
"Stoner klasik?" Darren mengerutkan keningnya mendengar sayatan melodi Elric barusan. Ia dengan gitar di tangannya mencoba meraba nada. "Okay ... A minor." Darren memberi isyarat pada Elric untuk mengulang melodi yang ia buat.
"Lagu sederhana dengan nada sederhana. E, D, A, E. Begitulah," kekeh Elric seraya memainkan melodi pada Les Paul kesayangannya. "Aku sedang tidak bisa berpikir rumit," lanjutnya.
Darren tergelak. "Sederhana versimu masih tetap jenius, El. Kalau kau sudah mulai serius dengan aransemen rumit, kritikus musik pun tidak bisa berkata-kata." Ia beranjak dari duduknya dan meletakkan gitar pada stand gitar di sudut ruangan. Pemuda itu melangkah keluar studio dan kembali dengan dua botol bir yang telah ia buka penutupnya.
"Thanks," ucap Elric seraya menerima botol yang disodorkan oleh Darren. "Bisakah aku masukkan lagu ini ke dalam album perdana kita?" tanyanya.
"Apa judulnya?" Darren menenggak botol birnya.
"Riding the dunes."
Darren mencebikkan bibirnya. "Yeah. Kenapa tidak?" Ia mengedikkan bahu.
Elric tersenyum senang. Pemuda itu menempelkan ujung botol pada bibirnya, lalu membasahi tenggorokannya. "Darren, boleh aku menginap di sini?" tanyanya.
"Tentu saja, Elric. Kau boleh menginap di sini semaumu. Tidak usah meminta izin padaku." Darren menepuk-nepuk pundak Elric pelan.
Ponsel di saku celana Elric bergetar. Sebenarnya sudah sejak tadi ia merasa ada orang yang menelponnya, tapi ia terlalu sibuk berkutat dengan gitarnya sehingga ia mengabaikannya saja. Kali ini, ia merogoh saku celana dan mengambil ponselnya. Elric menautkan kedua alisnya setelah melihat belasan missed call dari Emma yang tertera di layar. Ini pertama kalinya gadis itu menghubunginya terlebih dahulu. Ada terbersit rasa bahagia di dalam hatinya. Namun, rasa kesalnya saat mengingat Emma pergi dengan James malam ini, membuatnya mengurungkan niat untuk menelpon balik gadis itu.
__ADS_1
"Telpon saja," goda Darren yang melihat kebimbangan di wajah Elric.
"Tidak perlu," desis pemuda itu.
Darren terkekeh. Ia pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Elric sendirian di ruang studio. Elric menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Kemudian ia kembali menyibukkan diri dengan gitarnya. Malam ini ia membiarkan dirinya melebur dengan si gitar kesayangan dan mencoba mengusir bayangan Emma dari benaknya.
***
Pagi hari Emma terbangun dan masih belum mendapati Elric pulang ke apartemen. Sampai-sampai semalaman ia tertidur di atas sofa ruang tamu demi menunggu kepulangan pemuda itu. Emma meraih ponsel di atas meja dan memeriksa layar, barangkali Elric mengiriminya pesan atau menelponnya di saat ia tertidur. Namun nihil. Ia hanya mendapati sebuah email dari Zeta Elementary School yang memintanya untuk melakukan wawancara. Beberapa hari lalu Emma memasukkan lamaran pekerjaan sebagai guru psikologi dan budaya ke sekolah dasar itu.
Seharusnya Emma merasa gembira menerima email yang sangat ditunggu-tunggunya itu. Namun, ia tetap tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Erlic yang belum juga kembali.
Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap berangkat kerja. Sambil merapikan diri, tidak henti-hentinya Emma menggerutu dalam hati. Saat Emma begitu perlu berbicara dengan anak itu, ia malah menghilang. Elric bahkan tidak mengangkat telpon ketika ia menghubunginya beberapa kali. Sesibuk apakah ia?
Di restauran, gadis itu sangat sulit berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ia berulang kali memeriksa layar ponselnya berharap ada pesan dari Elric. Namun tetap saja nihil. Hanya James yang mengiriminya pesan penuh dengan kata-kata mesra. Lalu menelponnya saat makan siang. Tapi, Emma seketika menolak ketika James menawarkan akan menjemputnya sore nanti dan membawanya ke apartemen pria itu di Hudson. Emma merasa ia benar-benar harus bertemu dengan Elric.
Maka setelah selesai bekerja dan masih juga tidak mendapati Elric pulang ke apartemen, ia memutuskan untuk mencari anak itu ke studionya di area Universitas Columbia. Elric pernah bercerita bahwa studionya ada di sebuah apartemen milik Darren di dekat bangunan kampus. Mudah saja bagi Emma untuk mencari keberadaan apartemen itu. Selain karena ia sudah akrab dengan area kampus karena dirinya adalah seorang alumni di sana, ia juga mendapat jawaban di mana tepatnya tempat tinggal Darren Chevalier berada dalam satu kali bertanya pada orang yang ditemuinya secara acak. Tentu saja hal itu dikarenakan Darren sangat popular di sana.
Dan di depan pintu bertuliskan nomer 321 itulah Emma berdiri mematung untuk beberapa saat. Ia ragu-ragu hendak mengetuk pintunya. Namun ia segera mengumpulkan keberanian hingga punggung jemarinya kini berbenturan dengan pintu.
__ADS_1
"Hi." Seorang pemuda berambut panjang pirang kecoklatan tersenyum ramah pada Emma. "Can I help you (ada yang bisa aku bantu)?"
Emma terkesiap. Pemuda itu adalah Darren Chevalier. Dulu ia adalah adik tingkatnya di Columbia. Wajahnya dikenal oleh seluruh mahasiswa di sana, termasuk dirinya. Namun, tentu saja Darren tidak tahu siapa Emma.
"Owh, tunggu ...." Darren berpikir sejenak. "Kau Emma, bukan?" tanyanya membuat Emma terkejut. "Aku Darren," lanjutnya seraya menjabat tangan Emma. Ternyata Darren mengenalnya. Entah karena Darren mengingatnya sebagai kakak tingkat, atau mungkin sewaktu bertemu di bar saat ia menonton konser Bad Boy Of Manhattan, atau bahkan Elric yang menceritakan tentang dirinya pada Darren.
"Ehm ... yeah. Hi, Darren."
"Mencari Elric?" tebak Darren seraya menyunggingkan senyum ramahnya. "Dia ada di studio. Ayo, masuk."
Emma seketika menjadi gugup. Namun ia mengikuti saja langkah Darren masuk ke dalam apartemen lalu pemuda itu mengantarnya ke sebuah ruangan dengan dinding kaca.
"Itu dia. Kau masuk saja," ujar Darren seraya mempersilahkan Emma masuk ke dalam ruangan itu, kemudian berlalu dari hadapan gadis itu.
Dari balik dinding kaca, dilihatnya Elric sedang berkutat dengan gitarnya. Emma menikmati pemandangan indah itu untuk beberapa saat lamanya. Elric dengan gitarnya tidak seperti Elric anak umur tujuh belas tahun yang sedang mencoba untuk menjadi dewasa dalam kesehariannya. Pemuda itu benar-benar terlihat dewasa di dalam ruangan yang penuh dengan alat-alat musik itu. Bagaimana bisa seorang Elric bertransformasi sedemikian rupa hanya dengan memainkan gitar dengan gayanya yang dingin dan misterius itu?
Emma buru-buru menepis pikiran-pikiran aneh yang hinggap di benaknya. Ia tidak boleh lupa tujuannya mencari Elric ke tempat ini. Pelan gadis itu mendorong pintu kaca yang tertutup rapat.
Pemuda yang sedang mencabik-cabik senar gitarnya itu seketika menghentikan gerakannya. Kedua pasang netra berwarna senada-coklat itu pun bertemu.
__ADS_1
***
Ini termasuk crazy up kah? Apa pun itu yang jelas aku ngantuk sekali, tapi dorongan untuk up sangatlah besar (benar-benar kagum aku dengan diriku sendiri).