BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 80. Jika Memang Begitu.


__ADS_3

Saat keluar dari ruangan menejernya, Erlic melihat Lily tengah berkutat dengan gitarnya di ruang tamu. Gadis berambut pendek itu mengulang-ulang nada yang ia buat berkali-kali. Dan akhirnya, gadis itu pun meletakkan gitar dengan kasar di sampingnya. Lalu, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Hei, Lily ... ada masalah?" tanya Elric seraya mendekati gadis itu.


"Oh, hi, Elric." Lily tersenyum kecut. "Yeah, aku dalam masalah besar."


"Ada apa?" Elric mengambil tempat duduk di samping Lily. Memandang gadis yang sepertinya sedang gundah itu.


"Dua jam mendatang aku harus take dan aku belum terlalu lancar dengan kuncinya."


"Kenapa tidak ambil gitaris saja untuk mengiringimu? Apa kau harus main sendiri? Atau, kau bisa main ritem saja," usul Elric.


Lily menghela napasnya dalam-dalam. "I gotta play guitar my self (Aku harus main gitar sendiri), El. Atau orang-orang akan mentertawakanku."


Elric mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa?"


Lily mengangkat dagunya. Pandangannya ia sematkan ke langit-langit ruang tamu studio. "Ayahku Brandon Boyd, ibuku Mia Boyd. Mereka adalah otak Funerapolis. Kau tahu, bukan?"


"So?"


"Dan aku tidak mau disebut pecundang. Aku tidak mau mempermalukan kedua orang tuaku."


"Kau tidak mempermalukan siapapun, Lily. Kau punya single yang booming tahun ini," hibur Elric.


"Tapi, aku tidak menyumbang instrumen apapun, Elric."


"Benarkah? Bukankah kau yang bermain gitar? Semua orang tahu itu."


Lily menggeleng pelan. Wajahnya tampak sedih. "Aku bisa bernyanyi, tapi aku tidak terlalu mahir bermain musik."


"Jadi, di lagumu, kau hanya bernyanyi saja, begitu?"


Lily mengangguk. Raut wajah setengah Asianya tampak semakin murung. "Dari kecil kedua orang tuaku mengajariku berbagai macam alat musik. Tapi, tidak satupun yang mampu aku kuasai dengan baik."


"Kau bisa bernyanyi. Itu sudah cukup."


"Tidak, Elric. Aku ingin terlihat berbeda dengan penyanyi solo wanita yang lain."

__ADS_1


Elric menghela napasnya. "Kau masih ada waktu sebelum rekaman, bukan? Bagaimana kalau aku ajak kau jalan-jalan di sekitar studio. Untuk membuat kepalamu dingin."


Lily mengulas senyumnya. Terlihat jelas binar di matanya. Sejujurnya ia sedikit heran, Elric mau berbicara panjang lebar dengannya, mendengarkan keluh kesahnya, bahkan mengajaknya jalan-jalan. Rasanya selama ia mengenal Elric, mereka hanya saling menyapa sekilas lalu.


"Ajari aku bermain gitar yang benar, El," pinta Lily saat keduanya menelusuri sidewalk di sekitar studio.


Elric terkekeh. "Kau tidak akan suka pelajaran dariku."


"Kenapa? Apa terlalu susah? Ah, aku lupa kalau kau si gitaris jenius. Laguku bukan levelmu," kekeh Lily.


"Bukan itu maksudku. Aku tidak berbakat menjadi guru."


"Oh, begitu." Lily mengangguk-angguk. Pandangannya lalu tertuju pada sebuah kedai coklat di seberang jalan.


"Bisa kau temani aku minum coklat panas? Orang bilang coklat bisa menenangkan hati yang resah," ujar Lily.


"Tentu," sahut Elric.


Kedua remaja itu pun menyeberang jalan dan masuk ke dalam kedai coklat. Setelah memesan dua cangkir coklat panas, keduanya duduk berhadapan di dekat jendela kaca.


"Terimakasih, Elric. Kau sudah meluangkan waktu untuk menemaniku."


Lily mengulas senyumnya. Ia lalu menangkup cangkir untuk menghangatkan telapak tangannya. "Ternyata kau tidak sesombong yang aku kira, Elric," kekehnya.


"Oh, jadi kau menganggapku sombong, ya?"


"Kind of."


"Sebenarnya aku tidak sombong, Lily. Terkadang aku hanya, terlalu asyik dengan urusanku sendiri," ucap Elric. Ia melempar pandang ke luar jendela kaca, pada jalanan yang ramai kendaraan roda empat.


"Tapi, dulu aku memang sombong," lanjut Elric. "Sampai aku bertemu seseorang ...." Dada Elric berdebar saat mengingat satu nama yang terpatri di hatinya. "Ah, lupakan saja," kekehnya kemudian.


***


James sesekali melirik Emma di sampingnya, sambil ia mengemudikan mobilnya di jalanan yang ramai. Dari selesai makan di sebuah restauran, gadis itu diam saja. James harus bersusah payah membuka obrolan di antara mereka.


"Emma," panggil James.

__ADS_1


"Ya?"


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Okay."


"Berapa besar peluangku?"


Emma mengerutkan keningnya seraya menoleh ke arah James. "Peluang?"


"Peluang untuk mendapatkan hatimu lagi," jawab James.


"Owh," ucap Emma pendek.


"Iya, berapa besar, Emma?"


Emma menghela napasnya pelan. "Bukankah aku sudah bilang padamu, kalau aku sedang ingin fokus pada pekerjaanku?"


"Yeah. Aku hanya ingin tahu seberapa besar peluangku. Hanya untuk menyemangati diri sendiri," kekeh James.


"Aku tidak tahu."


James tersenyum senang. "Tidak tahu lebih baik dari pada tidak mungkin," gelaknya.


Emma tersenyum kecut. Tentu ia belum bisa membuka hatinya untuk siapapun. Ada satu nama yang masih terpatri dihatinya. Meskipun ia mencoba untuk merelakan dan melanjutkan hidup.


Dan sialnya, mobil James melewati gedung studio milik Elric dan band-nya. Hatinya semakin resah. Ada rasa rindu yang menyeruak menyesakkan dadanya.


Namun, rasa rindu itu pudar begitu saja, saat matanya menangkap sosok pemuda berambut ikal panjang yang sedang duduk di balik jendela kaca sebuah kedai coklat.


Pemuda itu tidak sendiri. Duduk di depannya, seorang gadis berambut pendek, yang tentu saja ia kenal siapa. Keduanya terlihat akrab. Tertawa dan terlibat pembicaraan yang menyenangkan, sepertinya.


"James," panggil Emma lirih.


"Yeah, ada apa, Em?"


Emma memejamkan matanya sesaat. Kemudian menoleh ke arah James yang masih fokus mengemudi.

__ADS_1


"Mungkin peluangmu bisa aku naikkan levelnya."


***


__ADS_2