
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, Vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 8
Rafael sangat senang melihat tatapan mata Ning Annisa yang tiba-tiba berubah. Dia tahu kalau istrinya itu belum punya rasa cinta padanya. Boro-boro cinta, sayang juga belum. Makanya, dia akan terus dengan gencar mendekati dan merayu perempuan yang kini berada di depannya.
"Minggir, aku mau ganti baju," ucap Ning Annisa sambil mendorong tubuh Rafael yang lebih tinggi dan besar darinya.
"Mau ke mana? Ganti di sini saja," tanya Rafael sambil tersenyum jahil.
Ning Annisa memperlihatkan kepalan tangannya kepada Rafael dan membuat pemuda itu tertawa geli. Suaminya belum tahu kalau dia itu bisa beladiri.
Rafael belum tahu kalau sosok perempuan yang sedang dia cari selama ini adalah Ning Annisa. Dia hanya tahu kalau yang pernah membantu dirinya dulu itu perempuan berjilbab yang mengajar di sekolahannya.
Sambil menunggu istrinya berganti baju, Rafael membereskan buku-buku pelajaran hari ini ke dalam tas sekolahnya.
'Sekarang aku sudah jadi suami. Berarti harus belajar bertanggung jawab. Kata abah aku tidak boleh lagi berkelakuan yang buruk. Seharusnya aku bisa menjadi sosok seorang pemimpin untuk istriku dan anak-anak kami nanti.'
'Anak-anak? Nanti, malam aku mau buat, a-h. Nggak akan dosa 'kan, jika aku melakukan hal itu dengan Ning Annisa? Karena dia sekarang sudah menjadi istriku.'
Wajah Rafael kini merona karena sudah membayangkan surga dunia yang akan di jalani nanti malam. Jantung dia terasa melompat saat melihat Ning Annisa sudah mengenakan seragam guru SMA ALEXANDRIA. Cadar yang sering dia pakai untuk menutupi wajahnya, kini belum terpakai.
Rafael lagi-lagi terpesona akan kesempurnaan wajah istrinya. Segala sesuatu yang terpahat di wajah Ning Annisa itu terasa pas dan sempurna.
"Ada apa?" tanya Ning Annisa.
"Cinta," balas Rafael dengan senyum menawannya.
Rafael melangkah sedangkan Ning Annisa mundur. Pemuda itu terus maju dan Ning Annisa mundur sampai mentok ke pintu kamar mandi. Keduanya saling berhadapan dengan jarak kurang dari 30 sentimeter.
__ADS_1
"Jangan macam-macam, kamu!" kata Ning Annisa mengancam.
Rafael malah tersenyum dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah istrinya. Dia pun mengulurkan tangannya ingin membelai wajah mulus Ning Annisa.
Saat tangan laki-laki itu hendak menyentuh wajahnya, Ning Annisa langsung menangkap dan memerintil dengan cepat untuk mengunci pergerakan tubuhnya. Kini tubuh Rafael menekan ke pintu kamar mandi dan Ning Annisa berdiri dibelakangnya sambil memegang dan menahan tangan laki-laki itu di belakang punggung dengan kuat.
"Aaaa-aduh, sakit! Lepaskan Cinta," pinta Rafael sambil meringis kesakitan.
"Jangan berbuat macam-macam!" desis Ning Annisa.
"Aku tidak mau berbuat macam-macam sama kamu, Cinta. Tapi, cuma satu macam," balas Rafael.
'Gila, tenaganya kuat banget!' Rafael berusaha melepaskan dirinya.
"Maksud kamu?" tanya Ning Annisa semakin menekan kuat tubuh Rafael ke pintu.
"Aku ingin melakukan ini sama kamu, Cinta." Sebelah tangan Rafael membuka pintu kamar mandi, sehingga keduanya masuk dan hampir terjelembab. Namun, Rafael menahan tubuhnya dan tubuh Ning Annisa. Dia memutar tubuhnya dan kini Ning Annisa berada dalam dekapannya.
Ning Annisa yang terkejut saat tubuhnya hendak ikut nyungsep, tanpa sadar berpegangan pada Rafael dan dia pun berada dalam pelukannya.
Ning Annisa yang lebih pendek darinya harus mendongakkan kepalanya. Tinggi dia hanya sebatas bahu Rafael.
Jantung keduanya sama-sama berdebar kencang dengan alasan yang berbeda. Rafael berdebar karena terpesona akan kecantikan paras istrinya. Sementara itu, Ning Annisa baru pertama kali dia berada dalam pelukan laki-laki yang bukan ayah atau kakaknya.
"Sayang, kita sarapan bersa—. Oops, maaf mengganggu," kata Indira kembali menutupkan pintunya.
Kedua dengan cepat memisahkan diri. Terlihat wajah mereka yang merah padam karena malu sudah terciduk oleh Nyonya Rumah.
***
"Papa, tahu nggak mereka sedang apa di kamar?" Indira berlari dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Ada apa, Ma?" tanya Regan karena melihat istrinya yang sangat antusias.
"Mereka berdua sedang berpelukan dengan mesra. Pantas saja mereka sangat lama di kamar," jawab Indira dengan semangat.
Keluarga Ning Annisa agak terkejut mendengar ucapan keluarga besannya itu. Mereka tidak menyangka kalau putri mereka akan dengan cepat luluh hatinya pada Rafael. Setahu keluarganya, Ning Annisa itu sulit sekali membuka hati untuk laki-laki, setelah merasa dikhianati oleh Ustadz Azka, dulu.
"Umma tidak menyangka kalau Annisa sudah membuka hatinya untuk Nak Rafael," kata Bu Nyai Khadijah.
"Bagus kalau begitu dan memang seharusnya dia melakukan hal itu," balas Kiai Samsul.
Kedua kakak laki-laki Ning Annisa pun setuju kalau adiknya itu mencintai suaminya. Meski laki-laki itu bukan cinta pertama dan minim akan ilmu agamanya.
Tidak lama kemudian terlihat Ning Annisa turun sambil menundukkan kepala. Dia merasa sangat malu pada ibu mertuanya.
"Menantu mama sudah datang. Sini, Sayang! Duduk dekat mama," pinta Indira dan Ning Annisa pun berjalan ke arah kanan dan duduk di samping ibu mertuanya.
Semua orang melihat ke arah Ning Annisa untuk beberapa saat. Terdengar suara Rafael yang bernyanyi riang gembira sambil menuruni anak tangga.
"Eh, semua sudah berkumpul untuk sarapan. Maaf aku datang terlambat," kata Rafael.
"Besok-besok kamu kalau melakukan sesuatu harus cekatan. Kegiatan mesranya tahan sampai malam hari. Ini sudah pada tidak sabar, ya?" Indira berniat menggoda putranya.
Hati Ning Annisa merasa disentil oleh perkataan ibu mertuanya. Meski tadi mereka berpelukan, tetapi bukan pelukan yang seperti dibilang mesra seperti itu.
"Iya, Mama. Tapi, lain kali Mama juga harus ketuk pintu saat mau masuk ke kamar aku. Siapa tahu aku lagi bermesraan dengan istriku," balas Rafael.
"Sepertinya kita akan cepat punya cucu, Ma," ujar Regan diiringi senyumnya.
'Apa? Cucu!' Ning Annisa mendadak kepalanya sakit.
Sementara itu, Rafael sudah membayangkan yang tidak-tidak nanti malam. Dia juga tidak sabar ingin membuat cucu untuk mama dan papanya.
__ADS_1
***
Akankah keinginan Rafael dapat terlaksana? Tunggu kelanjutannya, ya!