Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 35. Pertandingan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 35


Rafael pun berjalan ke arah tempat di mana Anton sedang duduk disandera. Ada Demian yang berdiri di depan sana dengan senyum miring yang sangat menyebalkan bagi Rafael.


"Bagaimana? Apa sekarang kamu mau bertanding melawan aku?" tanya Demian pada Rafael.


"Aku akan menerima tantangan kamu, jika Anton dilepaskan terlebih dahulu," jawab Rafael dengan tenang.


Demian dan teman-temannya tertawa terbahak mendengar ucapan Rafael barusan. Mereka seolah mengejek Rafael yang tidak akan menang pertandingan malam ini.


"Kami akan melepaskan Anton, jika kamu menang pertandingan kali ini juga. Namun, jika kalah, selain mobil kebanggaan kamu itu maka teman kamu ini juga tidak akan selamat," kata Demian.


Rafael saat marah mendengar ucapan dari Demian. Selama dia mengikuti pertandingan balap liar, tidak pernah sekalipun melibatkan nyawa orang lain sudah bahan taruhannya.


"Gila kamu, Demian! Jangan kau main-main dengan nyawa orang lain." Rafael menunjuk muka Demian dengan penuh amarah.


Demian tertawa keras, dia memang terlalu terobsesi untuk dapat mengalahkan Rafael. Sudah balasan unit mobil yang dia berikan sebagai bahan taruhan.


"Kamu akan menyesal jika sampai mempermainkan nyawa orang lain."


Rafael benar-benar marah, dalam pikirannya dia pun akan menghancurkan Demian, sampai pemuda itu tidak bisa melakukan apapun apalagi.


Rizal tahu kenapa Rafael banyak bicara malam ini. Temannya itu sudah mengulur waktu. Namun, entah untuk apa. Pemuda itu pun melirik ke arah Ronald.

__ADS_1


"Biarkan saja dia berbuat semaunya. Aku yakin dia bertindak begitu karena sudah punya rencana sendiri," ucap Ronald dan Rizal pun mengangguk.


Rafael dan Demian kini sudah berada di dalam mobil masing-masing. Keduanya sudah siap untuk melakukan pertandingan ini. Orang-orang yang ada di sana berteriak dengan penuh sukacita.


Sementara itu, Rizal dan Ronald berjaga-jaga dekat dengan Anton. Tujuannya adalah untuk berjaga-jaga dan melindungi temannya dari anak buah Demian. Seandainya bila bos mereka kalah kembali dan mereka pada ngamuk.


"Apa kalian berdua sudah siap?" teriak pemandu acara di sana.


Hanya suara deruman mobil yang mereka bunyikan sebagai tanda, kalau mereka sudah dalam keadaan siap. Maka, seorang gadis yang memegang kedua bendera di kedua tangannya, langsung dikibarkan.


Baik Rafael maupun Demian, sama-sama langsung melajukan mobil mereka dengan kencang. Meski baru dari garis start.


Hanya dalam sekejap kedua mobil pemuda itu menghilang dari pandangan mereka. Suasana malam yang sepi ini sangat menguntungkan karena kendaraan mereka tidak mengalami berbagai hambatan.


Demian berpikir, apapun yang terjadi malam ini, dia harus menjadi sebagai pemenangnya. Dendam dan tidak terima kekalahan yang sudah belasan kali.


Mobil milik Rafael dan Demian melaju saling berkejaran di jalan utama ibu kota. Mereka saling susul menyusul tidak mau kalah. Namun, ketika mereka berada di jalanan yang sepi, Demian membenturkan mobilnya pada mobil Rafael, sehingga mobil itu oleng.


Rafael bukanlah orang yang baru belajar mengendarai mobil, tetapi dia adalah ahli dalam mengendarai berbagai macam kendaraan. Dalam keadaan itu dia masih bisa mengendalikan laju mobilnya. Meski Demian beberapa kali melakukan hal yang sama terhadapnya. Sampai-sampai mobil mereka sudah pada kentop atau rusak.


"Kamu pikir dengan melakukan hal seperti ini, kamu bisa menang dari aku," gumam Rafael.


Demian yang sudah dikuasai oleh napsu ingin memenangkan pertandingan ini, kembali menabrakkan mobil itu pada mobil Rafael. Akan tetapi, saat Rafael memberikan balasan yang sama pada Demian. Lawannya itu tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya.


Demian yang kehilangan kendali laju atas mobilnya, berakhir dengan menabrak pembatas jalan. Rafael pun melaju tanpa adanya gangguan lagi.


Sementara itu, Ronald dan Rizal masih berharap-harap cemas dengan Rafael. Keduanya takut kalau terjadi sesuatu kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian terlihat ada sorot lampu dari kejauhan. Orang-orang yang ada di sana menahan napas, mereka ingin tahu mobil milik siapa yang akan sampai duluan ke sana.


Betapa bahagianya Ronald dan Rizal saat melihat kalau mobil yang sampai tujuan adalah milik teman mereka.


"Yey! Akhirnya kita yang menang!" teriak kedua pemuda itu. Lalu, mereka ber-tos dengan kedua tangannya.


Anton yang menjadi bahan taruhan gila dari Demian merasa sangat senang. Akhirnya dia bisa juga selamat dari ancaman yang dibuat oleh Demian dan teman-temannya.


Rafael yang baru sampai pun, membuka kaca jendela mobilnya. Dia mengacungkan jempol pada teman-temannya.


Anak buah Demian pada heboh karena bos mereka belum datang juga, meski sudah 5 menit berlalu. Salah seorang dari mereka mendatangi Rafael yang baru selesai membuka tali ikatan Anton.


"Mana Demian?"


"Mana aku tahu? Mungkin saja dia nyemplung di got atau di sungai. Dia 'kan nggak bisa mengendarai kendaraan dengan benar," jawab Rafael dengan sinis dan merendahkan laki-laki licik itu.


"Woy, si bos belum juga kembali! Sebaiknya kita cari, siapa tahu si cecunguk itu melakukan suatu kecurangan dalam pertandingan kali ini juga," teriak salah seorang anak buah Demian lainnya.


"Sebaiknya kita pulang saja. Aku sudah punya janji," kata Rafael mengajak ketiga temannya.


"Tunggu! Mau ke mana kalian?" Beberapa anak buah Demian menghadang langkah Rafael dan teman-temannya.


Kini mereka berempat di kepung oleh belasan anak buah Demian. Mereka juga membawa balok kayu dan pemukul softball.


***


Apa yang akan terjadi pada Rafael dan ketiga temannya? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2