
EAST HARLEM, MANHATTAN.
"Emma!"
Emma yang sedang menikmati makan siangnya di ruang karyawan hampir saja tersedak dikejutkan oleh panggilan Alice yang tiba-tiba saja muncul. "Astaga, Alice ... kau mengagetkanku," gerutunya.
Alice terkekeh. "Ada yang mencarimu."
"Huh? Siapa?" tanyanya sembari memasukkan satu suapan terakhir ke mulutnya.
"Namanya ... Elric," jawab Alice. Emma mengerutkan keningnya. Elric. Mau apa bocah itu?
Emma membereskan piringnya yang telah kosong, lalu melangkah keluar ruang karyawan dan mencari Elric yang ternyata duduk di kursi yang berada di luar restauran. Anak itu tidak sendiri. Ia bersama seorang wanita paruh baya berambut pirang dan bertopi lebar.
"Hi, kalian sudah memesan sesuatu?" tanya Emma begitu menghampiri keduanya.
Elric seketika berdiri, dan menarik kursi di sebelahnya untuk diduduki Emma. Sementara Barbara yang duduk di seberang meja terkekeh melihat Elric yang terlihat gugup.
"You must be Emma (kau pasti yang bernama Emma)," kata Barbara dengan senyumnya yang ramah. "Silahkan duduk," ucapnya kemudian.
Emma tersenyum sambil mengerenyitkan keningnya. "Yeah, aku Emma ... emm ... kalian sudah memesan sesuatu?" Emma mengulang pertanyaannya. Ia tidak mengerti kenapa dua orang ini menyuruhnya duduk. Bukankah mereka kemari untuk makan siang.
"Ya. Kami sudah memesan sesuatu," jawab Barbara.
"O-kay," ucap Emma ragu. Ia duduk di kursi yang ada di sebelah Erlic dengan wajah yang masih tampak keheranan.
"Emma ... kenalkan, ini temanku, Barbara," kata Elric disambut oleh gelak tawa Barbara. Sementara Emma hanya meringis.
"Hallo, Barbara, senang bertemu denganmu," ucap Emma.
"Senang juga bertemu denganmu," sahut Barbara seraya mengelus pipi Emma, membuat gadis itu terlihat canggung. "Ah ya, aku teman Elric, tapi aku juga neneknya," kekehnya.
"Owh, I see (begitu)." Emma mengangguk-angguk. Pikir Emma, sempurna sekali hidup Elric. Ia punya keluarga yang sempurna. Tapi, anak itu malah suka mencari masalah.
"Elric banyak bercerita tentangmu. Dia bilang dia su ...."
__ADS_1
"Woow ... woow, Barbara, take it easy (santai, santai)." Elric buru-buru memotong ucapan Barbara sebelum wanita itu membuatnya malu di depan Emma.
"Oh ya?" Emma tersenyum lebar. "Apa yang anak ini ceritakan? Pasti sesuatu yang buruk. Dia selalu membuat masalah denganku, Barbara."
Barbara memicingkan matanya memandang Elric. "Begitu caramu mengungkapkan perasaanmu pada Emma, El?"
"Baaarb," protes Elric sambil membulatkan matanya memelototi neneknya itu. Memintanya untuk berhenti mengatakan hal-hal yang membuat Emma curiga.
Emma yang tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan hanya meringis sambil memijit tengkuknya. Beberapa saat kemudian pesanan Elric dan Barbara pun datang. Emma pun pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sepeninggal Emma, Elric tidak henti-hentinya menggerutu pada Barbara. Sementara wanita itu hanya menanggapinya dengan kekehan.
***
James menyesap bibir ranum itu lembut. Hannah, wanita yang sedang berada dalam kekuasaannya itu menyambutnya dengan suka cita. Luapan kerinduan setelah beberapa hari tidak disentuh oleh tangan kokohnya seakan lebur malam itu bersama gairah yang berkobar bak api yang melahap hutan California.
Namun, seketika semua yang sedang direguknya itu runtuh ketika sebuah nama lolos begitu saja dari bibir James, "Emma ...."
"What (apa)?" Hannah menahan dada James dengan mata terbelalak kaget. "Who's Emma (siapa Emma)? Kau punya mainan baru?" cecarnya.
Hannah mendorong tubuh James hingga terjatuh di sampingnya. Moodnya seketika hancur. Ia tahu tidak seharusnya marah. Toh, mereka tidak ada komitmen apa pun. Tapi, ia tidak bisa memungkiri kalau ia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Bassist Hellbound itu.
"Hannah ... sorry," ucap James seraya meraih bahu Hannah namun wanita itu menepisnya.
Hannah menoleh ke arah James yang pasrah di sampingnya. "Kau punya wanita baru?"
"Bukan begitu ... emm ... yeah ... pfffh." James menghembuskan napasnya kasar.
Hanna beranjak dari ranjang dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dengan bersungut-sungut wanita itu mengenakannya kembali.
"Hannah ... come on (ayolah)," pinta James.
"Aku tahu aku tidak seharusnya marah. Tapi, setidaknya kau bisa menjaga perasaanku saat kita sedang bersama, James." Hannah menghela napas dalam-dalam. "James ...," panggilnya lirih. Ia menatap pria tampan tanpa sehelai benang di tubuhnya itu lekat-lekat. "I have fallen in love with you (aku sudah jatuh cinta padamu)," ucapnya.
James mengelus kepalanya frustrasi. Ini yang ia takutkan dari hubungannya dengan Hannah. Wanita itu akan jatuh cinta padanya. Dan ia, tidak tahu bagaimana menjawabnya.
__ADS_1
Hannah wanita yang sempurna. Ia cantik dan karakternya tidak buruk. Tapi, entah kenapa sejak awal Hannah mengejarnya, ia tidak berniat untuk menanggapi. Sampai wanita itu mengatakan kalau rela seandainya James hanya menganggapnya sebagai teman tidur, tanpa komitmen apa pun. Hannah mengatakan semua itu sudah cukup asal bisa dekat dengannya. "Hannah ... kau tahu, bukan ... aku ...."
"Aku tahu!" tukas Hannah. "Aku yang bersalah."
"Bukan begitu ... oh, sh it (sial). Kemarilah ...." James membuka kedua tangannya meminta Hannah datang ke pelukannya. "Come on, come to me (ayo, datanglah padaku)," pinta James.
Pelan Hannah naik kembali ke atas ranjang dan menghambur ke pelukan James. Ia membenamkan kepalanya di sana. "Siapa Emma?" tanya Hannah. Ia begitu penasaran dengan wanita bernama Emma itu.
"Seorang gadis yang aku temui secara tidak sengaja beberapa minggu lalu."
"Is she pretty (apa dia cantik)?"
"A sweet young girl (gadis muda yang manis)."
"Kau jatuh cinta padanya?" cecar Hannah. Meskipun hatinya terasa sakit, namun ia tidak bisa membendung rasa penasarannya untuk mengorek keterangan dari mulut James.
"I don't know yet (aku belum tahu)."
"Apa kau akan menyudahi hubungan kita?"
James menghela napasnya dengan berat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Yang jelas akhir-akhir ini bayangan Emma selalu menghantuinya. Meskipun ia sedikit kesal gadis itu mengacaukan rencana makan malam mereka. Emma mengatakan alasannya karena sedang bersama Elric yang terlibat masalah.
Kenapa Elric? Ada apa di antara mereka. Kenapa Emma begitu peduli dengan anak baptisnya itu?
***
Ini Bapak Baptisnya Elric.
Ini Bapaknya Elric.
Ini Elric dan Ibunya.
__ADS_1