Assalamualaikum, Ning Annisa

Assalamualaikum, Ning Annisa
Bab 45. Di Kamar Ning Annisa


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 45


Ning Annisa sangat terkejut saat merasakan ada yang memeluknya dari arah belakang. Namun, saat mendengar suara suaminya, dia merasa tenang.


"Cinta, kangen~." Rafael memeluk Ning Annisa dari belakang.


"Uhuk ... Uhuk!" Terdengar suara batuk dibelakang mereka.


Rafael dan Ning Annisa langsung melepaskan diri dan saling menjauh beberapa langkah. Keduanya sangat malu saat kepergok oleh Gus Fathir.


"Akan ada banyak orang yang melihat kalian di sini. Jika kalian ingin melepas rindu, sana pergi saja ke kamar kamu, Dek!" titah laki-laki yang berwajah teduh.


Rafael sangat malu dan bingung harus berbuat apa saat ini. Sebab, di sisi lain dia begitu rindu akan istrinya, tetapi hubungannya saat ini tidak boleh ketahuan ketahuan oleh orang lain.


"Ayo, Cinta!" bisik Rafael mengajak Ning Annisa masuk ke dalam, dia ingin berduaan saja dengan istrinya meski hanya beberapa menit saja.


"Ayang, mau ke mana?" tanya Ning Annisa saat suaminya malah masuk ke ndalem yang bagian ruangannya untuk umum atau bisa dikunjungi oleh tamu.


"Ke kamar istriku," bisik Rafael.


"Tapi, ini bukan menuju kamar aku," balas Ning Annisa sambil menahan tawanya.


Mendengar ucapan istrinya, Rafael malu setengah hidup. Dia sok tahu masuk ke dalam, tetapi dia sendiri tidak tahu di mana tempatnya.


"Kamar Cinta, berada di mana, ya?" tanya Rafael malu-malu.


Kini Ning Annisa yang menarik tangan Rafael menuju ke arah kanan dan masuk ke dalam ruangan lain yang luas dan sederhana. Lalu, berjajar banyak pintu dan Ning Annisa membuka pintu ketiga.


Begitu pintu di buka, Rafael bisa mencium wangi khas istrinya di ruangan itu. kamar berukuran 3 x 3,5 meter itu hanya ada tempat tidur berukuran sedang, lemari baju, meja belajar yang dipenuhi oleh buku yang berjajar rapi, dan satu rak buku yang penuh dengan isinya.


Tidak ada foto atau hiasan dinding lainnya, hanya ada satu jam dinding. Tidak ada lemari tas atau sepatu seperti yang disediakan di kamar mereka. Bagi Rafael ini kamar yang sederhana, tetapi terasa nyaman. Jendela kamar yang bisa dibuka lebar tembus ke halaman samping yang banyak terdapat pohon-pohon yang hijau, sehingga udara segar bisa dirasakan.

__ADS_1


"Kenapa, Ayang?" tanya Ning Annisa saat melihat suaminya terdiam. Dia mengira kalau Rafael tidak suka dengan kamarnya yang kecil. Jauh sekali dengan kamar mereka dirumahnya.


"Nyaman kamarnya, jadi ingin Bobo bareng," goda Rafael dengan menarik turunkan kedua alisnya, serta senyum mesumnya langsung tercipta di wajah bule itu.


Ning Annisa memutar bola matanya. Suami brondongnya ini, selalu tidak bisa menahan diri jika sedang berduaan seperti ini.


"Ini masih siang, Ayang. Orang-orang akan mencari kita," ucap Ning Annisa sambil membelai dan mencubit gemas pipi suaminya.


"Ya, kita hanya berbaring sambil berpelukan saja, tidak sampai tidur," ujar Rafael sambil menarik pinggang perempuan yang sudah menawan hatinya ini.


"Bohong, aku yakin tidak akan hanya tidur saja," balas gadis yang kini membiarkan suaminya melepaskan cadar yang sedang dia pakai.


"Cinta, tahu saja." Rafael mencium lembut bibir ranum milik istrinya.


Keduanya saling memberikan sentuhan yang lembut dan berusaha menyenangkan pasangannya. Kini sang lelaki merengkuh tubuh perempuan itu dengan erat, tetapi terasa lembut, hangat, dan nyaman bagi pasangannya.


Sementara itu, sang gadis mengalungkan kedua tangannya pada leher bujangan tampan. Sesekali dia meremas lembut rambut pemuda itu.


Ciuman manis yang menggetarkan jiwa mereka seakan tidak mau diakhiri. Namun, apa daya karena keduanya memerlukan udara untuk bernapas.


Ning Annisa pasrah dan menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya ini. Kebersamaan dirinya dan Rafael yang sudah terjalin hampir setengah tahun ini, telah membuatnya merasa sayang dan nyaman saat bersama dengannya.


Rafael membuka-buka beberapa buku yang ada di rak buku. Dia akan membuka buku yang dianggapnya menarik.


Sementara itu, Ning Annisa sedang membereskan bajunya. Dia juga membawa beberapa baju milik Rafael dan menyimpan di lemari baju yang sama.


"Ayang, nanti kamu dicari sama yang lain," ucap Ning Annisa ketika menutup pintu lemari karena sudah selesai membereskan barang bawaannya.


"Aku masih ingin bersama dengan kamu, Cinta. Karena mulai besok lusa aku pasti akan disibukan dengan belajar bersama santri yang lainnya," balas Rafael yang kini berjalan ke arah gadis bergamis pink tua.


"Yang semangat, ya, belajarnya!" Ning Annisa mengusap rambut di kepala Rafael. Kakinya berjinjit karena perbedaan tinggi tubuh mereka.


Rafael malah memangkunya agar sang istri lebih leluasa saat menyentuh kepalanya. Kini posisi Ning Annisa lebih tinggi dari Rafael. Keduanya saling menatap dan melempar senyum.


Betapa bahagianya Rafael saat istrinya mencium bibirnya duluan. Jika seperti ini, dia merasa kalau perempuan ini juga menginginkan dirinya.

__ADS_1


Ketika keduanya sedang asyik bermesraan terdengar suara ketukan pintu. Tentu saja ini membuat buyar kegiatan mereka yang sedang hot-hot dan manis manja itu.


'Siapa, sih? Mengganggu saja!' gerutu Rafael yang mau tidak mau melepaskan diri dari sang pujaan hati.


Ning Annisa pun membukakan pintu sedikit, takut orang lain yang mengetuk. Hatinya merasa tenang saat melihat ada ibunya yang berdiri di sana.


"Apa suami kamu ada di dalam?" tanya Bu Nyai Khadijah.


"Ada, Umma. Kenapa?" Ning Annisa balas bertanya.


"Teman dia sedang mencarinya. Katanya Nak Rafael menghilang," jawab Perempuan bercadar itu sambil menahan tawanya.


"Nanti akan aku suruh Rafael menemui temannya. Masalahnya suamiku ini sedang dalam mode manja, Umma. Nempel terus bawaannya kalau sudah seperti ini," ucap Ning Annisa.


"Ya, sudah kalau begitu. Umma akan membiarkan mereka mencari suami kamu sampai ke pelosok pesantren," kata Bu Nyai Khadijah.


"Jangan, dong, Umma. Akan aku bujuk, supaya Rafael gabung lagi bersama dengan temannya," pungkas Ning Annisa.


Ning Annisa mendatangi Rafael yang sedang duduk di atas tempat tidur. Kini keduanya duduk bersisian. Saling memandang dengan kedua tangan mereka yang saling menggenggam.


"Ayang, Ronald dan Musa mencari kamu," kata gadis bermata jernih.


"Aku masih mau bersama kamu, Cinta." Terlihat pancaran dari mata pemuda itu kekecewaan.


"Kasihan mereka sudah berkeliling kompleks pesantren yang luas ini. Apa, Ayang mau berbuat dzolim pada orang yang sudah mengkhawatirkan keadaan suamiku ini?" Ning Annisa mencoba membujuk Rafael.


"Asal kabulkan satu permintaan aku ini. Bagaimana?"


***


Apa permintaan Rafael pada Ning Annisa? Apakah Ning Annisa akan mengabulkan permintaan dari suaminya ini? Tunggu kelanjutannya, ya.


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya juga.


__ADS_1


__ADS_2