
"Damn! Aku tidak tahu baju mana yang harus aku pakai," keluh Emma seraya membongkar lemari pakaiannya.
Elric yang sedang berbaring di atas ranjang sambil memainkan game di ponselnya, terbahak. Sudah hampir setengah jam ia menunggu Emma menemukan pakaian yang menurut gadis itu cocok untuk pergi makan malam dengan ayah ibunya di Greenwich. Ya, Elric berniat mengenalkan Emma sebagai pacarnya pada kedua orang tuanya. Meskipun mereka sebenarnya sudah saling kenal satu sama lain. Namun, Elric belum memberitahu Nathan dan Alya kalau pacarnya adalah Emma Lopez, mantan guru kepribadiannya.
"Baju apa saja, Em. Semua terlihat bagus kalau kau yang memakainya." Elric menimpali keluhan Emma. Pasalnya, jika dibiarkan saja, rencana mereka sudah pasti gagal.
Emma menghembuskan napasnya kasar. Dengan malas diraihnya satu dress terusan bermotif bunga-bunga, lalu sweater hitam untuk menetralkan warna yang sedikit mencolok pada dressnya.
Sejujurnya Emma merasa begitu gugup memikirkan pertemuannya dengan orang tua Elric. Entahlah, ia takut mereka tidak bisa menerimanya karena status sosial antara dirinya dan Elric berbeda. Namun, di sisi lain, ia juga berpikir mereka tidak akan mempermasalahkan hal itu.
"Jangan melihatku, El! Menghadap ke sana!" hardik Emma saat melihat Elric sedang menatapnya yang sedang berganti pakaian.
"Sorry ...," kikik Elric seraya memutar badan.
Emma merotasikan kedua bola matanya. Lalu ia kembali menghadap ke arah cermin panjang yang tertempel di dinding kamarnya. Gadis itu mematut dirinya sejenak, merapikan dress dan sweater yang membalutnya. Rambut panjangnya ia gerai seadanya. Lalu riasan wajahnya, ia memutuskan untuk memoles riasan tipis saja.
"Bagaimana?" tanya Emma pada Elric yang seketika memutar badan memeriksa penampilan Emma.
"Wow, you look perfect. Amazing (kau terlihat sempurna. Mengagumkan)," ujar Elric seraya menggelengkan kepala.
"Dasar pembohong!" gerutu Emma sebal.
Elric terkekeh lalu melompat dari atas ranjang. Ia yang sudah siap dengan pakaian rapi segera menggandeng Emma keluar kamar mereka.
"Naik taksi saja, ya?" tawar Elric saat keduanya sudah berdiri di depan gedung apartemen mereka.
"Terserah saja." Emma merapikan syal di lehernya yang sedikit bergeser.
"Hmm ... sepertinya aku harus membeli mobil sendiri," kekeh Elric seraya menggulir layar ponsel untuk memesan taksi.
"Untuk apa?" Emma mengerutkan keningnya menatap Elric.
__ADS_1
"Biar kau merasa nyaman." Elric menoleh ke arah Emma sambil menaik-naikkan alisnya.
Emma mencebik. "Memangnya uangmu sudah cukup?"
"Tidak perlu mobil mewah seperti milik James, bukan?" sindir Elric.
"Sedang menyindirku, ya?" Emma memasang ekspresi wajah sebalnya.
Elric mengangkat kedua tangannya. Kemudian ia melambai pada sebuah mobil sedan hitam yang sepertinya adalah taksi yang mereka pesan. Keduanya pun masuk ke dalam taksi dan bertolak menuju Greenwich.
***
"Sudah siap semua makanannya, Lupita?" Alya melongok ke ruang dapur sekaligus ruang makan keluarga di mana Lupita sedang berberes di sana.
"Sudah, Nyonya Bradley," sahut Lupita seraya mengacungkan jempolnya.
"Nice," ucap Alya. "Aku ada di studio kalau kau nanti mencariku saat Elric dan pacarnya datang," pintanya pada Lupita. Lalu, ia melangkahkan kaki menelusuri koridor menuju ke studio Nathan. Dilihatnya pria itu sedang sibuk dengan gitar kesayangannya.
"Oh ya?" Alya memeriksa pakaian yang membalut tubuh rampingnya. Hanya dress sederhana yang cocok untuk dipakai dalam acara makan malam di rumah.
"Always (selalu)," ucap Nathan seraya meraih pinggul Alya dan menariknya merapat padanya. Ia mendaratkan ciuman lembut pada bibir istrinya itu.
"Kau merusak lipstikku, Sayang," keluh Alya seraya mendorong dada Nathan menjauh.
"Oles lagi saja nanti. Biar aku nikmati dulu bibirmu yang menggoda ini." Nathan hendak meraih dagu Alya dan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya itu saat Lupita mengetuk pintu studio yang terbuka dan mengabarkan kalau Elric sudah datang.
"Thanks, Lupita," ucap Alya seraya merapikan pakaian dan rambutnya. Ia membeliakkan mata pada Ethan, melancarkan protes atas tindakan suaminya yang membuatnya malu di depan asisten rumah tangganya itu. Sementara Nathan hanya terkekeh tanpa merasa berdosa dan berjalan di belakang Alya sembari menepuk pelan pan tat istrinya itu.
"Nathan, stop!" hardik Alya seraya mencubit keras perut Nathan, membuat pria tampan itu meringis kesakitan.
Di ruang keluarga, Elric telah menunggu di sana bersama Emma. Kehadiran gadis itu membuat Nathan dan Alya saling melempar pandang, lalu menatap bergantian kedua sejoli itu.
__ADS_1
"Ya. Emma pacarku." Elric menjawab pertanyaan tak terucap kedua orang tuanya.
"Kami tidak menyangkanya sama sekali. Aku kira kalian hanya berbagi apartemen. Jadi, yang dimaksud oleh James, seseorang telah merebut pacarnya ...." Nathan urung melanjutkan ucapannya saat tangan Alya meremas telapak tangannya pelan, memberi isyarat padanya untuk tidak membalas hal itu di depan keduanya.
"Hello, Emma ... senang bertemu denganmu lagi," ucap Alya ramah. Tentu saja ia tidak keberatan gadis itulah yang menjadi pacar putra semata wayangnya. Yang ia amati selama ini, hidup Elric sudah jauh lebih baik. Tentunya Emma memberi pengaruh positif pada putranya itu.
"Hi, Nyonya Bradley, apa kabar?" Emma menyahut dengan gugup.
"Aku baik. Ah, panggil Alya saja." Wanita cantik itu memberi isyarat pada Nathan untuk menyapa Emma, saat melihat suaminya itu hanya diam saja berdiri mematung.
"Owh, hi, Emma ... how are you?" Nathan yang terkesiap segera menjabat tangan Emma.
"Bisa kita mulai makan malamnya? Aku lapar sekali," celetuk Elric menginterupsi kecanggungan di antara ketiga orang itu.
"Tentu, Sayang," sahut Alya seraya menyunggingkan satu senyuman. "Ayo, Emma." Ia menggandeng lengan gadis itu dan membawanya ke ruang makan. Sementara para pria mengikuti mereka dari belakang.
Meja makan sudah terisi dengan piring-piring menu makan malam yang lezat. Makan malam yang awalnya sedikit canggung untuk Emma, kini mulai menghangat. Dikarenakan Alya selalu melibatkan Emma dalam setiap topik pembicaraan. Begitu pun dengan Nathan.
"Sudah berapa lama kalian bersama?" tanya Nathan. Hal itu membuat Elric dan Emma saling melempar senyum malu-malu.
"Dua minggu sepertinya. Benar, bukan, Em?" tanya Elric pada Emma yang duduk di sampingnya.
"Yeah. Kira-kiranya," kekeh Emma.
"Kalian pasangan yang serasi," puji Alya. "Bukan begitu, Sayang?" Ia menoleh ke arah Nathan untuk meminta pendapat suaminya itu.
"I agree with you (aku setuju dengan pendapatmu)," sahut Nathan. Ia menyunggingkan senyum lebar. Namun, senyumnya pelan memudar saat matanya menatap ke ambang pintu ruang makan.
Sesosok pria berambut coklat panjang sebahu berdiri di sana, memandang ke arah semua orang yang sedang duduk mengelilingi meja makan. Seulas senyum getir tersungging dari bibirnya. Ekspresi wajahnya begitu sulit untuk digambarkan dengan kata-kata.
***
__ADS_1