
"Gitar dan tasmu sudah aku masukkan ke mobil," kata Harry pada Elric. "Ponselmu juga terbawa ke sana. Kau mau aku mengambilnya?" tawarnya kemudian.
Pemuda itu menggeleng. "Aku ingin mencari udara segar. Mungkin aku akan pulang ke studio sendiri. Kalian tidak usah menungguku," ujar Elric sembari melangkah melintasi ruang ganti yang disediakan untuk bandnya tanpa berniat untuk masuk ke sana bergabung dengan teman-temannya.
Elric memutuskan untuk mencari tempat sepi di belakang gedung auditorium. Ia menemukan sebuah kursi panjang dari kayu yang ada di bawah pohon oak. Sayup-sayup masih terdengar suara gaduh dari dalam auditorium.
Diraihnya sebungkus rokok dari saku celananya lalu menyalakannya sebatang. Ia menghembuskan asapnya bersama rasa kesalnya ke udara.
Elric sudah menduganya. Emma pasti tidak akan datang. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu, yang jelas ia begitu yakin Emma akan melewatkan acaranya.
"El, di sini kau rupanya." Suara Lily yang entah dari mana asalnya membuyarkan lamunannya. Gadis itu langsung saja mengambil tempat duduk di samping Elric.
Elric yang sebenarnya ingin menyendiri hanya tersenyum tipis pada gadis itu. Ia tidak mungkin mengatakan pada Lily untuk tidak mengganggunya.
"Kau baik-baik saja? Kenapa tidak ikut after party?"
"Aku sedang tidak berminat."
Lily tersenyum. Inilah yang gadis itu sukai dari Elric. Pemuda itu dingin, tidak acuh, namun cerdas luar biasa. Jika melihatnya di panggung sejam yang lalu, yang bisa digambarkan tentang sosok Elric adalah, pembantai berdarah dingin. Ya-itu dia. Membantai perasaan penonton tanpa ekspresi di wajahnya.
"Biar kutemani kau di sini. Aku juga sedang malas bergabung dengan mereka. Kau tidak keberatan, El?"
Elric mengedikkan bahu. "Terserah saja." Ia menghisap rokoknya, lalu menyemburkan asap ke udara.
"Aku rasa kita terjebak dalam posisi yang sama, El." Lily mengawali topik pembicaraan mereka. "Kita melilih karir yang sama dengan orang tua kita. Dan itu tidak mudah. Kau merasakan hal sama, bukan?"
__ADS_1
"Yeah." Elric menyahut pendek. Sejujurnya ia sedang malas membahas topik apa pun dengan siapa pun. Rasa kesalnya pada Emma memenuhi relung hatinya.
"Pernah tidak kau merasa orang selalu menganggap kalau apa pun yang kau lakukan, tidak lepas dari peran orang tuamu? Padahal, kita sudah mati-matian berjuang sendiri."
"Itu masalah klise. Tentu aku juga mengalaminya. Aku pernah membenci orang tuaku karena hal itu. Tapi, sekarang aku tidak terlalu peduli lagi apa kata orang." Elric mengambil satu batang rokok lagi dan menyalakannya. "Kau mau?" tawarnya pada Lily.
Gadis itu mengambil sebatang rokok dari bungkus di tangan Elric. Sebagai gentleman, ia membantu menyalakan rokok Lily.
"Thanks," ucap Lily sambil mengulum senyumnya.
"Tidak usah mendengarkan omongan orang. Tidak akan ada habisnya," ucap Elric.
"Ya, aku tahu."
"Bagus."
***
Pelan Emma mendorong pintu apartemennya. Langkahnya gontai menuju sofa ruang tamu, lalu menghempaskan badan di sana. Tatapan matanya kosong menuju langit-langit ruangan. Bayangan wajah Elric menari-nari di sana. Senyum jahilnya, saat pemuda itu marah karena sesuatu, semua tentang Elric.
Emma sudah menelpon berkali-kali, menulis banyak pesan permintaan maaf, namun Elric tidak menjawabnya sama sekali. Anak itu pasti sangat marah padanya sekarang, atau bahkan membencinya.
"F uck!" maki Emma sambil meremas wajah.
Hal yang tidak menyenangkan adalah, ia merasa begitu jauh dengan Elric saat ini. Saat merasa jauh, ia rindu. Perasaan macam apa ini? Kenapa anak itu selalu membuat perasaannya tidak menentu?
__ADS_1
Emma bangkit dari sofa dan melangkah menuju kamarnya. Namun, ia berhenti di depan pintu dan memandang pintu kamar Elric. Entah apa yang dipikirkannya, ia urung masuk ke kamarnya sendiri dan membuka pintu kamar pemuda itu.
Kamarnya rapi dan wangi khas parfum yang biasa Elric gunakan. Emma menghirup udara kamar dalam-dalam, merasakan kehadiran Elric di sana.
Pelan ia naik ke atas ranjang Elric dan berbaring di sana. Emma memeluk bantal milik pemuda itu dan membenamkan wajahnya di sana. Ah, Emma pasti sudah gila. Perasaan apa pun yang sedang berkecamuk di dalam dadanya, yang jelas ia merindukan kehadiran anak itu.
***
Setelah mengobrol panjang lebar dengan Lily hingga tengah malam, Elric memutuskan untuk kembali studio. Semua team juga sudah kembali ke sana setelah after party yang heboh, sepertinya. Terbukti dilihatnya Darren dan yang lainnya sudah terlelap di tempat-tempat nyaman di dalam studio. Sepertinya mereka tidak sanggup untuk masuk ke kamar masing-masing.
Elric memeriksa ponsel dan mendapati puluhan misscall serta pesan permintaan maaf dari Emma. Dari bahasa yang ia tulis, gadis itu sepertinya begitu merasa bersalah dan putus asa. Ada sedikit rasa iba di hati Elric, namun rasa kesalnya lebih dominan.
Kini ia ragu, apakah ia akan tidur saja di studio, atau pulang ke apartemen meminta penjelasan dari Emma. Setelah beberapa saat lamanya ia berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja ke apartemen.
Elric sengaja berjalan kaki selama sekitar empat puluh menit untuk menyegarkan dan menenangkan pikirannya. Ia tidak ingin kekesalannya malah membuatnya berkata kasar pada Emma. Tidak mungkin ia menyakiti gadis itu meskipun amarahnya memuncak.
Sampai di apartemen, ruang tamu tampak lengang. Lampu pun tidak dinyalakan. Sepertinya Emma belum pulang. Ia tidak melihat coat yang biasa dipakai oleh Emma tergantung di sudut ruangan.
Tangannya bergerak membuka handle pintu kamar Emma. Kamar itu kosong. Elric berdiri mematung di ambang pintu dan menghela napasnya. Kemana gadis itu? Apa ia begitu frustrasi dengan rasa bersalahnya hingga pergi menyendiri entah ke mana?
Biarkan saja.
Mungkin memang lebih baik malam ini mereka tidak bertemu dulu untuk menghindari pertengkaran. Elric pun masih merasa begitu kesal. Namun ia juga rindu. Kesal dan rindu. Dua perasaan yang saling bertentangan berbaur menjadi satu bergulat dalam relung hatinya.
Elric menutup pintu kamar Emma. Namun, ia berada di dalam, menghirup wangi Emma yang mendominasi aroma kamar itu. Pelan ia naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana. Memeluk bantal milik Emma dan membenamkan wajah di sana.
__ADS_1
***