau tidak karena takut sama istrinya? Tunggu kelanjutannya, ya!