
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 24
Rafael yang jatuh terpeleset sangat terkejut. Apalagi saat tubuhnya akan menimpa sang istri yang sedang berjongkok di lantai. video berusaha menang dengan kedua tangannya berpegangan pada sisi tempat tidur. Akibat kejadian itu handuknya terlepas dan bagian tubuh yang disembunyikan itu kini tepat di depan mata Ning Annisa.
"Kya-aaa!" Ning Annisa berteriak dengan histeris.
"Aaaa-k!" Rafael berteriak saat senjata kebangaannya terpampang nyata di depan gadis bercadar itu.
Rafael semakin terkejut dan panik saat melihat istrinya pingsan. "Cinta, bangun!"
Rafael langsung menggendong Ning Annisa dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia membuka cadar dan mengoleskan minyak kayu putih pada hidungnya.
"Aku harus cepat-cepat berpakaian. Bisa-bisa nanti Cinta akan pingsan lagi," gumam Rafael sambil memakai baju.
'Aduh, kenapa dia malah pingsan seperti ini setelah melihat 'Si Rafelo'?'
'Apa dia terkejut? Atau takut sama Si Rafelo ini?'
'Bahaya kalau sampai Cinta takut sama Si Rafelo. Bisa-bisa kesejahteraan masa depan aku terancam!'
Rafael mengusapkan minyak kayu putih di leher dan tengkuk istrinya. Dia berharap gadisnya itu capat tersadar.
Saat mata dia melihat bibir pink segar milik Ning Annisa, terbesit dalam hatinya untuk mencuri ciuman. Namun, saat bibirnya hendak mencium bibir sang istri, Rafael menghentikan perbuatan itu.
'A-h, nggak seru kalau ciuman pertama aku dengan Cinta tidak mendapat balasan.'
"Cinta, bangun! Kalau tidak bangun juga aku akan mencium bibir kamu, loh!" kata Rafael yang beberapa detik sebelumnya bilang tidak mau curang dengan mencuri ciuman istrinya.
"Aku hitung sampai tiga, ya? Jika, tidak bangun juga aku beneran akan mencium kamu," ancam Rafael sambil menatap wajah Ning Annisa yang berada dalam rangkulan kedua tangan besar miliknya.
"Cantik banget, istriku ini. Jadi, nggak sabar untuk cepat-cepat bikin versi mininya," lirih Rafael sambil mengusap-usap pipi mulus milik Ning Annisa.
__ADS_1
"Astaghfirullahal'adzim. Ingat Rafael ... jangan melakukan hal itu sebelum diizinkan oleh Cinta," gumam Rafael sambil menguarkan rambutnya.
Dekat-dekat dengan Ning Annisa membuat otak Rafael menjadi mesum. Dia selalu berpikir untuk bercumbu dengan istrinya setiap hari. Dia juga selalu merayu agar diizinkan mencium bibirnya. Sebab, selama ini baru area pipi dan kening yang bisa dia cium. Juz Amma juga baru hafal beberapa surat.
"Apa aku panggil dokter, ya?" Rafael pun hendak mengambil handphone miliknya yang ada di meja. Namun, gerakan dari Ning Annisa menghentikan niatnya itu.
"Cinta," panggil Rafael dengan senang karena melihat istrinya mulai sadar.
Ning Annisa membuka matanya secara perlahan dan kedua tangannya memijat kepalanya yang terasa pening. Dia melihat suaminya sedang menatap dengan penuh kecemasan yang terlihat jelas dari pancaran sinar mata dan ekspresi wajahnya.
"Alhamdulillah. Cinta, akhirnya kamu sadar juga," kata Rafael yang kini menggenggam tangan istrinya.
Perempuan itu sedang berusaha mencerna apa yang sedang terjadi kepadanya. Dia mencoba untuk mengingat-ingat lagi. Apa yang sudah terjadi tadi.
Mata Ning Annisa langsung membulat saat dia mengingat kembali kejadian tadi. Di mana senjata tempur milik suaminya terlihat jelas di depan mata.
'A-kh, tidak! Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini yang malah tidak sadarkan diri melihat alat kebanggaan Rafael yang ternyata besar. Aku tidak menyangka ternyata milik laki-laki itu ternyata besar.' (Ning Annisa)
Muka Ning Annisa kini merah padam, karena mengingat kembali benda milik suaminya itu. Kebanggaan Rafael yang mungkin saja nanti juga akan menjadi kebanggaan dirinya.
Melihat istrinya menutup muka dengan selimut, membuat Rafael menduga kalau saat ini Ning Annisa sedang mengingat bentuk Si Rafelo. Tentu saja ini membuat dirinya ikut malu juga.
"Cinta, ada apa? Kenapa kamu menyembunyikan wajah seperti ini? Apa tidak pengap?" tanya Rafael sambil mencoba membuka selimut itu.
"Aku malu," jawab perempuan di balik selimut.
"Kenapa malu," tanya si pemuda yang sebenarnya dia sendiri juga sedang malu saat ini.
"Pokoknya malu!" balas Ning Annisa.
"Apa punya aku jelek? Eh, apa ya, sebutan yang pas? Intinya kamu tidak suka?" tanya Rafael dengan harap-harap cemas.
'Ya Allah, jangan sampai istriku kecewa dengan Si Rafelo.' (Rafael)
Ning Annisa tidak sanggup menjawab. Jadinya, dia hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Melihat itu, Rafael merasa lega. Setidaknya Ning Annisa masih suka pada Si Rafelo, maksudnya tidak kecewa.
"Lalu, kenapa Cinta menutup diri memakai selimut?" tanya Rafael sambil mengusap rambut yang menyembul dari balik selimut.
"Aku terkejut dan takut," aku Ning Annisa dengan menahan rasa malu.
Rafael tercengang mendengar kejujuran istrinya itu. Dia pun tersenyum jahil dan mendekatkan wajahnya ke tempat yang diperkirakan telinga istrinya.
"Kenapa meski takut, nanti Cinta akan dibuat mabuk kepayang olehnya," bisik Rafael dengan lembut dan mesra.
Jantung Ning Annisa berdebar dengan menggila, lebih cepat dari saat dia berlari maraton. Saking kencangnya debaran itu, membuat dirinya merasa sakit.
"Ayang~, jangan bicara seperti itu!" teriak Ning Annisa yang tidak kuat menahan malu dan gugup. Sebab, tiba-tiba saja terbayang bagaimana nanti mereka akan melakukan saat malam pertama.
Terdengar suara adzan Magrib dan mau tidak mau membuat Ning Annisa harus keluar dari selimutnya. Terlihat jelas kulit wajahnya sangat merah padam. Entah malu atau sesak napas karena ditutupi oleh selimut tadi.
Rafael memasang senyum tengilnya saat beradu pandang dengan sang istri. Tentu saja membuat salah tingkah bagi keduanya. Ini semua gara-gara Si Rafelo.
"Sana pergi ke masjid!" perintah Ning Annisa kepada Rafael.
Sudah sekitar dua Minggu ini, Rafael pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Tentu saja tadinya dikasih semangat oleh Ning Annisa dengan ciuman di pipi.
"Cinta~," panggil Rafael sambil mengetuk pipinya, tanda minta dicium dulu sebelum pergi ke masjid.
Dengan menahan rasa malu yang teramat sangat, Ning Annisa mencium pipi Rafael. Sekarang bukan hanya jantungnya yang berdebar kencang, tetapi tangannya juga menjadi tremor.
"Terima kasih, Cinta!" Rafael pun mengambil baju Koko dan celana cingkrang yang tidak menutup mata kakinya.
"Oh, iya. Cinta yang yang tadi itu namanya 'Rafelo' salam kenal, ya." Rafael langsung kabur saat Ning Annisa hendak mengangkat tangannya. Dia sering dipiting oleh istrinya jika berbuat sesuatu yang bikin malu baginya.
***
🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️ Gimana nasib Ning Annisa nanti saat bertemu kembali dengan Si Rafelo 😆😆. Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu Rafael pulang dari masjid untuk up bab berikutnya, yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru pokoknya. Cus ke novelnya.
__ADS_1