
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 40
Terdengar suara beberapa orang di dalam ruang kepala sekolah. Rafael dan teman-temannya saling beradu pandang. Mereka pun saling mendorong siapa yang akan mengetuk pintu di depan mata.
"Kamu yang ketuk!" perintah Ronald pada Rizal.
"Kenapa selalu aku yang di suruh?" protes Rizal.
"Karena kamu yang paling pintar berbicara," jawab Rafael dan mendapat dukungan dari Ronald. Kedua orang itu bahkan sampai bertos sambil tertawa.
Rizal hanya mendecih, lalu mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Terdengar suara dari dalam yang menyuruh masuk.
Kini keempat siswa itu pun masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata ada dua orang berseragam polisi yang sedang berbincang-bincang dengan kepala sekolah.
"Akhirnya kalian berempat datang juga. Pak polisi ini keempat siswa yang sedang Anda cari tadi," kata Pak Kepala Sekolah.
Keempat siswa SMA itu berdiri berbaris di depan meja kepala sekolah. Lalu, salah satu polisi datang menghampiri mereka.
"Kami datang kemari karena ada laporan tentang kasus pengeroyokan yang menimpa saudara Demian dan percobaan pembunuhan terhadap dirinya," kata polisi bertag nama Harun.
"Ini ditunjukan kepada siapa?" tanya Rizal dengan menatap ke arah Pak Harun.
"Laporan ini ditujukan kepada kalian bertiga, siswa laki-laki dari sekolah SMA ALEXANDRIA," jawab Pak Harun.
"Siapa yang membuat laporan atas kasus ini?" tanya Ronald dengan mata mendelik ke arah polisi berbadan lebih pendek darinya.
"Tuan Ramon, ayahnya Demian," jawab polisi berperut agak buncit, lagi.
"Sepertinya ada kesalahan ... eh, fitnah besar di sini," ujar Rafael.
Polisi dan kepala sekolah kini mengalihkan perhatian kepada Rafael. Mereka penasaran dengan cerita versi ketiga siswa ini.
"Pak Polisi, aku diculik dan disandera oleh Demian. Lalu, di tolong oleh Rafael dan teman-temannya. Aku dan keluargaku sudah melaporkan kasus ini ke kantor polisi juga. Semua bukti sudah aku berikan saat membuat laporan kemarin," bantah Yasmin.
__ADS_1
Kini orang-orang di sana saling melirik. Merasa ada yang janggal dengan kasus yang sedang mereka hadapi. Kedua polisi itu terlihat berdiskusi di pojok ruangan.
"Baiklah, kalian boleh memberikan pernyataan di kantor polisi bersama kedua orang tua kalian," kata polisi itu lagi.
Pihak polisi sudah mengantongi banyak bukti tentang kejahatan yang dilakukan oleh Rafael terhadap Demian. Begitu juga ada bukti yang melibatkan Ronald dan Rizal atas kasus yang menimpanya itu.
"Aku akan menunjuk pengacara keluarga," kata Rafael tidak terima dengan tuduhan terhadapnya.
"Aku juga!" kata Rizal dan Ronald hampir bersamaan.
"Aku sudah buat laporan atas tuduhan kejahatan Demian, itu bagaimana? Aku juga meminta keadilan untukku," ucap Yasmin.
***
Rafael memberitahu kepada kedua orang tuanya atas kasus yang menimpa dirinya dan teman-teman dia. Dia juga menceritakan kejadian malam itu semuanya.
"Tenang saja, papa akan usut sampai tuntas kasus ini. Kamu fokus pada sekolah kamu saja. Papa akan suruh Om Bara menangani kasus ini. Mereka harus diberi pelajaran biar tidak berbuat semena-mena.
"Orang tua Rizal dan Ronald barusan juga sudah menghubungi pengacara keluarga mereka dan langsung bertindak atas kasus ini," lanjut Rafael.
"Mamanya Anton bahkan langsung menghubungi komisaris kepolisan pusat. Dia tidak terima anaknya diculik dan jadi sandera bahkan diancam akan dibunuh, jika Rafael kalah taruhan. Keluarga Demian memang pada gila semau. Tidak bapak, tidak anak, sama-sama punya kelainan jiwa," kata Indira dengan penuh emosi.
"Kamu lakukan kegiatan sesuai dengan agenda yang sudah kamu buat. Masalah ini biar papa yang urus," tukas Regan.
***
"Anggap saja ini ujian untuk menaikan derajat kamu," ucap Ning Annisa.
"Aku kesal saja sudah di fitnah begini. Penjahat sebenarnya itu Demian, kenapa malah dia yang jadi korban," ujar Rafael dengan kesal.
"Aku percaya kalau Ayang adalah orang yang baik," puji Ning Annisa.
"Terima kasih, Cinta~!" Rafael memeluk tubuh istrinya dengan bermanja-manja.
Ning Annisa memberikan dukungan moral untuk suaminya yang kini sedang menimpa. Dia tidak mau kalau sampai Rafael kalap dan lupa diri melakukan balas dendam.
Regan juga sampai turun tangan untuk membantu menyelesaikan masalah putra semata wayangnya. Dia dan pengacara keluarga juga memberikan banyak bukti. Rekaman di mobil Rafael saat kejadian balapan. Kamera CCTV di beberapa tempat atas kejahatan Demian.
__ADS_1
Keluarga Ronald, Keluarga Rizal, dan keluarga Anton balik menuntut Demian. Belum lagi keluarga Yasmin yang memberikan laporan penculikan dan penyanderaan malam itu.
Kini keadaan Demian habis digempur oleh banyak pihak. Bahkan keluarga yang terkenal sombong, harus menanggung malu. Nama keluarga mereka tercoreng di kalangan pengusaha, sekolah, dan masyarakat.
"Keluarga Demian sekarang tidak akan bisa menyogok lagi polisi. Licik banget untuk menutupi kejahatan anaknya, bapaknya Demian malah membuat laporan palsu," ucap Rizal dengan kesal.
"Kalau keluarga Yasmin tidak melaporkan kejahatan Demian, maka tuh anak masih berkeliaran bebas," balas Ronald.
"Laporan Yasmin dulu hampir tidak tanggapi, karena ada oknum polisi yang memberi tahu kepada keluarga Demian, kalau ada yang melaporkan kejahatan Demian. Tentu saja mereka tidak mau kejahatan anaknya terendus, malah membuat kejahatan baru. Akhirnya, bukan hanya anak yang dipenjara, kini sang ayah pun ikut terjerat masuk penjara atas laporan palsu." Anton kini sudah sembuh dan bisa masuk ke sekolah.
"Sudahlah, mengikat kejadian itu membuat aku kesal. Hari ini aku sudah tidak sabar untuk menerima hasil lapor semester ini. Semoga saja kejadian menyebalkan itu tidak mempengaruhi nilai raport aku," ucap Rafael.
Keempat pemuda itu sudah bisa bernapas lega karena sudah terlepas dari tuduhan yang menimpanya 2 minggu lalu. Kini kasus itu masih dalam proses, tetapi dengan terdakwa yang berbeda.
"Kapan kamu akan berangkat ke pesantren?" tanya Ronald kepada Rafael.
"Besok pagi," jawab pemuda itu.
"Aku akan berangkat sore hari bareng dengan Anton," lanjut Rizal.
"Aku mungkin siang hari. Orang tua aku ingin lihat-lihat dulu pameran perhiasan di pagi harinya," balas Ronald.
"Eh, barang bawaan aku dua koper besar. Nggak apa-apa, 'kan?" tanya Anton.
"Banyak amat!" teriak Rafael dan Rizal bersamaan.
"Kamu bawa apa saja itu?" tanya Ronald karena dia juga sudah menyiapkan barang bawaannya dan itu membutuhkan dua koper juga.
"Baju, buku, laptop, danβ"
"Jangan bawa barang berlebihan. Baju juga aku bawa 5 setelan muslim dan 5 setelan sehari-hari. Jangan bawa celana jeans dan baju singlet," potong Rafael.
Kalau Rafael semua keperluannya sudah disiapkan oleh Ning Annisa. Dia memberi tahu apa saja yang harus dipakai di sana. Harus melakukan apa. Baju juga di cuci sendiri, meski ada mesin cuci yang bisa dipakai bergiliran, tetapi akan banyak memakan waktu karena harus antri.
"Jangan sampai barang bawaan kita terkena razia," kata Rizal.
"Memang kehidupan pesantren itu seperti apa?" tanya Anton.
__ADS_1
***
Bagaimana kehidupan Rafael dan teman-temannya di pesantren? Tunggu kelanjutannya, ya!