
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 55
Rafael, Rizal, dan Ronald membersihkan halaman asrama putra sebagai hukuman karena sudah berkelahi sama santri di sana. Anton yang merupakan sahabat mereka merasa tidak tega dan ikut membantu. Ternyata hal ini diikuti juga oleh teman-teman satu kobong yang lainnya, sehingga membersihkan halaman asrama putra yang begitu luas bisa diselesaikan sebelum adzan Maghrib.
Perbedaan dengan Revaldi dan temannya yang dihukum membersihkan toilet. Tidak ada teman satu kobong yang ikut membantu mereka.
"Ustadz Azka, kami semua sudah selesai membersihkan halaman. Apa kamu boleh kembali ke Kobong?" tanya Rafael yakini berhadapan dengan guru ngajinya nanti.
"Ya, boleh. Kedepannya kalian jangan berbuat seperti tadi lagi," jawab laki-laki berwajah teduh.
Ustadz Azka semakin yakin kalau Ning Annisa punya hubungan dengan salah seorang santri putra yang sedang menjalani hukuman. Dia berpikir kalau diantara ketiga pemuda itu ada pemilik hati baru dari pujaan hatinya.
'Apakah laki-laki itu adalah Rafael? Tetapi cara menatap Ronaldo begitu penuh damba terhadap Ning Annisa.' (Ustadz Azka)
Ustadz Azka memperhatikan para santri putra itu yang mulai pergi meninggalkan area halaman. Para anak muda itu saling bersenda gurau dan memasuki kobong mereka.
'A-kh, kenapa aku selalu saja memikirkan Ning Annisa? Dulu salah aku tidak bisa menolak keinginan kakak. Seharusnya aku bersikukuh ingin menikah dengan Ning Annisa. Mungkin saja keadaannya akan berbeda saat ini.' ( Ustadz Azka)
Ustadz Azka pun pulang ke rumahnya yang masih berada di area kompleks pesantren. Para pengajar di pesantren Al-Ikhlas fasilitas rumah dan kendaraan.
***
Ning Annisa kembali bertemu dengan Rafael saat mereka berpapasan di depan pintu gerbang masjid. Keduanya saling menatap meski hanya sebentar, karena Rafael didorong masuk oleh teman-temannya.
"Tidak boleh melihat seorang perempuan seperti itu. Dosa tahu!" ucap seorang teman satu kobong.
Rafael pun hanya tersenyum. Dia ingin sekali bertemu dengan istrinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi tadi. Pemuda itu yakin kalau Ning Annisa sudah mendengar kabar tentang perkelahiannya tadi.
__ADS_1
"Apa Ning Annisa akan marah saat tahu kamu melanggar peraturan?" tanya Ronald.
"Biasanya dia akan memberi nasehat yang panjang. Bahkan berjam-jam sampai merasa dia puas dan aku mau mengakui kesalahanku," jawab berapa sambil tersenyum tipis.
Terlihat ada rasa cemburu dari pancaran mata milik Ronald. Akan tetapi dia sadar karena Ning Annisa sudah sahabatnya. Jadinya, dia hanya bisa mendoakan dari dalam hati untuk kebahagiaan wanita yang dicintainya itu.
Setelah selesai berjamaah salat magrib dan mengaji, santri yang mengikuti pesantren kilat pergi ke kampung masing-masing untuk makan malam. Ternyata Rafael dan teman-temannya saat berjalan di halaman asrama putra bertemu dengan Revaldi yang juga sedang bersama temannya.
Kedua kubu itu saling menatap, terlihat pancaran tidak suka dari semua anak remaja itu. Namun, mereka tidak bisa bersitegang lagi karena sudah mendapat peringatan dari pengurus pesantren. jika mereka melanggar kembali peraturan dan melakukan perkelahian maka mereka akan di pulangkan dan dilarang untuk mengikuti kegiatan pesantren kilat lagi kedepannya.
"Kesal banget aku mau lihat muka mereka," desis Rizal kepada Rafael.
"Sudah biarkan saja mereka jangan pernah anggap keberadaannya jika kamu masih ingin mengikuti kegiatan di pesantren ini," balas Rafael.
Senang ini biasanya dijadikan istirahat atau bermain oleh anak-anak remaja itu setelah mereka selesai makan malam. Mereka bebas melakukan kegiatan apapun asal masih di dalam kompleks asrama, sampai di tiba waktu adzan Isya berkumandang dan mereka akan pergi kembali ke masjid untuk berjamaah.
***
Setelah selesai salat Isya berjamaah para santri pesantren kilat kembali ke kobong masing-masing. Mereka masih memiliki waktu untuk beristirahat sebelum besok memulai kegiatan belajar. Di saat itu ada Adam masuk ke dalam kobong dan menemui Rafael.
"Iya. Baik, Mas Adam," balas Rafael dengan sopan.
'Mam_pus! Aku pasti akan diomelin.' (Rafael)
'Mati kau, Rafael!' (Rizal)
'Apa Ning Annisa mengkhawatirkan, Rafael?' (Ronald)
Rafael yang dipanggil oleh Kiai Akbar untuk datang ke ndalem, berjalan dengan gontai. Pemuda itu tahu pasti mereka akan menanyakan perihal perkelahian tadi.
'Belum juga belajar sudah kena warning.' (Rafael)
__ADS_1
Begitu sampai Rafael melihat keadaan ndalem sedang ramai oleh tamu. Dia jadi ragu-ragu untuk masuk ke sana.
"Assalamualaikum, Abah, eh, Pak Kiai," ucap Rafael dengan senyum malu-malu. Apalagi orang-orang di sana langsung mengalihkan perhatian ke arahnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," balas semua orang yang berada di sana.
"Nak Rafael, sini!" pinta Kiai Akbar sambil melambaikan tangannya.
Rafael pun berjalan ke arah ayah mertuanya. Dia berjalan sambil menundukkan kepala karena merasa sangat malu terus diperhatikan oleh orang banyak.
"Kenalkan ini Rafael, menantuku. Suaminya Ning Annisa," kata Kiai Samsul kepada orang-orang yang hadir.
"Ning Annisa dapat bule," balas salah seorang laki-laki tua yang memakai jubah berwarna hijau.
"Panjenengan jangan begitu, bukannya menantumu juga orang Mesir. Bule juga, 'kan?" balas orang yang duduk di sampingnya.
"Tapi, kenapa mukanya banyak luka dan bengkak?" tanya lelaki yang terlihat lebih muda dari Kiai Akbar.
"Semalam dia datang ke sini lewat pintu belakang. Hajar mengira dia adalah seorang maling, sehingga memukulinya dengan menggunakan sapu lidi. Kasihan sekali dia, untung Ning Annisa telaten mengobatinya," jelas Kiai Akbar sambil tertawa dan diikuti tawa yang lainnya.
Rafael sangat malu sekali, karena kelakuan dia diketahui oleh orang lain. Namun, ini masih mending, dari pada ketahuan kalau dia pernah ngompol di celana.
"Tentu saja Ning Annisa akan merasa sedih dan merawatnya. Wajah suaminya yang tampan ini jadi penuh luka-luka," timpal yang lainnya.
Rafael bingung harus melakukan apa di sana, dia hanya bisa berdiri mematung. Untungnya datang Gus Fathir ke sana.
"Rafael, kenapa masih di sini? Tuh, istri kamu sudah bosan menunggu," ucap Gus Fathir dengan berbisik di kalimat terakhir.
Rafael sangat senang mendengar ucapan kakak iparnya ini. Lalu, dia pun berpamitan kepada orang-orang yang ada di sana.
Rafael pun pergi masuk ke ruang sebelah dan menuju kamar istrinya. Dia sudah sangat rindu kepada wanita yang sudah mencuri hatinya. Pemuda itu membuka pintu kamar dan betapa terkejut dia saat melihat sesuatu yang ada di sana.
__ADS_1
***
Apakah sesuatu itu? Tunggu kelanjutannya, ya! 😁😁