
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like komentar, bunga, kopi, vote dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 42
Baik Rafael maupun Ning Annisa, tidak mau mengatakan apa yang sudah terjadi pada mereka tadi sore. Mereka sama-sama malu.
"Kalau ada masalah bicarakan baik-baik, jangan menuruti emosi. Kalau kalian tidak bisa menyelesaikan masalahnya, bisa minta bantuan kepada kita," ucap Regan sambil menatap anak dan menantunya.
"Kami bisa menyelesaikan apa yang sudah menimpa pada kami berdua. Papa dan Mama tidak perlu khawatir. Kami baik-baik saja, kalau ada apa-apa kami juga selalu bisa menyelesaikan semuanya bersama-sama," balas Rafael dengan tegas.
Ning Annisa membenarkan ucapan suaminya. Mereka selama ini selalu bisa mencari solusi dari masalah yang menimpa mereka. Meski hal yang sering melanda mereka adalah hal-hal ringan yang bisa dibicarakan dengan obrolan ringan dan santai, tidak sampai berperang urat syaraf.
Rafael meski terkenal anak pembuat onar dan sering melanggar aturan, tetapi dia tidak suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Kecuali, jika keadaan yang mengharuskan dia melakukan kontak fisik. Pemuda itu lebih suka kalau menyelesaikan masalah dengan cepat tanpa berbelit-belit. Cukup mengakui kesalahannya lalu meminta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi.
Ruang keluarga yang diisi dengan barang-barang mewah itu, kini sepi oleh celotehan Rafael yang suka menggoda dan merayu istrinya. Bahkan Indira juga yang biasanya ikut menggoda pasangan yang lagi kasmaran itu, kini juga ikut terdiam.
"Ya, sudah kalau begitu. Papa percaya kepada kalian berdua, pasti bisa menyelesaikan masalah yang sedang kalian hadapi. Ma, siapkan baju Papa." Regan dan Indira pun beranjak dari sofa yang berbentuk huruf L itu.
Kini hanya ada Rafael dan Ning Annisa yang ada di sana. Keduanya masih, sampai suara adzan Isya berkumandang. Rafael pun pamit pergi ke masjid bersama papanya.
__ADS_1
***
Ning Annisa sudah mengganti bajunya dengan baju tidur berbentuk model daster. Dia mendapat baju kiriman dari sahabatnya, Aulia.
Saat dia merapikan rambutnya, Rafael masuk ke dalam kamar tidur mereka. Ning Annisa pun menyambut kepulangan suaminya. Perempuan itu menyimpan sajadah yang dibawa oleh suaminya ke masjid tadi, lalu merapikan baju muslim yang baru saja dilepas oleh sang pemuda.
Rafael sudah bertekad untuk menyelesaikan masalah tadi sebelum mereka tidur. Dia tidak mau mereka terlalu lama larut dalam masalah tadi.
"Cinta, aku minta maaf karena tadi sudah seenaknya masuk ke dalam. Tadi aku sempat berpikir kalau kita sudah menjadi pasangan suami istri, jadi tidak apa-apa jika kita saling melihat tubuh kita satu sama lain. Bukan maksud aku untuk melakukan pele_cehan terhadap kamu. Sungguh, aku tidak bohong. Kalau kamu mau aku gantian memperlihatkan tubuhku, akan aku lakukan," ucap Rafael dengan sungguh-sungguh dan penuh penyesalan. Dia pun mengajak sang istri duduk di tepi tempat tidur.
Pemuda itu tidak mau kalau sang istri marah dan tidak mengizinkan untuk memeluknya saat tidur nanti. Sebab, dia akan kesulitan tidur jika tidak memeluk tubuh istrinya.
"Cinta, kamu mau 'kan memaafkan aku?" tanya Rafael sambil menatap ke arah netra Ning Annisa yang berbulu mata lentik.
"Aku sudah memaafkan Ayang dari tadi, kok. Tapi, Ayang tidak mengajak aku bicara, makanya aku juga diam," balas Ning Annisa.
Rafael mengaga, dia tidak menyangka kalau istrinya sudah tidak marah padanya. Dia diam karena dirinya tidak mengajak bicara. Sang pemuda pun langsung memeluk tubuh perempuan itu dengan menariknya sehingga kini duduk di pangkuannya.
"Terima kasih, Cinta. Kamu adalah perempuan terbaik yang pernah aku kenal seumur hidupku," puji Rafael dengan senyum lebar menghiasi wajah tampan campuran bule.
"Dosa jika seorang istri tidak memaafkan karena kesalahan sepele yang diperbuat oleh suaminya." Ning Annisa kini bisa membelai surai berambut hitam kecoklatan.
__ADS_1
Rafael pun membeli rambut panjang milik istrinya. Dia mencium ujung rambut itu sebelum mencium bibir ranum milik Ning Annisa. Mereka berciuman dengan lembut dan mesra sampai tidak sadar sudah berbaring di atas tempat tidur.
Jiwa liar Rafael membuatnya tidak sadar kalau tangan dia sudah mulai menjelajahi tubuh istrinya. Hal ini membuat Ning Annisa merinding dan mende_sah tanpa sadar.
Plak!
Tangan Ning Annisa memukul tangan Rafael yang sudah berada di paha atasnya. Perempuan itu melotot ke arah suaminya. Dia sangat terkejut dan tidak menyangka kalau suaminya akan melakukan hal seperti ini.
"Cinta~," rengek Rafael yang napsunya sudah mencapai ubun-ubun.
"Baru tiga minggu. Masih ada waktu tersisa satu minggu lagi," kata perempuan itu mengingatkan akan perjanjian mereka.
"Tapiβ"
"Bersabarlah! Uji kesabaran kamu dan kebahagiaan yang akan kamu dapatkan nanti," potong perempuan yang kini membetulkan baju daster yang selutut itu.
"Kalau begitu kita akan belah duren saat di pesantren nanti?" tanya Rafael sambil berbisik.
Muka Ning Annisa langsung merah padam mendengar perkataan suaminya. Dia belum sanggup membayangkan bagaimana mereka nanti akan melalui ritual malam pertama mereka.
***
__ADS_1
π€π€Akankah mereka melakukan malam pertama di pesantren, nanti? Bagaimana dengan keberadaan teman-temannya Rafael yang ikut ke sana?ππ Tunggu kelanjutannya, ya!