Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 60. Marahan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan dalam segala urusan.


***


Bab 60


Rafael mengambil batal itu dan hendak menyimpannya lagi ke atas kasur. Namun, dia melihat ada selembar foto di sana.


"Apa ini?" Rafael menatap tajam pada istrinya.


Wajah Ning Annisa mendadak pucat. Dia lupa kalau di dalam buku itu tadi terselip foto dirinya dengan Ustadz Azka, dulu saat mereka punya keinginan untuk merajut masa depan bersama. Buku itu juga pemberian darinya. Tadi perempuan itu tidak sengaja membaca judul buku itu. Dirasa akan bermanfaat untuk kehidupan keluarganya. Dia pun ingin membacanya, tetapi tanpa sengaja dia menemukan foto itu terselip di tengah-tengah halaman buku. Lalu dia menyimpannya di balik dan tidak lama kemudian Rafael datang.


"Itu foto lama aku dengan temanku," balas Ning Annisa.


"Teman? Aku tidak percaya," ucap Rafael.


"Kenapa kamu tidak percaya padaku?" tanya perempuan itu sambil menatap suaminya.


"Karena dari ekspresi wajah foto di sini kalian terlihat bahagia seperti pasangan kekasih," jawab Rafael.


Ning Annisa tidak bisa memungkiri ucapan suaminya ini. Sebab, saat itu mereka saling menyukai.


'Pantas saja dulu saat mendengar nama Ustadz Azka, rasanya tidak asing.' (Rafael)


Rafael sangat terluka hatinya mengetahui kalau laki-laki yang ada di sana adalah Ustadz Azka. Dia mengingat kembali kejadian tempo hari di mana adanya di sisi lapangan dan tidak jauh darinya ada Ustadz Azka. Pemuda itu terlalu menghirup udara yang banyak dan mengeluarkannya secara perlahan untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Saat ini dia sangat marah kepada istrinya dan tidak tahu harus bicara apa. Rafael buat memutuskan untuk kembali ke Kobong.


"Ayang, tunggu! Kita harus bicarakan masalah ini dulu. Aku sungguh tidak ada hubungan apa-apa sama dia," kata Ning Annisa sambil berusaha menahan langkah suaminya.


Akan tetapi Rafael yang sedang marah saat ini, menghempaskan tangan istrinya dan berjalan dengan cepat ke luar dari kamar itu. Dia pun pergi tanpa berpamitan kepada orang tuanya, tidak seperti biasanya.


Dada Rafael bergemuruh karena sangat marah dan cemburu. Dia merasa kalau Ning Annisa masih menyimpan rasa untuk sang mantan kekasih. 

__ADS_1


Pemuda itu langsung tidur begitu masuk ke Kobong. Dia tidak mau berbicara dengan siapapun, apalagi bercanda. Moodnya sangat jelek sekarang ini.


'Sakit sekali ternyata hati ini.' (Rafael)


***


Keesokan hari ini Rafael menjalani hari-harinya seperti kemarin, yaitu mempelajari ilmu agama dari para ustadz muda. Meski dia kurang bersemangat saat menjalani kegiatan hari ini, tetapi sebisa mungkin dia melakukan yang terbaik.


"Rafael," sapa seseorang.


"Iya, saya. Ada apa?" tanya Rafael balik.


Saat siang hari menjelang waktu Zuhur, ada seorang santri putra yang menghampiri dirinya. Pemuda itu mengaku sebagai suruhan Ning Annisa, yang memintanya untuk datang ke ndalem.


"Katanya diminta datang secepat mungkin," ucap pemuda itu.


"Maafkan aku, saat ini tidak bisa," balas Rafael dam meninggalkan sosok santri yang diperkirakan seumuran dengan Adam.


Rafael memilih tidak menemui istrinya sementara waktu. Dia takut kalau nanti marah dan malah mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakiti hati istrinya.


Saat malam hari pun Rafael tidak datang ke ndalem seperti malam-malam sebelumnya. Dia langsung tidur begitu kembali dari masjid. Mood yang buruk membuat dirinya jatuh tertidur lelap. Dia tidak tahu kalau istrinya sedang menunggu dirinya sampai tengah malam, karena berharap akan kedatangannya.


Rafael bangun saat bunyi alarm waktu sholat tahajud. Dia tidak sadar kalau sudah tidur sangat lelap. Niatnya semalam dia mau mendatangi kamar istrinya dan membicarakan masalah mereka. Namun, dia malah tidur kebablasan.


'Semoga saja hari ini aku bisa bertemu dengannya.' (Rafael)


Setelah sarapan orang-orang berolahraga pagi. Rafael pun mengikuti kegiatan itu, sehingga dia tidak bisa mendatangi istrinya. Begitu juga saat waktu siang hari, karena dia merasa lelah dia pun memutuskan untuk tidur siang terlebih dahulu.


'Nanti malam saja aku menemui Ning Annisa.' ( Rafael)


***

__ADS_1


"Kalian tidak boleh keluar kobong. Kemarin ada laporan dari warga kalau ada beberapa santri putra berkeliaran di kampung dan menggoda anak gadis mereka. Jadi, pukul 21:00 sudah di berlakukan jam malam. Pintu gerbang dan pintu asrama akan dikunci saat itu. Jika ada yang kedapatan tidak ada di kamar, bersiap-siaplah untuk pulang terlebih dahulu," ucap Adam saat mereka hendak antri makan malam.


"Kita main di dalam Kobong saja. Bisa main kuis atau bermain Ludo," kata Rizal dan didukung oleh anak-anak remaja yang lainnya.


"Ada papan catur tuh di pos dekat gerbang. Kita bisa pinjam," ujar Adam dan itu membuat mereka merasa senang, karena hanya itu hiburan sebelum tidur.


***


Sementara itu, Ning Annisa masih bersedih di kamarnya. Dia sudah tiga hari ini menangis terus. Untuk memperbaiki hubungan atas kesalahpahaman itu tidak mendapat sambutan dari sang suami. Membuat dirinya merasa sakit hati.


"Segitu marahnya dia, sampai-sampai tidak mau menemui aku. Bagaimana mau menyelesaikan masalah jika seperti ini," gumam Ning Annisa sambil menyeka air matanya.


"Sebenarnya dia itu cinta sama aku atau nggak? Jangan-jangan perasaan dia itu hanya bohongan," racau Ning Annisa.


Pintu kamar diketuk dari luar. Suara Bu Nyai Khadijah memanggil Ning Annisa.


"Ada apa Umma?" tanya Ning Annisa membuka sedikit pintu.


"Katanya kamu sudah tiga hari ini mengurung diri di kamar?" tanya wanita paruh baya itu dengan cemas.


"Sedang tidak ingin ke luar saja Umma," jawab Ning Annisa.


"Lalu, kenapa mata kamu bisa bengkak begitu?"


Ditanya seperti itu oleh ibunya, membuat Ning Annisa menceritakan masalah yang sedang terjadi padanya. Meski malu, tetapi saat ini dia butuh pihak ketiga yang bisa membantunya.


"Seharusnya, kamu memberitahu Rafael dengan jujur. Kalau kamu sekarang cinta sama dia bukan sama Ustadz Azka," kata Umma.


"Sudah, Umma. Aku sudah bilang kalau aku suka sama dia. Tapi pas kemarin dia melihat foto aku dengannya, dia marah sekali. Bahkan sampai sekarang dia tidak mau datang menemui aku. Padahal saat malam itu juga aku sudah meminta maaf padanya, tetapi dia memilih pergi. Aku sampai kejar ke asrama santri putra, tetapi tidak bisa menemuinya. Titip pesan juga dia tidak menggubrisnya. Bukannya kalau begini terus aku dalam dosa dan laknat malaikat," ucap Ning Annisa dengan lirih sambil menghapus air matanya.


Bu Nyai Khadijah melihat putrinya dengan iba. Dia baru saja pulang safari, lalu mendapatkan laporan kalau Ning Annisa mengurung diri di kamar dan tidak mau makan.

__ADS_1


***


Bagaimana cara Rafael dan Ning Annisa berbaikan lagi? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2