Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 12. Assalamualaikum, Ning Annisa


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 12


"Ayo kita bertanding lagi! Kali ini taruhannya adalah sebuah mobil mewah keluaran Ferrari," ajak Demian menantang Rafael.


Rafael tidak menanggapi keinginan Demian itu, karena dia teringat akan kata-kata Ning Annisa yang memintanya untuk tidak melakukan hal yang membuat dirinya melanggar aturan. Dia berusaha untuk mengubah dirinya yang dulu selalu bersikap masa bodo pada penilaian orang lain. Kini dia harus memikirkan ada orang lain yang terkena imbasnya juga jika dirinya melakukan perbuatan tercela.


"Maaf, aku tidak tertarik. Mau apapun barang taruhannya," balas Rafael masih fokus pada layar televisi yang berukuran jumbo.


"Dasar pengecut! Apa mentang-mentang kamu sudah mempunyai mobil mewah yang banyak dari hasil menjabel orang lain melalui balapan, sehingga tidak butuh lagi," bentak Demian.


Rafael membiarkan Demian terus mengoceh. Dia lebih suka bermain PlayStation bersama Anton dibandingkan menanggapi omongan Demian yang menurutnya tidak akan ada habisnya jika dia tanggapi.


"Berisik!" Anton berteriak karena merasa terganggu oleh suara Demian.


"Demian, kalau kamu mengganggu, lebih baik pergi saja dari sini. Kita sedang tidak ingin meladeni kamu," balas Rizal yang sejak tadi main game di handphonenya.


Demian yang merasa diabaikan keberadaannya oleh Rafael dan teman-temannya, langsung saja pergi dengan membanting pintu lagi dengan sangat keras.


"A-hk, si_al! Jadi aku kalah!" umpat Anton dan Rafael tertawa bahagia bisa mengalahkan musuh bebuyutannya dalam bermain game.


***


Sementara itu Ning Annisa sedang bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Mereka sedang makan bersama untungnya Ning Annisa dan beberapa guru muslimah lainnya kebagian meja yang paling pojok dan bisa memunggungi orang-orang. Dia bisa makan dengan santai tanpa takut terlihat wajahnya oleh orang lain.


"Sudah aku duga kalau Ning Annisa punya wajah cantik," ucap salah seorang temannya yang merupakan guru senior di sekolahan Yayasan SMA ALEXANDRIA.


"Alhamdulillah, Bu Fatimah. Allah sudah memberikan kesempurnaan pada wajah aku ini," balas Ning Annisa.


"Aku juga sudah menduganya. Hanya melihat matanya saja aku sudah tahu kalau dia punya wajah yang cantik," tambah teman baik Ning Annisaโ€”Amelia.


"Eh, itu cincin apa yang melingkar di jari manis kamu? Itu cincin kawin atau cincin pertunangan?" tanya Balqis sambil menunjuk pada jari tangan Ning Annisa yang tersemat cincin.


Ditanya seperti itu membuat Ning Annisa hanya tersenyum tipis. Lalu, dia pun membetulkan kembali cadarnya karena sudah selesai makannya. Dia pun berkata, "Saya sudah menikah, tetapi belum dipublikasikan ke khalayak umum, karena suamiku masih terikat pada sebuah aturan. Kami hanya menikah dihadiri oleh keluarga dan beberapa orang lainnya. Mungkin setelah aku di wisuda nanti baru akan menggelar pesta pernikahan. Dan aku harap kalian bisa hadir. Oh, iya. Mengenai pernikahan aku ini, apa kalian bisa menyembunyikannya dari orang lain. Apalagi dengan pihak sekolah."

__ADS_1


"Tentu saja, akan kami rahasiakan hal ini. Apalagi kamu ini punya banyak penggemarnya. Bisa-bisa nanti mereka melakukan pemboikotan terhadap Ning Annisa, karena tidak terima dengan pernikahannya.


***


Rafael pulang ke rumah dengan langkah yang ringan. Dia merasa sangat senang hatinya saat ini. Malam yang dia tunggu-tunggu akan tiba.


"Mama โ€ฆ Papa, tumben ada di rumah?" tanya Rafael pada orang tuanya.


Indira melotot ke arah putra semata wayangnya itu dan berkata, "Kamu lebih suka kalau mama dan Papa tidak ada di rumah?"


Rafael hanya menyeringai jahil. Lalu, berbisik, "Awas, jangan ganggu aku dan istriku nanti malam."


Indira dan Regan saling menatap dengan wajah melongo. Mereka tidak menyangka kalau putranya sudah berani mengancam.


"Papa dan Mama tidak akan mengganggu kamu dan istri kamu, tuh. Kita juga punya kegiatan sendiri," balas Regan dengan tatapan mata yang memicing pada Rafael.


"Awas, loh! Kalau benar-benar menganggu kita nanti," ancam Rafael sambil berlalu menaiki anak tangga menuju ke lantai atas, di mana letak kamar tidur dia berada.


Begitu masuk ke kamar, Rafael disuguhkan dengan penampakan istrinya yang sedang sholat Magrib. Tadi saat Rafael masuk ke pekarangan rumah, begitu suara adzan selesai berkumandang.


Begitu Ning Annisa mengucapkan salam, Rafael langsung berdiri dan hendak menghampiri istrinya. Namun, ternyata Ning Annisa masih duduk. Rafael tidak tahu kalau istrinya itu sedang berdzikir. Maka, dia pun duduk di sampingnya.


Begitu Ning Annisa selesai menjalankan semua ibadahnya. Dia melihat ke arah samping. Di mana Rafael sedang duduk dan memandangi dirinya.


"Hai," panggil Rafael.


"Ucapkan salam yang benar!" ucap Ning Annisa dengan tegas.


"Oops, lupa." Rafael menutup mulutnya.


"Assalamualaikum, Ning Annisa. Istriku yang cantik jelita," ucap Rafael dengan mesra dan tentu saja itu membuat tubuh Ning Annisa merinding saat suara suaminya itu menyapa ke telinganya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Ning Annisa dengan pelan.


Ning Annisa pun mengambil tangan Rafael, tetapi pemuda itu langsung menariknya. Terlihat keterkejutan di wajah Ning Annisa. Dia tidak menyangka kalau suaminya akan berlaku seperti itu.


"Aku cuci tangan dulu. Tunggu, ya!" Rafael pun dengan cepat berlari ke kamar mandi meninggalkan istrinya yang menatapnya cengo tak percaya dengan tingkahnya ini.

__ADS_1


Rafael mencuci kedua tangannya dengan bersih. Setelah dipastikan wangi dan tidak ada kotoran yang menempel di tangannya, dia pun mengelapnya sampai kering.


Rafael berjalan menghampiri Ning Annisa yang sedang menyimpan mukena di samping tempat tidur untuk sholat Isya nanti. Lalu, Rafael pun menyodorkan tangan kanannya pada Ning Annisa.


"Kenapa?" tanya Rafael pada istrinya karena tidak juga di sambut uluran tangannya.


"Tidak akan kabur lagi," balas Ning Annisa dengan wajah kesal.


"Maaf. Tadi aku merasa tanganku banyak kumannya. Aku tidak mau kalau kamu jatuh sakit gara-gara kuman yang menempel pada tanganku," jawab Rafael dengan tatapan jenaka.


"Kalau kamu takut ada kuman yang kamu bawa dari luar rumah. Seharusnya, kamu langsung mandi begitu sampai rumah," balas Ning Annisa dengan gemas.


Rafael membenarkan ucapan istrinya. Seharusnya dia itu langsung mandi tadi, jangan menunggunya selesai sholat. Dia pun mengangguk dan tertawa kaku.


"Iya, kamu benar, Cinta. Besok-besok aku akan langsung mandi begitu datang ke rumah, " ucap Rafael.


"Sana, mandi! Lalu, sholat magrib. Aku akan buatkan makan malam," ucap Ning Annisa sambil mengambil tangan Rafael dan menciumnya sangat singkat, tetapi menghantarkan setruman listrik pada sekujur tubuh Rafael.


***


Apa Rafael sholat? Dia sholat, tetapi cuma bergerak saja. Dia tidak tahu apa bacaannya dan mengerjakan agar tidak dikatakan bohong oleh istrinya.


"Sepertinya aku harus belajar bacaan sholat, deh. Apa di yutub ada, ya?" gumam Rafael sambil membuka handphone miliknya.


Rafael mengetik "Belajar sholat", tetapi yang muncul banyak sekali bahkan kebanyakan tentang sholat tahajud, dhuha, istikharah, witir, dan terawih. Lalu, dia mengetik lebih spesifik lagi, "Belajar sholat wajib 5 waktu". Masih banyak video yang menampilkan berita yang dia minta. Rafael pun membuka salah satunya. Dia melihat setiap gerakan dan doa yang harus dibaca.


Rafael sedang asik menonton yutub dan lupa akan segalanya. Bahkan saat Ning Annisa berdiri di sampingnya, dia pun tidak sadar.


"Kamu sedang apa?" tanya Ning Annisa dan itu membuat Rafael berteriak karena kaget.ย 


***


Bagaimana Rafael memulai belajar sholat? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya juga.


__ADS_1


__ADS_2