BAD BOY OF MANHATTAN

BAD BOY OF MANHATTAN
Bab 30. Curahan Hati Emma.


__ADS_3

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, El," ucap Emma pada Elric di sampingnya. Keduanya duduk di lantai menyandarkan punggung ke kaki-kaki sofa.


Elric terkekeh, lalu meneguk gelas winenya. "Memangnya aku kenapa?"


"Yeah, hidupmu sudah sangat sempurna. Kau punya keluarga yang harmonis, kaya raya, semua yang kau inginkan bisa dengan mudah kau dapatkan. Tapi, kau malah memilih hidup susah."


Elric tersenyum tipis. "Hidupku terlalu flat. Tidak ada tantangan sama sekali. Menurutku, kalau ingin menjadi pria sejati, aku harus memulai semua dari nol, atas usahaku sendiri. Memalukan sekali kalau aku harus mengandalkan harta orang tuaku."


Emma terkikik. Sudah beberapa gelas anggur ia habiskan. Badannya terasa begitu rileks. "Bagaimana kalau kita bertukar tempat saja."


"Huh?" Elric mengerutkan keningnya menatap Emma.


"Iya. Kita bertukar posisi. Kau jadi aku, aku jadi kau," kekeh Emma.


"Dengan senang hati," sahut Elric ikut terkekeh.


Emma lalu menghela napasnya berat. Ia menatap kosong ke depan. Terdiam membuat flash back tentang masa lalunya yang runyam. "Dari kecil aku selalu hidup susah. Keluargaku miskin dan tidak harmonis." Ia meneguk cairan terakhir yang ada di gelasnya, lalu mengisinya kembali. "Setiap hari ayah dan ibuku terlibat percekcokan. Masalah sepele, masalah besar, apa saja bisa menjadi pemicu pertengkaran mereka."


Elric menatap Emma dengan sendu. Ia ingin mendengarkan curahan hati gadis itu. Ia tidak ingin menyela. Ia menunggu kata-kata yang akan meluncur dari mulut Emma selanjutnya.


"Menurutku mereka orang tua yang sangat egois. Mereka hanya memikirkan diri sendiri. Tidak sekali pun mereka memikirkan tentang posisiku. Aku merasa aku kekurangan kasih sayang. Menyedihkan, ya?" kikik Emma. "Dari dulu aku selalu melakukan semuanya sendiri. Merawat dan menjaga diriku sendiri. Aku sudah bekerja sejak umur empat belas tahun untuk memenuhi kebutuhanku."

__ADS_1


"Tapi ...." Emma menoleh ke arah Elric. "Kau tahu apa yang paling membuatku terluka?" tanyanya. Emma terbahak, namun matanya mengembun. "Akhirnya ibuku menyerah dan menghabisi dirinya sendiri. Itu hal paling egois, untuk seorang ibu, meninggalkan tanggung jawabnya atas anaknya," ucap Emma geram.


"Apakah aku sebenarnya memang tidak berarti dalam hidup ibuku? Sehingga, bercerai dari pria breng sek seperti ayahku saja, dia tidak sanggup menghadapi kenyataan. Apa ibuku tidak pernah menganggapku sebagai sumber kekuatannya? Ibu macam apa itu?!" seru Emma. "Oh, Gosh, I hate her so much (aku sangat membencinya)!" Emma mengepalkan telapak tangannya. Tanpa sadar, air matanya telah mengalir membasahi pipinya.


"Emma ...."


"Jangan memotongku, Elric! Aku belum selesai bicara!" tunjuk Emma tepat di depan wajah Elric. "Aku juga membenci ayahku. Dia pria breng sek. Dia punya wanita lain," lanjutnya seraya menyusut air mata di pipi dengan punggung tangannya. "Aku tidak habis pikir, kalau hubungan mereka tidak cocok dari awal, kenapa mereka harus melanjutkan pernikahan dan melahirkan aku ke dunia? Mereka membawaku ke dunia ini, hanya untuk ditelantarkan. Son of a bit ch (kepa rat)!" hardik Emma. Tangisnya pun lolos.


Dada Elric terasa nyeri menyaksikan Emma yang terlihat begitu rapuh. Ia meraih kepala gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Elric tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memeluk Emma dengan erat dan mengelus punggungnya, mencoba memberinya kekuatan.


"Ya Tuhan ... aku memang korban yang sangat menyedihkan."


Emma mengakhiri tangisannya, kemudian terkekeh sendiri. Ia meraih gelas anggur yang ada di sampingnya dan meneguk isinya kembali. "Sorry, El ... I look terrible, huh (maaf, El ... aku terlihat kacau, ya)?"


Elric menggeleng. "Kau terlihat cantik," pujinya.


"Really (benarkah)?" tanya Emma seraya menaik-naikkan alisnya dan memandang ke arah Elric.


"Ya. Sangat cantik."


"Pembohong!"

__ADS_1


"No!" sergah Elric. "Aku menyukaimu, Emma," ucapnya kemudian.


"Huh?" Alis Emma mengerenyit.


"Aku menyukaimu. Tapi ... aku belum bisa menjadikanmu seorang kekasih. Karena hidupku masih belum tertata. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Meskipun aku belum bisa serius denganmu, tapi aku tidak ingin ada pria lain mendekatimu. Kau harus menungguku siap."


Emma tertegun sejenak. Ia mengamati wajah Elric yang tampak serius. Namun, sejurus kemudian, tawanya meledak. "Astaga! Apa-apaan anak ini?!" ujarnya seraya meraih segenggam rambut panjang Elric dan menariknya hingga pemuda itu mencondongkan punggungnya ke lantai.


Elric hanya meringis. Ia berharap Emma tidak mengerti apa yang ia ucapkan karena gadis itu sedang di bawah pengaruh alkohol. Lagi pula susunan kata-kata Elric begitu buruk. Pikirnya, semoga saja Emma akan sulit mencerna ucapannya.


"Hmmm ... aku tidak mengerti apa yang kau katakan, El," ucap Emma sambil beranjak dari duduknya. "Lebih baik aku tidur saja. Kepalaku berat sekali." Emma hendak melangkah menuju kamarnya, namun badannya terhuyung.


"Hei, be careful, Em." Elric dengan cepat menangkap tubuh Emma. Meskipun ia empat tahun lebih muda, namun badannya masih sedikit lebih besar dari gadis kurus itu. "Biar aku antar ke kamarmu," ujarnya seraya membimbing Emma melangkah masuk ke dalam kamarnya yang cukup sempit.


Elric membantu Emma berbaring di atas ranjang. Gadis itu langsung meringkuk dan memejamkan matanya. Sementara Elric menarik selimut tebal yang ada di kaki Emma dan menutupi badan gadis itu hingga sebatas leher.


Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Emma. Dengan ragu-ragu Elric mencium pipi gadis itu dengan lembut, lalu mengelusnya. "Kalau saja ada gitar di sini, aku akan memainkan lagu pengantar tidur untukmu, Emma," ucapnya.


Elric memandangi wajah Emma yang begitu damai dalam tidurnya untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya ia meninggalkan gadis itu sendirian di dalam kamarnya, dan berbaring di atas sofa lapuk di ruang tamu apartemen Emma. Tanpa selimut, tanpa bantal. Tidak ada pemanas ruangan untuk musim dingin. Mungkin Emma belum mampu membayar tagihannya.


***

__ADS_1


__ADS_2