
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan dalam segala urusan.
***
Bab 61
Sekarang adalah hari keempat Rafael tidak menemui Ning Annisa. Pemuda itu sangat sibuk dengan kegiatan pesantren kilatnya. Dia benar-benar belajar dengan giat agar bisa memahami ilmu agama. Dia ingin menjadi laki-laki yang pantas untuk Ning Annisa.
Rafael sebenarnya sudah tidak marah pada sang istri. Namun, saat ini dia ingin menanyakan diri untuknya. Jadi, begitu dia bertemu lagi dengan pujaan hatinya itu, dirinya sudah banyak kemajuan.
"Akan aku buat Ning Annisa bangga punya suami seperti aku," gumam Rafael ketika dia membaca buku yang berjudul "Menjadi Hamba Yang Bertauhid".
Banyak santri yang membaca di halaman asrama putra yang banyak ditanami pohon. Biasanya mereka akan duduk di bawah bayang-bayang pohon. Begitu juga dengan Rafael dan teman-temannya. Ada yang membaca atau menghafal surat-surat pendek.
"Rafael, kamu dipanggil oleh Kiai Akbar ke ndalem sekarang juga!" titah Adam.
'Astaghfirullahal'adzim. Ada apa, ya?' (Rafael)
Teman-teman Rafael yang duduk di dekatnya saling melirik. Mereka bertanya-tanya kenapa temannya itu dipanggil oleh Pemimpin Yayasan.
'Rafael dipanggil oleh ayah mertuanya, ya?' (Ronald)
'Rafael sudah melakukan pelanggaran apa? Sampai-sampai Pak Kiai Akbar memanggilnya.' (Rizal)
'Jangan sampai aku juga dipanggil oleh Pak Kiai. Cukup Rafael saja yang dipanggil ke sana.' (Anton)
'Tumben siang-siang seperti ini Abah panggil aku.' (Rafael)
***
"Assalammu'alaikum," salam Rafael ketika masuk ke ndalem.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Sini duduk, Nak! Kiai Akbar meminta Rafael duduk di sampingnya.
Suasana ndalem sangat sepi, tidak seperti biasanya yang selalu ramai. Mata Rafael melirik ke pintu ruang sebelah yang khusus bisa dimasuki oleh keluarga ndalem. Dia berharap bisa melihat istrinya lewat di sana.
Kiai Akbar melihat pemuda itu sedang memperhatikan ke arah pintu. Dia baru tahu kalau putri dan menantunya ini sedang ada masalah, makanya dia berniat menjadi pihak perantara keduanya agar berdamai.
__ADS_1
'Cinta sedang apa, ya?' (Rafael)
"Ada apa? Ingin bertemu sama istri kamu?" tanya Kiai Akbar menggoda sang menantu.
"Kalau diizinkan. Saya boleh bertemu bertemu dengan Ning Annisa," jawab Rafael dengan senyum malu-malu.
Kiai Akbar pun tersenyum tipis. Dia tahu kalau menantunya ini benar-benar tulus mencintai putrinya.
"Kamu boleh menemuinya, tetapi saat ini dia sedang berada di rumah sakit," kata Kiai Akbar.
"Memangnya siapa yang sedang sakit?" tanya Rafael.
"Tentu saja Ning Annisa. Tadi pagi dia dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan," jawab Kiai Akbar.
"Apa? Kenapa istriku bisa jatuh sakit, Abah?" tanya Rafael dengan wajahnya yang mendadak pucat.
"Itulah yang ingin aku tanyakan kepadamu. Ada masalah apa, sampai Ning Annisa bisa jatuh sakit seperti itu?" tanya Kiai Akbar.
Ditanya seperti itu oleh ayah mertuanya, Rafael jadi teringat masa lalu beberapa hari yang lalu. Saat dia marah karena cemburu setelah melihat selembar foto Ning Annisa bersama dengan Ustadz Azka.
***
Selama tiga hari ini, Ning Annisa makan hanya sedikit dengan jadwal yang tidak menentu. Pikirannya kacau karena dia merasa bersalah pada suaminya. Perempuan itu juga sedih karena Rafael enggan bertemu. Ini yang membuat dia jatuh sakit.
"Mana Ning Annisa yang aku kenal sebagai perempuan tangguh?" tanya Aulia yang datang menjenguk.
"Melempem gara-gara seorang berondong muda," lanjut gadis bercadar hijau.
Ning Annisa memalingkan wajahnya karena malu terus digoda oleh sahabatnya ini. Dia sendiri tidak menyangka akan jatuh sakit seperti ini. Dulu, saat ditinggal nikah sama Ustadz Azka dia cuma nangis saja, tidak sampai tidak mau makan tidak bisa tidur. Namun, saat Rafael marah padanya, dia menjadi seperti ini.
"Terus goda aku sepuas kalian," kata Ning Annisa, setelah tadi kedua kakak laki-lakinya menggoda dia, kini kedua sahabat perempuannya juga ikut menggoda dia.
"A-ku ti-dak meng-goda ka-mu," balas Mutiara dengan gagap dan mencicit.
"A-h, Ara kamu memang sahabat sejati aku," ucap Ning Annisa pada perempuan yang sedang hamil besar itu.
"Iya, iya. Aku bukan sahabat sejati kamu. Aku bela-belain datang dari jauh naik pesawat begitu mendengar kamu masuk rumah sakit tadi pagi," gerutu Aulia.
__ADS_1
Ning Annisa pun tertawa renyah, lalu memegang tangan kedua sahabatnya itu. Mereka memang bukan lahir di dalam rahim yang sama. Akan tetapi perasaan mereka satu sama lain sudah seperti saudara kandung.
"Kalian adalah orang-orang yang berharga bagiku," ucap Ning Annisa dan mereka bertiga pun saling berpelukan.
Aulia dan Mutiara menghibur Ning Annisa dengan candaan mereka. Hal ini membuat perasaan gadis itu jauh lebih baik. Meski dalam hatinya ada keinginan bertemu dengan sang suami.
"Berapa lama kamu akan tinggal di sini?" tanya Ning Annisa kepada Aulia.
"Nanti malam juga aku harus kembali. Kamu tahu sendiri seperti apa Tuan Alvan. Dia mana mau memberikan aku jatah libur yang banyak. Tadi juga aku harus bersabar mengikuti kemauannya agar diizinkan cuti," jawab Aulia.
"Ka-mu me-ni-kah sa-ja de-ngan Gus Fa-thir," pungkas Mutiara.
"Nggak, kamu menikah saja dengan Tuan Alvan, lalu sering-seringlah bersedekah dengan hartanya yang banyak itu ke pesantren milik Abah," ujar Ning Annisa.
Disaat ketiga perempuan itu asyik berbicara. Tiba-tiba pintu diketuk dari arah luar.
"Masuk!" kata Aulia.
Rafael dan Gus Fathir masuk ke dalam ruangan itu. Pemuda itu sebenarnya ingin berlari dan memeluk sang istri. Hanya saja saat ini dia melihat ada orang lain di sana. Jadinya, dia berjalan seperti biasa.
"Tampan juga suami berondong kamu, itu," bisik Aulia menggoda sang sahabat sampai membuat dia mendapat cubitan di tangannya.
"Ning Annisa malu-malu gitu," lanjut Aulia menggodanya lagi sambil berbisik.
"Sepertinya kita harus ke luar. Ayo, Ara!" ajak Aulia.
"Boleh aku juga ikut?" tanya Gus Fathir.
"Bo-leh." Mutiara yang jawab. Dia ingin memberikan kesempatan pada Gus Fathir untuk bersama Aulia.
Gus Fathir pun tersenyum senang bisa menghabiskan waktu dengan wanita pujaan hatinya meski hanya sebentar. Tentunya tanpa ada gangguan dari Alvan dan Rangga.
Kini di ruang itu hanya ada Rafael dengan Ning Annisa. Keduanya saling menatap penuh kerinduan.
"Cinta."
"Ayang."
__ADS_1
***
😍 Nantikan ke uwu an kedua makhluk Tuhan yang sedang dilanda Mala rindu. Kasih semangat aku yang seharian kemarin pusing ngurusin karya yang di jiplak meski ada author yang bilang di plagiat. 🤦🏼♀️🤦🏼♀️