
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 27
"Ayang, tadi ada Yasmin ke sini," ucap Ning Annisa setelah dia menahan diri sejak tadi sepulang sekolah.
"Mau apa dia ke sini?" tanya Rafael semakin mengeratkan pelukannya dan mencium kepala Ning Annisa.
"Bang Sapri bilang dia ke sini mau minta pertanggungjawaban kamu," jawab Ning Annisa dengan lirih.
"Apa?" teriak Rafael sangat terkejut.
Rafael yang tadi matanya sudah terpejam kini terbelalak saat mendengar ucapan istrinya. Dia pun langsung terbangun dan duduk. Dia melihat Ning Annisa juga menetap ke arahnya.
"Dia minta pertanggungjawaban apa sama kamu?" tanya Ning Annisa penasaran.
"Mana aku tahu? Aku tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh terhadap dirinya. Bahkan aku selalu menjauh darinya saat dia mendekati aku," jawab Rafael.
Ning Annisa pun lalu bangun dan duduk berhadapan dengan Rafael. Dia menatap ke arah mata suaminya. Pancaran mata suaminya tidak memperlihatkan kebohongan.
"Cinta, percayalah kepadaku! Aku tidak akan pernah menghianati dirimu sampai kapanpun," ucap Rafael bisa memang genggam kedua tangan istrinya.
Melihat ekspresi wajah Rafael yang memperlihatkan kesungguhannya dan pancaran mata kejujuran dari suaminya membuat hati Ning Annisa merasa tenang. Dia tidak mau ada perpisahan di antara mereka. Meski saat ini dia belum jatuh cinta kepada suaminya.
__ADS_1
"Aku pegang kata-katamu ini, karena aku tidak suka akan penghianatan dalam suatu hubungan," balas perempuan yang kini memakai setelan piyama panjang-panjang.
Rafael pun mengganggukkan kepalanya, lalu mencium kedua tangan Ning Annisa. Hal ini membuat perempuan itu malu sampai terlihat pipinya merah merona. Dia pun mencium kening istrinya lagi mengungkapkan perasaannya.
"Aku mencintaimu, istriku!" ucap Rafael dengan tegas dan sungguh-sungguh.
Ning Annisa merasakan debaran yang hebat pada jantungnya. Tanpa dia sadari dan tulus menghias wajahnya saat ini karena mendengar ungkapan isi hati suaminya.
"Jadi kamu harus percaya kepadaku, jangan dengarkan omongan orang lain," ujar Rafael.
Gadis bersurai tebal dan berwarna hitam itu pun mengangguk. Keduanya pun saling berpelukan.
Ning Annisa merasa sangat senang malam ini. Bahkan dia tidur saling berhadapan dan memeluk tubuh Rafael. Dia menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
***
Alarm dini hari menunjukkan waktu sholat tahajud, berbunyi dengan keras. Namun, tidak dapat membangunkan kedua insan yang sedang tidur saling berpelukan itu.
Keduanya tidur sangat lelap sampai cahaya matahari pagi menyilaukan bagi keduanya. Baik Rafael dan Ning Annisa membukan mata bersamaan. Betapa terkejutnya mereka saat menyadari hari sudah siang.
"Astaghfirullahal'adzim! Ayang, bangun kita kesiangan!" Ning Annisa langsung berlari ke arah kamar mandi.
Begitu juga dengan Rafael. Dia buru-buru ikut masuk dan tanpa dia tahu kalau Ning Annisa sedang buang air kecil.
"Kyaaa-aa!" teriak Ning Annisa.
__ADS_1
"Maaf, Cinta. Aku hanya akan mencuci wajah dan gigi. Eh, ini sudah siang dan sudah lewat waktu sholat Subuh. Jadi, nggak dosa, 'kan?" Rafael berbicara sambil membasuh mukanya.
Ning Annisa sebenarnya tidak mau bicara di dalam toilet. Namun, saat ini keadaan sedang darurat, maka dia pun mau tidak mau harus bicara.
"Tidak, kamu harus tetap sholat Subuh meski kesiangan!" ucap Ning Annisa dengan tegas.
Akhirnya mereka pun sholat Subuh terlebih dahulu baru mandi. Apalagi waktu sudah hampir pukul 07:00:00. Bahkan mereka tidak sempat sarapan. Untungnya Indira sudah menyiapkan dua kotak bekal untuk mereka sarapan di sekolah nanti.
***
"Rafael dan Ning Annisa berpacu melajukan motor mereka dengan cepat. Rafael baru pertama kali melihat istrinya bisa melajukan dengan kecepatan seperti itu. Waktu yang mereka tempuh tidak sampai 10 menit.
Mereka berhasil masuk ke pintu gerbang sebelum di tutup oleh penjaga sekolah. Keduanya pun tertawa renyah saat parkir.
"Huh, aku tidak menyangka bisa sampai tepat waktu," ucap Rafael sambil turun dari motornya.
"Ini pasti alarm tidak bunyi tadi. Jadi, kita kesiangan." Ning Annisa berjalan beriringan dengan Rafael dan masih tertawa bersama.
Keduanya tidak menyadari kalau beberapa murid yang belum masuk ke kelas memperhatikan mereka. Termasuk Ronald yang datang hampir bersamaan dengan Rafael tadi. Hanya berselisih satu menit kedatangannya dengan mereka berdua.
'Dasar munafik. Dia melarang aku untuk mendekati Ning Annisa. Sementara dia sendiri mendekatinya!' (Ronald)
***
Akankah ada perselisihan antara Rafael dengan Ronald? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1