BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 53. Thank You, Angel.


__ADS_3

"Hi." Emma melambai kecil pada Elric seraya menyunggingkan senyuman tipis dan canggungnya.


Elric hanya menaikkan alis dan mengangkat kedua tangannya, seakan-akan menanyakan kenapa Emma ada di sini. "Why are you here (kenapa kemari)?" Pertanyaan itu pun lolos dari bibir Elric.


Emma menghambur ke pelukan Elric dengan tiba-tiba. Membuat pemuda itu terkejut dan sedikit terhuyung ke belakang. "Em, Em! Biar aku taruh gitarku dulu," ujar Elric seraya melepaskan kedua lengan Emma dari lehernya. "Kau bisa merusak senarnya!" gerutunya sambil mengelus senar gitar kesayangannya itu.


Elric melangkah ke sudut ruangan dan meletakkan gitarnya di stand gitar bersebelahan dengan gitar milik Darren. Emma meringis seraya mengelus tengkuknya.


"So, why are you here (Jadi, kenapa kau kemari)?" Elric mengulang pertanyaannya. Ia memasang wajah angkuhnya. Meskipun dalam hati ia begitu gembira dengan kehadiran Emma.


Emma mendecak sebal. Ia mengacak-acak rambut panjang Elric gemas. "Kau ini! Kenapa tidak bilang kalau kau yang melunasi student loanku?!" hardiknya.


"Memangnya aku harus bilang padamu?" tanya Elric tidak acuh.


"Kau membuatku salah mengerti!" desis Emma. Ia menghela napasnya dalam-dalam.


"Kenapa? Kau berpikir pria tua itu yang melunasinya?" ucap Elric sinis.


Emma merotasikan bola matanya. Namun dalam hati ia membenarkan kata-kata Elric. Waktu itu ia langsung berpikir kalau Jameslah yang telah melunasi hutangnya. "Siapa suruh kau diam saja." Gadis itu memanyunkan bibirnya. "By the way, El ... thank you," ucap Emma seraya menatap pemuda itu dengan mata sendu. Ia meraih bahu Elric dan memeluk pemuda itu dengan erat.


"Apa imbalanku?" Elric menarik sudut bibirnya. "Semua tidak ada yang gratis," kekehnya kemudian.


Wajah sendu Emma yang terbenam di bahu Elric seketika berubah garang. Ia menarik diri menjauh seraya menyipitkan matanya memandang pemuda itu dengan tatapan curiga. "Jadi kau membantuku karena mengharapkan imbalan? Imbalan seperti apa?"


"Seperti ...." Elric mencondongkan badannya ke arah Emma dan mendekatkan wajah tampannya pada gadis itu seraya memejamkan mata.


"Ishh!" desis Emma seraya menempelkan telapak tangan ke wajah Elric dan mendorongnya menjauh.


Elric tergelak. "Ayo, pulang," ajaknya seraya meraih softcase gitar yang tergeletak di lantai dan mengambil gitar yang beberapa saat lalu ia sandarkan di stand gitar lalu memasukkannya ke dalam softcase berwarna hitam itu. Elric menyampirkan tas gitar ke punggungnya dan memandang ke arah Emma yang berdiri mematung seraya memerengutkan wajahnya.


"Ayo, Emma!" ujarnya seraya menggerakan dagunya meminta Emma untuk keluar dari studio. Ia lalu mengikuti langkah Elric keluar dari ruangan yang penuh dengan peralatan musik itu.


"Darren, thank you!" serunya pada Darren yang sedang melintas dari arah dapur dan melambai ke arah Elric. Pemuda itu lalu melempar senyum pada Emma.


***



"Kita jalan kaki saja, ya?" Sampai di luar apartemen, Elric melenggang menelusuri sidewalk yang lengang tanpa menunggu persetujuan Emma. Jarak dari Columbia ke East Harlem memang hanya memakan waktu tiga puluh menit dengan berjalan kaki. Emma hanya menurut saja. Lagi pula, ia bisa menikmati suasana sore hari yang cerah meskipun udara begitu dingin.


"El, dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu untuk melunasi student loanku?" tanya Emma seraya menyejajarkan langkahnya dengan pemuda itu.


"Kau tidak perlu tahu," sahut Elric tak acuh.

__ADS_1


"Dari mana kau punya ide untuk melunasi hutangku?"


"Kau tidak perlu tahu."


"Ish!"


Elric menoleh ke arah Emma sambil tersenyum jahil pada gadis itu. "Kau lapar tidak?" tanyanya seraya menunjuk ke arah restauran di seberang jalan dengan papan nama Mel's Burger Bar.


"Bukan ide yang buruk," sahu Emma menyetujui tawaran Elric.


Elric meraih tangan Emma dan menggandengnya menyeberangi jalanan yang padat oleh kendaraan, memosisikan dirinya sebagai tameng melindungi Emma hingga selamat sampai ke seberang.


"Ada tempat untuk menyeberang jalan di sana, El." Emma menaikkan alisnya. Ia merasa Elric sangat tidak masuk akal.


Elric meringis. "Terlalu jauh." Ia memberi alasan. Emma mendesis. Lalu masuk ke dalam restauran yang cukup ramai.


"Em, kau pilih tempat duduk saja. Biar aku yang memesan makanan." Tanpa menunggu jawaban Emma, Elric berjalan menuju tempat pemesanan.


"Memangnya dia tahu aku mau makan apa?" gumam Emma seraya memilih tempat duduk yang masih kosong di dekat jendela.


Setelah menunggu beberapa saat, Elric datang dengan satu nampan berisi dua kotak loaded nachos dan dua gelas besar cider. Bibir Emma mencebik. Ia memang sedang memikirkan satu porsi nachos dengan lelehan keju di atasnya dan juga saus salsa. Gadis itu tidak habis pikir kenapa Elric bisa membaca pikirannya.


"This is exactly what I want (ini persis seperti yang aku inginkan)," kekeh Emma dengan wajah gembira.


Emma tersenyum seraya memperhatikan gerak-gerik pemuda tampan di seberang mejanya itu. "El ...," panggilnya.


"Hmm."


"Kenapa semalam kau tidak pulang?" tanya Emma sambil mengunyah satu suapan nachosnya.


"Sibuk."


"Memangnya kau tidak memeriksa ponselmu satu kali pun?"


"Aku memeriksa ponselku."


"Kau tidak melihat ada missed call belasan kali?"


"Aku lihat." Elric berlagak seakan-akan ia tidak tahu kalau Emma sedang memancingnya.


Emma menggeram. "Kenapa kau tidak menjawab telponku?"


"Apa penting? Kau sedang bersama pria tua itu, bukan?"

__ADS_1


"Tidak. Waktu aku menelponmu, aku sudah pulang ke apartemen."


Elric menelan makanannya lalu menatap ke arah Emma. "Begitu?" tanyanya.


"Yeah!"


"Memangnya untuk apa kau menelponku?"


Emma menghela napasnya. "Menyuruhmu pulang dan berterimakasih."


Elric tergelak. "Kau bisa menunggu sampai aku pulang, bukan? Biasanya kau tidak peduli aku pulang atau tidak."


"Semalam aku ...." Emma tidak melanjutkan ucapannya. "James mengatakan bukan dia yang melunasi. Jadi, aku langsung berpikir kalau itu kau."


"And ...." Elric menaikkan dua alis tebalnya. Menunggu kata yang akan diucapkan oleh Emma selanjutnya.


Emma menatap sepasang mata coklat di hadapannya. "Itu penting buatku. Kau sudah sangat meringankan bebanku, El."


"Hmm ... it's not a big deal (itu bukan sesuatu yang besar), Emma. Tapi, kalau kau mau mengabulkan satu permintaanku, aku tidak menolak," kekeh Elric.


"Apa memangnya?" tantang Emma.


"Ini." Elric menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Hah?!" Emma membulatkan matanya. Tiba-tiba otaknya dihinggapi dengan pikiran-pikiran yang tidak senonoh.


"Ada sisa keju di bibirmu."


"Apa?!" pekik Emma keras, entah karena kesal atau malu. Baru saja otaknya telah ternodai dengan pikiran-pikiran melantur yang membuat bulu romanya meremang. Rupanya, Elric hanya mengerjainya. Dengan bersungut-sungut gadis itu menarik beberapa lembar tisyu dari kotaknya dan membersihkan bibirnya dengan kasar.


"Memangnya aku mau minta imbalan apa? Kau jangan berpikir yang tidak-tidak, Em," gelak Elric seraya menggelengkan kepalanya.


Emma mendesis. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Sejak kapan ia menyukai cara Elric tertawa?


"Tapi, aku memang ingin meminta satu hal padamu." Elric memasang wajah seriusnya.


"Hmm?" Emma menatap pemuda itu curiga.


Elric terdiam untuk beberapa saat. Sepertinya ia sedang meyakinkan diri untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting.


"Jangan menjadi kekasih James!"


***

__ADS_1


__ADS_2