Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 6. Hari Pernikahan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, Jangan lupa untuk selalu kasih dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, Vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 6


"Annisa, kamu perlihatkan wajahmu sama calon suamimu ini," titah Kiai Akbar.


Ning Annisa pun membuka cadarnya dengan perlahan. Jantung dia berdegup dengan kencang. Tidak biasanya dia seperti ini. Mungkin karena abahnya bilang calon suami, jadinya dia gugup.


Perlahan tapi pasti Ning Annisa melepas cadarnya dan memperlihatkan wajahnya yang bercahaya. Kulit putih mulus tanpa cacat, bibir ranum yang berwana pink segar dan hidung kecil yang mancung. Semakin sempurna dengan bola mata bening yang memiliki bulu lentik dan alis yang hitam yang tertata rapi.


Rafael menelan air liurnya melihat kecantikan calon istrinya. Dia tidak menyangka kalau perempuan itu sangat cantik di pandangan matanya. 


'Ini sih, bidadari. Sepertinya dia diciptakan untuk turun ke dunia ini, hanya untuk menjadi pasangan aku.'


"Calon menantu aku ini cantik sekali! Benarkan, Pa?"


Bukan hanya Rafael yang kagum akan kecantikan Ning Annisa. Mamanya juga sama, terlihat sangat menyukainya.


"Benar sekali, Ma. Beruntung putra kita bisa menjadi suami dari Ning Annisa ini," balas Regan.


Ning Annisa merasa sangat malu. Pipinya kini merona dan semua orang di sana bisa melihatnya.


'Dia semakin cantik dengan pipi yang merona seperti itu.'


Tangan Rafael berkeringat menahan perasaannya yang gugup dan senang. Dia merasa ingin secepatnya menjadikan perempuan yang duduk di depannya itu sebagai istrinya.


***


Seumur hidup setelah balig Rafael baru kembali mengerjakan sholat di subuh ini, sebelum ikrar ijab qobul. Ya, mungkin sewaktu anak-anak dia pernah belajar sholat saat pelajaran agama Islam. Tapi, mana ingat dia dengan bacaan sholat itu seperti apa. Jadi, dia itu sholat mengikuti gerakan imam di depan dan orang yang di sampingnya.

__ADS_1


Semalam dia video call dengan Gus Fathir, hanya untuk belajar mengucapkan ijab qobul dan belajar menghafal beberapa surat pendek yang ada di dalam Al-Qur'an. Untungnya otak Rafael termasuk orang yang cerdas dia mendengarkan Gus Fathir membaca ayat demi ayat Al-Qur'an dan dia mengulanginya secara terus menerus, sampai agak lumayan fasih untuk ukuran orang awam yang baru belajar. Tadi dia juga meminta Gus Fathir untuk mendengarkan hafalan ayat-ayat itu dan ucapan ijab qobul, sebelum adzan Subuh berkumandang.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya seorang penghulu.


"Sudah," jawab orang-orang yang ada di masjid itu.


Maka, akad pun segera dimulai. Rafael menjabat tangan Kiai Akbar. Jangan tanya bagaimana perasaan dia saat ini. Rafael sedang merasakan mulas dan berkeringat dingin. Kalau bisa dia ingin di wakilkan saja proses pengucapan akad ini.


'Aduh, perut aku rasanya diubek-ubek.'


"Bismillahirrahmanirrahim, dengan memohon Rahmat dan berkat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Saya nikahkan dan kawinkan Annisa Nurul Haidar binti Akbar Maulana Haidar dengan engkau, Rafael Adiwangsa Grazian dengan mas kawin uang sebesar dua puluh lima juta rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Nurul Haidar binti Akbar Maulana Haidar dengan mas kawin berupa uang dua puluh lima juta rupiah dibayar tunai."


"Sah!"


"Sah."


"Alhamdulillah,"


***


"Nak Rafael, kini kamu sudah menjadi seorang suami. Sudah menjadi tugas kamu untuk menjaga, melindungi, membimbing, dan mengayomi keluarga yang kamu bina bersama Annisa," kata Kiai Akbar pada menantunya.


"Doakan aku, Abah. Semoga aku secepatnya menjadi seorang suami yang bisa membahagiakan Annisa. Eh, Ning Annisa," ucap Rafael dengan tersenyum malu. Dia merasa tidak sopan memanggil nama pada orang yang lebih tua.


Ning Annisa sendiri tidak tahu perasaan yang dia rasakan saat ini. Apa dia bahagia atau sedih dengan pernikahannya ini. Saat ini dia hanya berharap kalau Allah memberikan jodoh yang bisa mengantarkannya ke surga-Nya kelak.


"Apa kamu memberi tahu pernikahan ini kepada Aulia?" tanya Gus Fathir.


"Mana sempat. Semalam saat aku menghubungi dirinya, nomornya tidak aktif. Nanti, jika Mas Fathir bertemu dengannya, tolong katakan kalau aku sudah jadi istri orang. Semoga dia cepat menyusul," jawab Ning Annisa.

__ADS_1


Gus Fathir menatap adik kandungnya ini dengan tatapan nanar. Dia tidak tahu kalau saat ini hatinya sedang sakit. Entah untuk ke berapa kalinya, karena cintanya selalu ditolak oleh sang pujaan hati.


"Kalau Aulia itu memang jodoh Mas Fathir, dia tidak akan ke mana. Namun, jika Aulia bukan jodohnya Mas Fathir, semoga Allah memberikan seorang perempuan yang benar-benar bisa membuat hidup Mas Fathir bahagia dan berharga," kata Ning Annisa sambil memeluk tubuh kakaknya yang selalu memanjakan dirinya sejak kecil.


"Iya. Terima kasih, semoga Allah mendengarkan doa kamu untuk mas." Hati Gus Fathir merasa terenyuh akan ucapan dan doa tulus dari adiknya ini.


"Semoga Rafael bisa menggantikan Ustadz Azka dalam hatimu. Mulailah belajar untuk mencintai dirinya sebagai pendamping dirimu," ujar Gus Fathir sambil mengusap kepala Ning Annisa dan gadis itu pun mengangguk.


Kiai Akbar memeluk Ning Annisa. Dia memberikan beberapa nasehat untuk putrinya. Dia tahu kalau pernikahan seperti ini bukan impian Ning Annisa. 


"Bimbing dan ajari dia agama, agar menjadi seorang hamba yang dicintai dan dirindukan oleh Allah Azza Wa Jala. Dia itu saat ini masih dalam pencarian, jadilah lentera dalam hidupnya. Berikan cahaya untuknya agar dia tidak tersesat. Jadikan, dia ladang pahala bagimu," ucap Kiai Akbar dan Ning Annisa menangis dalam pelukan laki-laki yang selalu memanjakan dan mendukung setiap apa yang dia inginkan.


"Doakan aku juga, Abah. Agar bisa menjadi istri sholeha yang bisa memberikan ketenangan, kenyamanan, kebahagiaan, dan keberkahan untuk suamiku," lirih Ning Annisa.


"Iya, tentu saja. Abah dan Umma juga selalu mendoakan kebaikan untuk dirimu." Kiai Akbar menghapus air mata putrinya.


Ning Annisa sangat senang karena kakaknya yang super sibuk pun menyediakan waktu untuk dirinya. Gus Gibran, kakak sulung Ning Annisa pun sengaja datang ke ibu kota hanya untuk menyaksikan hari bersejarah adik perempuan satu-satunya.


"Mas Gibran," lirih Ning Annisa sambil memeluk tubuh pemimpin pondok Pesantren Al-Ikhlas saat ini.


"Selamat, ya, Dek. Yakinlah kalau Allah memberikan jodoh yang berbaik untukmu. Semoga rasa kasih, sayang, dan cinta segera hadir dalam diri kalian berdua," bisik Gus Gibran.


Rafael iri melihat orang-orang yang memeluk tubuh Ning Annisa. Dia juga ingin memeluknya.


'Ini … siapa sih, sebenarnya suami Annisa? Aku juga ingin memeluknya. Kalian semua sudah memonopoli istriku, nanti giliran aku yang akan memonopoli istriku.'


Rafael tersenyum lebar, sudah membayangkan sesuatu dalam otaknya yang lebih kecil ukurannya dibandingkan kepalanya. Dia sudah memikirkan malam pertama, padahal ini hari masih subuh.


***


Akankah Rafael bisa merealisasikan rencana malam pertama mereka nanti? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya. Sudah tamat sehingga bisa dibaca maraton.



__ADS_2