
Elric menunduk menyembunyikan wajah geramnya saat mendengarkan pidato Larry, sang manager, pada rapat siang itu di studio pribadi Bad Boy Of Manhattan. Pidato, atau lebih tepatnya presentasi tentang tour Amerika bersama Megadeth yang akan digelar satu bulan mendatang.
Telapak tangan pemuda itu terkepal erat. Saat melihat wajah Larry, rasanya ingin sekali menghajar managernya itu. Pria itu sekarang dengan santainya menjelaskan teknik tour yang akan mereka laksanakan. Seakan-akan kemarahan Elric semalam melalui telepon hanya angin lalu.
"Aku tidak ikut." Elric tidak mampu lagi menahan diri. Ia menatap Larry dengan sinis. Pria itu terlihat kaget.
"No, no ... tidak bisa begitu, Elric." Larry menggeleng kuat.
"Aku tidak peduli. Aku tidak ikut." Ia memandang Darren, Samuel dan Jacob secara bergantian.
Samuel dan Jacob juga tampak terkejut. Wajah kedua pemuda itu seketika tegang. Sementara Darren hanya mengedikkan bahunya. Ia sependapat dengan Elric.
"Elric, dengar, kontrak sudah ditandatangani dan kau tidak bisa seenaknya saja memutuskan untuk tidak ikut!" seru Larry. Wajahnya memerah bagai udang rebus.
"Bawa saja bandnya pergi tour, tapi cari gitaris baru. Aku keluar!" Elric beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah pintu.
Tiba-tiba Elric dikejutkan dengan dorongan keras di punggungnya hingga hampir saja pemuda itu terjerembab jika tidak sempat menyeimbangkan badannya.
"The hell (apa-apaan)!" serunya seraya memutar badan. Samuel dengan napas memburu berdiri di hadapannya. Wajahnya memerah karena marah.
"You Selfish Piece Of S hit ( dasar baji ngan egois)!" maki Samuel geram. "Do you think you look cool (kau pikir kau keren)?"
Dimaki sedemikian rupa membuat Elric kalap. Ia ganti mendorong dada Samuel tidak kalah kerasnya. "Son Of A Bi tch (baji ngan)!" teriaknya murka.
"Woow ... woow ... hentikan!" Larry turun tangan melerai dengan menahan dada kedua pemuda itu dengan tangan kanan dan kirinya.
"Minggir kau, Breng sek!"
Buggh
Elric yang memang sudah tidak bisa menahan diri untuk menghajar Larry, melayangkan kepalan tangan ke wajah sang manager. Pria itu berteriak kesakitan sembari memegangi mulutnya.
Suasana pun menjadi kacau. Samuel yang tidak terima, membalas pukulan Elric di wajah Larry dengan satu pukulan tepat di pelipis pemuda itu meninggalkan jejak kemerahan di sana. Sementara Jacob dan Darren mengambil kubu masing-masing. Darren membela Elric, dan Jacob membela Samuel.
Perang dua kubu yang mempertahankan prinsip masing-masing itu tidak terelakkan lagi. Ricuh. Kacau. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia mengalah. Semuanya diselimuti dengan amarah. Tumpah ruah dalam ruangan itu.
***
Darren menyodorkan sekaleng bir pada Elric yang duduk di sampingnya. Di atas bangku panjang di pinggir sungai Hudson. Kedua pemuda itu masing-masing memiliki memar di wajah mereka akibat perkelahian di dalam studio beberapa jam lalu.
__ADS_1
"Thanks," ucap Elric seraya meraih kaleng bir dari tangan Darren.
"Kacau sekali." Darren menenggak kaleng birnya sendiri. Lalu menggeleng pelan.
"Sorry, Darren ... aku tidak bisa menahan diri."
Darren menghembuskan napasnya kasar. "Aku mengerti, El."
Elric mendongakkan kepala seraya memejamkan mata. "Ini bukan hanya masalah prinsip. Tapi, ada masalah pribadi yang membuatku ... hmmm ... damn, aku ingin sekali menghajar basist Hellbound itu!" desisnya.
"Aku juga tidak menyangka kalau James yang membayar SkyLab untuk memuluskan kita ke puncak." Darren menghela napasnya dalam-dalam. "Itu menjijikkan ... apalagi motifnya adalah membalas dendam padamu."
"Dia memang menjijikkan!" Elric mengepalkan tangannya keras. "Pecundang!" makinya kemudian.
"What now (bagaimana sekarang)?" tanya Darren, entah pada siapa. "Apa kita tetap melanjutkan penggarapan album, lalu tour seperti yang sudah dijadwalkan?"
"Pffftth!" Elric mengacak rambut panjang ikalnya kasar. "Bad Boy Of Manhattan sudah terpecah. Meskipun diteruskan, feel-nya akan hilang."
Darren mendecak. "Kau benar."
"Sorry, Darren. Kau yang merintis band ini dari awal. Aku merasa bersalah padamu."
"I know, Darren."
"Biar saja Larry yang urus semuanya. Dia yang mengkhianati kita dengan ikut permainan James. Dia yang menandatangani kontrak tanpa berbicara terlebih dahulu dengan kita. Biarkan saja dia memakai nama band untuk melanjutkan pengerjaan album dan tour. Tapi, dia harus mencari dua personel baru," kekeh Darren.
Elric terkesiap mendengar ucapan Darren. Ia memandang pemuda berambut coklat itu tidak percaya. "Tidak, Darren. Biar aku saja yang keluar."
Darren mencebik. "Aku tidak yakin bisa mendapatkan gitarist sebagus dirimu, El. Percumah saja."
"Jangan lakukan itu, Darren. Aku mohon." Rasa bersalah mulai menjalar dalam hati Elric. Melihat wajah sendu Darren saat mengucapkan kata-katanya barusan, membuatnya merasa menjadi orang yang egois. Ia tahu bagaimana perjuangan Darren membentuk band impiannya ini, meskipun ia datang belakangan. Ia tahu bagaimana dedikasi Darren pada band mereka.
"Well, c'est la vie (ya, begitulah hidup), El." Darren menenggak birnya hingga habis dan melemparkan kaleng ke dalam tong sampah bertuliskan anorganic yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
***
Emma yang baru saja keluar dari gedung sekolah tempatnya mengajar, dikejutkan dengan sosok James yang sudah menunggunya di dekat mobil mewah yang terparkir di sisi sidewalk. Pria itu melempar senyum termanis padanya. Namun, Emma enggan membalas.
"Apa kabar, Emma?" ucap James saat Emma mendekat.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini?" Meskipun ikut kesal dengan ulah pria itu, ia berusaha untuk tidak terpancing untuk meluapkan kekesalannya.
"Ingin menemuimu. Apa tidak boleh?" kekeh James.
"Aku tidak mau Elric salah paham."
James tergelak. "Ah, ya ... aku lupa dia pacarmu sekarang."
Emma menghela napas dalam-dalam. Entah kenapa, cara berbicara James begitu menyebalkan. Mirip seorang megalomaniac.
"Sungguh, Emma ... kau tidak tahu apa yang telah kau lakukan."
Emma mengerutkan dahinya. "Apa yang telah aku lakukan?"
"Keputusanmu meninggalkanku dan jatuh ke pelukan Elric adalah sebuah keputusan fatal."
Dada Emma berdegup kencang. Apa yang sudah terjadi? Apa ada masalah dengan Elric?
"Hebat sekali kau, Emma." James bertepuk tangan bak sedang memberi penghargaan atas prestasi Emma.
"Apa maksudmu?"
"Seorang Emma Lopez, gadis dari pinggiran Manhattan, guru sekolah dasar, berhasil membuat dua band besar Amerika terpecah belah." James mendecak-decakkan lidahnya seraya menggeleng pelan.
"A-aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Ya, kau mengerti dengan jelas, Emma." James menarik sudut bibirnya. "Atau kau ingin aku menjelaskan detailnya padamu?"
Emma menelan saliva dengan susah payah. Tidak. Semoga yang ia pikirkan tidak terjadi. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
"Hellboud ricuh. Aku dan Nathan terlibat konflik. Banyak jadwal manggung yang dicancel Nathan secara sepihak karena dia marah padaku. Tapi yang lebih parah lagi ... Bad Boy Of Manhattan tinggal kenangan. Elric keluar dari band, begitu pun Darren. Apa kau tahu betapa pentingnya band ini dalam hidup mereka? Untuk Darren terutama? Dia orang yang sudah merintis band ini dengan susah payah. Apa kau bisa membayangkan perasaan Darren saat ini?"
Tidak. Emma tidak percaya ini. Astaga. Kenapa bisa jadi sekacau ini. Semua karena dirinya?
James mengangkat kedua tangannya. "Kenyataan yang pahit, bukan?" sindirnya. Ia menelisik wajah Emma yang terlihat kalut. Sepertinya gadis itu sangat terpengaruh dengan kata-katanya. Ia menarik sudut bibirnya puas.
"Mau aku antar pulang?" kekeh James. "Owh, tentu saja kau tidak mau," gelaknya kemudian. "Pikirkan baik-baik semua perkataanku, Emma."
James masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari hadapan Emma. Gadis itu berdiri mematung, menatap kosong ke lantai trotoar, tanpa tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
__ADS_1
***