
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 34
Ning Annisa memberikan kecupan di bibir pink segar milik suaminya. Hal ini membuat jantung Rafael rasanya ingin melompat dari tempatnya. Saat dia mendapatkan sebuah ciuman dari istrinya. Biasanya selalu dia duluan yang harus memulainya.
Tidak mau menyia-nyiakan akan kesempatan ini, Rafael menahan tengkuk istrinya dan memberikan ciuman mesra. Dia membalikan badan Ning Annisa agar berhadapan dengannya. Lalu, memeluknya lembut dan membuat perempuan itu mengalungkan kedua tangannya di leher sang pemuda.
Mereka lupa kalau di rumah itu masih ada penghuni lainnya, seperti para pelayan dan juga Nyonya rumah. Orang-orang yang memergoki kegiatan mesra kedua sejoli ini langsung pergi dari sana.
Indira yang mengambil air minum pun tidak jadi saat melihat putra kesayangan dan menantunya sedang bercumbu. Senyum lebar menghiasi wanita baru pria itu.
'Dasar anak muda yang lagi terkena virus cinta, sehingga tidak punya malu. Berciuman di mana saja.' (Indira)
Rafael dan Ning Annisa, sampai lupa diri kalau sekarang sedang berada di dapur. Keduanya tengah asyik larut dalam kemesraan yang baru saja mereka rasakan baru-baru ini.
"Ayang." Napas Ning Annisa ngos-ngosan karena Rafael selalu enggan melepaskan tautan bibir mereka.
"Terima kasih, Cinta." Rafael pun mencium pucuk kepala istrinya.
Setelah kejadian barusan, Rafael pun pergi meninggalkan Ning Annisa. Dia sudah tidak mau lagi mengganggu sang istri untuk melanjutkan pekerjaannya membuat kue.
***
"Pa, tahu tidak? Kalau sekarang Rafael dan Ning Annisa sudah tidak malu lagi berciuman di mana saja mereka mau," kata Indra memberi tahu Regan.
"Bagus dong, kalau begitu! Berarti hubungan mereka bedua sudah semakin dekat. Mungkin sebentar lagi kita akan punya cucu," bala Regan sambil tersenyum lebar.
"A-h, benar juga apa kata kamu, Pa. Mama salat tidak sabar ingin menggendong cucu," ucap Indira. Diaa bisa bayarkan cucunya yang memiliki wajah perpaduan antara Rafael dan Ning Annisa.
__ADS_1
***
Hari-hari pun berlalu dengan cepat, sekarang ujian semester akan berlangsung dua hari lagi. Rafael pun belajar dengan giat untuk mendapatkan rangking tiga. Sebab, dia ingin pergi berkencan dengan istrinya.
Saat dia sedang belajar di markas datang Demian bersama kelompoknya ke sana. Tentu saja Rafael tidak menerima kedatangan mereka yang dianggap mengganggu.
"Mau apa kamu datang kemari?" tanya Rafael dengan tatapan tidak suka.
"Ayo, kita balapan nanti malam! Aku tunggu kamu di jalan Tentara nomor 13," kata Demian.
"Tidak mau, aku sedang sibuk belajar," balas Rafael dan mengabaikan kembali kehadiran mereka. Dia melanjutkan kembali kegiatan belajarnya.
"Aku tidak menerima penolakan atau kamu akan tahu akibatnya!" ancam Demian dengan penuh emosi.
Rafael dan teman-temannya hanya saling melirik. Entah apa yang dimaksud dengan ancaman Demian barusan. Sebab, tidak ada hal yang bisa membuat Rafael diancam.
***
Setelah Isya ada pesan masuk nomor handphone milik Rafael. Pesan itu adalah sebuah foto Yasmin yang sedang diikat di sebuah kursi. Rafael pun memberi balasan kalau perempuan itu bukan orang yang berarti bagi dirinya. Suruh saja Kakak atau saudara Yasmin lainnya untuk membebaskan dia dengan taruhan balapan liar.
Tidak lama kemudian ada telepon masuk dari Ronald. Dia juga mendapatkan pesan yang sama, yang dikirm oleh Demian. Kalau saat ini Anton sedang disekap olehnya.
"Tunggu aku!"
^^^"Baiklah jika kamu akan ikut juga."^^^
"Mana mungkin aku akan membiarkan hal ini terjadi kepada sahabatku."
^^^"Si Demian benar-benar gila sekarang. Dia terlalu obsesi untuk mengalahkan kamu."^^^
Ning Annisa sedang memperhatikan suaminya yang sedang dihubungi seseorang lewat telepon. Dia bisa melihat raut wajah Rafael yang tidak dalam keadaan baik.
__ADS_1
'Dia kenapa wajahnya masam seperti itu?' (Ning Annisa)
Lalu, Rafael pun mengakhiri pembicaraannya dengan Ronald. Dia malah ke arah istrinya.
"Aku ada urusan mendadak dan sangat penting. Cinta, kamu tidur duluan saja, ya! pinta Rafael sambil memegang tangan kedua tangan istrinya.
"Jangan pergi," lirih perempuan yang kini sudah memakai setelan piyama.
Entah kenapa Ning Annisa merasa berat melepaskan kepergian Rafael kali ini. Dia menatap memohon kepada suaminya agar jangan pergi.
"Keadaan kali ini darurat. Aku harus pergi! Akan aku serahkan semuanya cepat selesai." Rafael memeluk tubuh istrinya dengan lembut. Tidak lupa dia juga mencium keningnya.
"Assalamualaikum," bisiknya dengan lembut.
"Wa'alaikumsalam," balas Ning Annisa, tetapi tangannya masih menggenggam baju Rafael seolah tidak boleh pergi.
***
Rafael pun pergi menggunakan mobil Ferrari miliknya, yang sering dia gunakan untuk balapan. Ternyata di sana sudah ada beberapa orang berkumpul, termasuk Ronald dan Rizal.
Rafael dan teman-temannya tidak membuat geng seperti Demian yang beranggotakan puluhan orang. Mereka selalu berempat saat melakukan berbagai kegiatan dan menghabiskan waktu bersama.
"Lihat, siapa yang datang!" Demian tertawa bahagia melihat kedatangan Rafael ke sana.
"Bagaimana ceritanya Anton bisa tertangkap oleh kutu busuk ini?" tanya Rafael kepada Ronald dan Rizal.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi tadi aku dengar bisik-bisik dari anak buahnya Demian, kalau Anton dapat mereka ringkus saat sedang makan mie ayam di pinggir jalan," jawab Rizal tidak meyakinkan.
Rafael sangat tidak suka jika ada orang yang melakukan pengeroyokan terhadap satu orang. Dia bisa melihat muka Anton yang ada bekas luka. Ini membuktikan kalau mereka sempat beradu jotos terlebih dahulu.
"Bagaimana? Apa sekarang kamu mau bertanding melawan aku?" tanya Demian pada Rafael.
__ADS_1
***
Akankah Rafael menerima tantangan dari Demian ini? Tunggu kelanjutannya, ya!