
HUDSON YARDS, MANHATTAN.
James menggeser pelan tubuh polos seorang wanita yang pagi itu masih mendekapnya dengan erat. Ia beranjak dari ranjangnya dan melangkah menuju kamar mandinya yang luas dan mewah. Beberapa saat ia membersihkan badannya dengan air hangat yang mengucur dari showernya. Ketika selesai, ia mengambil handuk putih bersih dan wangi dari rak penyimpanan handuk lalu mengeringkan badannya yang kokoh itu, kemudian melilitkan handuk dari pinggang menutupi area pribadinya.
Ia melangkah keluar dari kamar mandi dan mendapati wanita cantik yang masih terbaring di atas ranjangnya telah terbangun. "Morning, Hannah," sapanya pada wanita yang ia panggil dengan nama Hannah itu. Wanita yang setahun terakhir ini dekat dengannya walaupun tanpa komitmen apa pun. James bukan seorang playboy yang senang bergonta-ganti wanita. Jika ia serius dengan seorang wanita, maka ia akan berkomimen dengan wanita tersebut. Namun, ia sudah gagal beberapa kali. Setiap kali ia berusaha membina hubungan yang serius, selalu saja berakhir dengan perpisahan. Ya. Di antara Nathan dan William, gitarist dan drummer Hellbound, hanya dirinya yang belum menikah, di usianya yang mendekati empat puluh tahun itu. Itulah sebabnya, dari awal ia dekat dengan Hannah, ia sudah menjelaskan kepada wanita cantik itu bahwa ia belum ingin berkomitmen apa-apa. Hannah tidak keberatan. Bisa dekat dengan James dan menikmati fasilitas mewah yang pria itu sediakan adalah sebuah kebanggaan untuknya. Siapa yang tidak mau dekat dengan punggawa band stoner metal papan atas Amerika, bahkan dunia itu?
"Kenapa bangun pagi sekali? Sudah mandi dan rapi. Kau mau ke mana?" tanya Hannah yang masih enggan untuk beranjak dari ranjangnya.
"Seperti biasa ... Hellbound membutuhkanku," jawab James sambil menyisir rambut panjangnya yang terlihat gelap karena masih basah.
"Apa aku harus menunggumu di sini?" Hannah menyibakkan selimutnya hingga tubuh indahnya terekspos begitu saja di mata James.
James tergelak melihatnya. Ia tahu Hannah sedang menggodanya. Wanita itu pasti berniat untuk menunda keberangkatannya ke studio Hellbound di Stanton Street. "Terserah kau, Hannah ... kalau kau tidak keberatan menungguku lama," ujarnya.
Wajah Hannah cemberut. Kekecewaan tergambar jelas di sana. Ia ingin lebih lama menghabiskan waktu dengan James. Tapi pria itu selalu sibuk. Ia pun tidak bisa menuntut apa-apa. Toh mereka bukan sepasang kekasih.
"See you, Hannah," ucap James. Ia hanya melambai sekilas pada wanita itu sembari membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar. Tidak ada ciuman di bibir untuk wanita itu sebelum ia pergi. James memang sedang tidak ingin. Sudah beberapa minggu ini ia merasa tidak terlalu bergairah untuk menghabiskan waktu dengan Hannah. Selain karena jadwal Hellbound yang padat, ada seorang gadis yang telah menarik perhatiannya.
Emma Lopez.
Gadis itu menarik perhatian James pertama kali ia melihatnya di Greenwich. Sederhana, manis, dan seperti kata Elric, gaya berpakaian Emma memang kuno, tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Justru itu yang membuatnya berbeda dari gadis-gadis Manhattan yang glamor. Emma punya karakter yang kuat, meskipun Elric menyebutnya galak dan gila.
Sambil mengemudikan mobilnya membelah jalanan Manhattan, James tersenyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi lucu Emma yang malu-malu dan gugup ketika berdekatan dengannya. Sangat berbeda dengan sikapnya terhadap Elric yang keras dan tegas.
Sudah beberapa minggu sejak Emma berhenti mengajar Elric, James belum bertemu gadis itu lagi. Terlintas di benaknya ketika melintas di East Harlem, untuk menemui gadis itu. Dan James pun benar-benar mewujudkan ide spontannya itu dengan menepikan mobilnya di depan gedung apartemen Emma.
James mengikat rambut panjangnya dan memakai kacamata hitam terlebih dahulu sebelum menghambur keluar dari mobilnya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu satu jam sebelum rehearsal.
Ia berdiri di depan pintu lobby dan menghentikan dua orang wanita berpakaian sexy yang baru saja keluar dari balik pintu kaca otomatis. Dua wanita itu mengamati wajah James beberapa saat lamanya. Begitu sadar siapa pria yang sudah menghentikan langkah mereka, kedua wanita itu menutup mulut mereka dengan telapak tangan saking kagetnya.
__ADS_1
"What on earth is James Howards doing here (apa yang James Howards lakukan di sini)?"
"O my God, I can't believe it (ya Tuhan, aku tidak bisa percaya ini)!"
Seruan-seruan kegirangan meluncur dari mulut mereka. Kalau saja James tidak menghentikannya, kedua wanita itu akan terus saja mengungkapkan kebahagiaan mereka bertemu dengannya.
"Aku mencari Emma Lopez. Dia tinggal di gedung ini, tapi aku tidak tahu di lantai dan nomor berapa. Apa kalian mengenalnya?" tanya James.
"Owh, Emma. Emma Lopez. Dia pindah beberapa blok dari sini."
"Pindah?"
"Yeah. Kau ada urusan dengan Emma atau ...."
"Ya ... aku ada urusan dengan Emma. Masalah pekerjaan." James menjawab asal.
Raut wajah kedua wanita itu seketika berubah sedih. Mereka saling melempar pandang. "Ibunya meninggal seminggu lalu. Bunuh diri."
Kedua wanita itu mengangguk. "Kasihan sekali. Orang tua Emma bercerai. Sepertinya, ibunya stres dan tertekan."
"Wow." James mengelus kepalanya pelan. Ia benar-benar shock mendengar berita mengerikan itu. Terbayang bagaimana beratnya Emma menghadapi semua itu. "Do you know exactly where she lives (apa kalian tahu alamat persisnya)?"
"Tidak. Tapi kau bisa mencoba mencari Emma di restauran Meksiko di dekat sini. Hanya limaratus meter lurus dari sini, belok kiri, maju sedikit, dan restorannya ada di kiri jalan."
"Thank you so much, see you, Ladies," ucap James sambil melangkah meninggalkan dua wanita itu, setelah sebelumnya mereka meminta untuk berfoto bersama.
James mengemudikan mobilnya pelan menuju restauran Meksiko yang ditunjukan oleh kedua wanita tadi. Sampai di depan sebuah restauran dengan papan nama bertuliskan Viva Verde, James melangkahkan kakinya masuk. Ia mengambil tempat duduk di sudut ruangan agar tidak menarik perhatian orang, sambil matanya mencari-cari sosok Emma di antara para pelayan yang sedang sibuk melayani pengunjung restauran.
Dari balik kacamata hitamnya, James bisa melihat beberapa pelayan wanita yang sudah menyadari kehadirannya, tersenyum dan saling berbisik. Wajah mereka terlihat kaget bercampur senang. Sepertinya mereka saling berebut untuk melayaninya.
__ADS_1
Akhirnya, satu orang gadis menghampirinya dengan malu-malu. Menyerahkan buku menu pada James sambil mengulum senyumnya.
"Mau berfoto?" tawar James basa-basi.
"Ya Tuhan ... kau tidak keberatan?" Gadis itu melonjak gembira. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengambil foto bersama James.
"Apa ada gadis bernama Emma Lopez bekerja di sini?" tanya James.
"Emma? Yeah ... tapi dia belum datang. Ah ... itu dia!" seru gadis itu sambil menunjuk ke arah pintu. "Emma! Kemari!" panggilnya.
Emma yang baru saja datang terkejut melihat James yang duduk di sudut ruangan sambil melempar senyum padanya. Awalnya ia ragu-ragu menghampiri bassist Hellbound itu, namun rekan kerjanya, Alice, terus saja memanggilnya untuk mendekat.
"Hi, Mr. Howards ... emm ... James," sapa Emma gugup. Sementara Alice, menyerahkan tugasnya pada Emma untuk melayani pesanan James.
"How are you, Emma?" James memandang iba pada Emma yang tampak murung. Ia bisa melihat kesedihan yang masih terlihat jelas di wajah cantik gadis itu.
"Good," jawab Emma sambil memaksakan senyumnya. "Kau mau pesan sesuatu?"
"Yeah. Tolong pilihkan menu sarapan yang paling enak. Apa saja terserah kau. Untuk tujuh orang," pinta James.
"Okay." Emma mengangguk dan mengambil buku menu yang tergeletak di atas meja. "Tunggu sebentar," ucapnya sambil berlalu dari hadapan James.
Dua puluh menit kemudian, Emma muncul dengan satu kotak berisi tujuh bungkus Quesadillas Fritas di pelukannya. "Aku harap kau akan menyukainya," kata Emma.
James tersenyum. "Bisa minta nomor teleponmu?" tanyanya membuat Emma terkesiap. "Kalau kau tidak keberatan." Ia menyodorkan ponselnya pada Emma.
"Emm ... o-kay." Emma menuliskan nomor teleponnya di layar ponsel James, lalu menyerahkannya kembali pada pria itu.
"Thanks, Emma. Aku akan menelponmu nanti sore," ucap James sambil beranjak dari duduknya dan meraih kotak yang dibawa oleh Emma dan melangkah menuju meja kasir untuk menyelesaikan pembayaran.
__ADS_1
Emma tersenyum simpul memandangi punggung James sesaat. Tidak ingin berlama-lama terpaku dengan kehadiran James, ia buru-buru melanjutkan pekerjaannya melayani tamu-tamu restauran yang mulai berdatangan.
***