
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 33
Gara-gara sudah mendapat hak mencium bibir Ning Annisa. Rafael sering sekali mencuri ciuman pada Istrinya. Seperti saat ini jiwa mesum dalam dirinya sudah bangkit, dia berjalan dengan mengendap-ngendapnke arah Ning Annisa yang sedang merapikan baju miliknya di lemari. Lalu, Rafael mencolek bahu perempuan itu dan saat Ning Annisa menoleh ke arahnya serangan dadakan pun dilakukan.
CUP
Meski ciuman ringan dan singkat sangat di sukai olehnya. Setiap hari entah berapa kali Rafael mencium bibir istrinya. Baik dengan cara mencuri atau memang karena ada momen yang pas buat mereka melakukan hal itu. Ciuman selamat malam pun, kini dengan ciuman di bibir.
"Cinta," panggil Rafael pada Ning Annisa yang sedang membuat teh manis di dapur.
"Ya, ada ap—"Â
CUP
Perempuan itu mendapatkan serangan mendadak lagi dari sang suami. Meski sudah seminggu berlalu sejak kejadian ciuman pertama mereka, Ning Annisa masih saja sering malu saat mereka berciuman. Takut ada yang melihatnya.Â
Rafael melarang pegawai laki-laki masuk ke dalam rumah selama ada istrinya di rumah. Dia tidak mau kalau istrinya itu memakai cadar saat di rumah. Selain itu, dia juga bisa bebas saat memberikan cumbuan manis pada sang istri.
***
"Bagaimana perasaan kamu sudah lama libur sekolah, kini harus masuk lagi dengan banyak tugas?" tanya Rizal pada Rafael ketika mereka berkumpul bersama di markas mereka.
__ADS_1
"Ya, tentu saja senang. Bisa bertemu kalian lagi. Meski aku di rumah, aku juga belajar agar tidak ketinggalan. Apa lagi aku punya target ingin masuk ke rangking tiga besar, ya paling tidak masuk ke rangking sepuluh besar," jawab Rafael dan membuat ketiga temannya tidak percaya.
Mereka sering dibuat terkejut oleh ucapan dan keinginan Rafael akhir-akhir ini. Mulai dari belajar agama Islam, tidak mau lagi ikutan balapan liar, tidak mau lagi melanggar aturan sekolah, ingin menghabiskan liburan di pesantren, dan sekarang ingin masuk rangking.
"Mana mungkin!" teriak ketiga temannya itu serempak.
"Tidak ada yang tidak mungkin bagi aku. Asal ada kemauan dan kerja keras. Pasti akan bisa. Nilai ulangan aku selama semester ini bagus semua, tidak ada yang merah," balas Rafael.
Ketiga temannya itu pun terdiam yang tadinya tertawa meremehkan. Mereka mengakui kalau nilai-nilai Rafael kini jauh lebih bagus dibandingkan dengan dahulu. Begitu juga dengan mereka, nilai sekarang tidak sehancur nilai saat masih duduk di kelas 1 dan 2.
"Apa orang tua kamu mau memberikan reward untuk pencapaian kamu ini?" tanya Rizal penasaran apa yang membuat sahabatnya ini punya tujuan begini.
"Bukan orang tuaku, tetapi seseorang yang spesial bagiku. Dia ingin aku menjadi orang yang hebat," jawab Rafael dengan perasaan bangga.
Ketiganya menjadi penasaran dengan sosok orang yang dianggap spesial oleh Rafael. Mereka jadi ingin bertemu dengannya.
"Wah, pantas saja kamu benar-benar giat belajar agama karena ada perempuan yang menjadi tujuannya," ucap Anton dengan tawa renyah.
"Bukan. Kamu salah. Aku punya tujuan lain dalam hidupku ini, yaitu ingin membawa perempuan yang aku cintai itu dari dunia ini sampai ke surga-Nya nanti," jelas suami Ning Annisa.
Mendengar perkataan Rafael, ketiga pemuda itu pun merasa bangga akan impian sahabatnya itu. Selama ini mereka belum punya tujuan ingin sampai ke sana. Mereka sadari kalau dirinya itu masih sering melakukan perbuatan dosa. Mau itu dosa kecil atau dosa besar. Sholat wajib saja masih bolong-bolong. Apalagi sholat Subuh yang sering terlewat karena kesiangan. Meski ini masih lebih baik dibandingkan dahulu yang tidak sama sekali.
"Itu sebabnya kamu ingin pergi liburan di pesantren, untuk lebih menambah ilmu agama," ujar Ronald manggut-manggut.
"Ya, setidaknya kita mencari ilmu di tempat yang tepat," balas Rafael.
__ADS_1
***
Sekarang kegiatan Rafael sepulang sekolah adalah mandi dan berpakaian rapi sesuai keinginan sang istri. Tentu saja ini juga membuat tubuhnya segar dan pikirannya terasa lebih fresh.
Melihat sang istri sedang membuat adonan kue, Rafael mulai menjalankan keusilan pada istrinya. Dia mencolek pipi Ning Annisa dan saat menoleh dia memberikan kecupan singkat.
CUP
Senyum pun menghiasi wajah keduanya. Rafael di dapur bukannya ikut membantu, tetapi untuk mengganggu kegiatan istrinya.
Meski suaminya sering mencium dan memeluk dirinya, Ning Annisa masih saja suka berdebar tidak karuan. Syaraf-syaraf dalam tubuhnya pun selalu memberikan reaksi rasa senang akan perbuatan suami tengilnya itu. Sang perempuan sering merasakan merinding jika sudah di sentuh oleh sang pemuda.
"Cinta, kita makan malam di luar, yuk!" bisik Rafael sambil memeluk tubuh istrinya di belakang.
"Malam ini tidak bisa. Aku harus menyelesaikan tugas kuliah karena besok harus di serahkan ke dosen," balas Ning Annisa.
"Kalau begitu kita makan di halaman samping seperti semalam," bisik Rafael.
Muka Ning Annisa memerah mengingat kejadian semalam. Bagaimana dia mencumbu suaminya dengan ganas sampai si Rafelo sulit tidur kembali dan Rafael merengek minta tolong padanya.
"Tidak mau, tugas aku sangat banyak yang belum aku selesaikan. Nanti saja jika sudah sudah aku selesai mengerjakan tugas," ujar Ning Annisa menolak dengan tegas.
Melihat raut wajah kecewa suaminya, Ning Annisa pun membelai pipi Rafael. Lalu, dia memberikan kecupan di bibir pink segar karena Rafael tidak pernah merokok, apalagi meminum alkohol.
Jantung Rafael rasanya ingin melompat dari tempatnya, saat mendapatkan sebuah ciuman dari istrinya. Biasanya selalu dia duluan yang harus memulainya.
__ADS_1
***
😲😮 Ning Annisa mulai agresif nih, kira-kira apa yang akan dilakukan Rafael kedepannya? Tunggu kelanjutannya, ya!