
"Bagaimana prosedurnya sebagai sepasang kekasih?" tanya Elric pada Emma. Keduanya berada di ruang tamu apartemen mereka.
Emma mengedikkan bahu. "Entahlah. Mungkin kontak fisik," kekeh gadis itu. "El, apa kita sebodoh itu?"
Elric tertawa renyah. "Ciuman?" tanyanya sambil mencebikkan bibir. "Pelukan?"
"Atau ...." Emma mengelus dagunya. Elric tahu yang gadis itu pikirkan. Keduanya pun menghembuskan napas kasar secara bersamaan, lalu menyandarkan punggung mereka di sofa.
Mereka yang biasanya saling mengejek, atau bahkan menghardik kini begitu canggung satu sama lain. Elric berkali-kali menggaruk rambut panjangnya, lalu mengelus tengkuk, dan beberapa saat kemudian menoleh ke arah Emma sambil meringis. Begitupun Emma. Gadis itu memaksakan senyum canggung.
"Em ...."
"Ya?"
Elric merubah posisi duduknya menghadap ke arah Emma. Ia berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. "Emma ... ini pertama kalinya aku ... menjalin hubungan dengan seorang gadis. Jadi, maafkan aku kalau aku tidak terlalu mengerti bagaimana memperlakukanmu dengan baik."
Emma tampak menahan senyumnya. Elric serius sekali. Tapi, wajah imutnya tampak merona. "Same here (aku juga sama)," sahutnya.
"Jadi, apa kita akan melanjutkan ...." Elric menunjuk bibirnya, lalu bibir Emma. Demi apapun juga, pemuda itu merasa begitu canggung.
"Kalau kau mau," timpal Emma tidak kalah canggungnya.
"Okay ...." Elric menggeser duduknya mendekat pada Emma. Ragu-ragu pemuda itu meraih kedua lengan Emma dan melingkarkan ke lehernya. Pandangan matanya tidak lepas dari seraut wajah manis yang hanya berjarak beberapa centi saja darinya.
Keduanya mengulang adegan ciuman yang terjadi di pinggir sungai Hudson tiga puluh menit yang lalu. Saat rasa canggung di antara mereka mulai sirna, ciuman manis itu pun berlangsung begitu lembut dan juga lama.
Namun hanya sebatas itu. Elric tidak berani menyentuh bagian tubuh Emma yang lain. Yang ia lakukan dengan tangannya hanya mengelus punggung gadis itu. Ia tidak ingin berbuat cabul meskipun gadis yang ada di hadapannya ini dapat dikatakan adalah, miliknya. Setidaknya tidak di malam pertama mereka memproklamirkan diri menjadi sepasang kekasih.
***
James dengan kacamata hitamnya berdiri menyandarkan punggung di mobilnya, menunggu seseorang keluar dari pintu utama gedung sekolah dasar bersamaan dengan anak-anak yang berhamburan dari sana.
Cukup lama pria itu menunggu, hingga seseorang yang dinantinya pun akhirnya muncul dari balik pintu. Emma sedikit terkejut melihat James berdiri di pinggir jalan seraya melempar senyum padanya.
"Kenapa kemari?" tanya Emma. Ia membalas senyum James.
"Menjemputmu. Aku sedang tidak sibuk, jadi ... tidak ada salahnya menghabiskan waktu dengan pacar sendiri, bukan?" kekeh James seraya membukakan pintu mobil untuk Emma.
__ADS_1
"James ... maaf, aku pulang sendiri saja," tolak Emma.
Dua alis tebal James saling bertaut. "Why? I'm here, and I'm your boyfriend (kenapa? aku di sini, dan aku pacarmu)." Ia menegaskan.
Emma menelan salivanya. Mungkin sudah waktunya menegaskan perasaannya pada pria itu. Ia harus menguatkan diri untuk menerima apapun reaksi James.
"Aku ingin bicara denganmu, James," ucap Emma.
"Okay, masuklah dulu," pinta James seraya menggerakkan kepala sekilas meminta Emma masuk ke dalam mobilnya.
Emma pun akhirnya menuruti permintaan James. Gadis itu masuk ke dalam mobil mewah James dan beberapa saat kemudian, keduanya telah membelah jalanan Manhattan yang ramai.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Sayang?" tanya James mesra.
Emma terdiam untuk beberapa saat untuk mengumpulkan keberanian mengutarakan kata-kata, yang mungkin tidak akan diterima dengan baik oleh pria yang sedang fokus ke jalanan itu. "Aku ... tidak bisa meneruskan hubungan kita," ucapnya lirih.
James tidak segera menyahut pernyataan Emma. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, namun, dalam hati ia sedang mencerna semuanya. "Tidak bisa melanjutkan hubungan kita ... maksdkudmu ... kau ingin kita putus?"
Emma mengangguk pelan. Sekali lagi gadis itu menelan ludah dengan susah payah. "Maaf ...." ucapnya lirih.
"Aku ... aku mencintai seseorang." Emma memejamkan mata. Ia benar-benar tidak tega mengatakan hal itu. Namun, ia tidak punya pilihan.
"Hmmm ...." James menarik sudut bibirnya. "Apa aku mengenalnya?"
"Aku rasa ...."
"Is it Elric (Elric, ya)?" tanya James tanpa basa-basi.
Bibir Emma terkunci rapat. Bagaimanapun James dan Erlic memiliki hubungan saudara, meskipun hanya sebagai bapak-anak baptis.
"Is it true (apa benar)?" ulang James. Jemarinya menggenggam roda kemudi dengan erat, bahkan setengah mencengkeram. Yang James rasakan sekarang hanya amarah. Namun, sebisa mungkin ia meredamnya. Setidaknya, ia tidak ingin terlihat menakutkan di depan Emma. Padahal, ia bisa saja mengamuk melampiaskan kesal di dalam dada.
"Ya ...." Emma mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk menatap wajah suram James yang sedang menatap tajam ke depan.
James mengangguk-angguk. Kemudian ia terdiam. Begitupun Emma. Suasana begitu hening, hingga James menepikan mobilnya di depan gedung apartemen Emma.
"I'm sorry ...." Emma berucap lirih sebelum berpamitan pada James dan keluar dari dalam mobil pria itu, lalu melangkah masuk ke dalam gedung.
__ADS_1
"F uck!" maki James seraya memukul kemudi dengan keras. Napasnya memburu. Kalau saja tidak mengingat Elric adalah anak dari sahabatnya, sekaligus anak baptisnya, sudah ia hajar pemuda itu habis-habisan.
Berani-beraninya Elric merebut Emma dari tangannya. Bukan James namanya jika ia menyerah begitu saja. Apalagi kalah dari bocah ingusan yang dari kecil hingga sekarang ia saksikan sendiri tumbuh kembangnya.
Akan sangat memalukan, bukan?
***
GREENWICH VILLAGE, MANHATTAN.
Nathan yang sedang menikmati segelas scotch di mini bar yang ada di rumahnya, menyipitkan mata memandang ke arah James yang baru saja muncul dari balik pintu dengan wajah muram.
"Beri aku segelas," pinta James seraya mengambil satu gelas kosong di sisi kiri meja bar dan menyodorkannya pada Nathan, meminta tolong pria bermata biru itu untuk mengisinya.
Nathan terkekeh. "What happened (apa yang terjadi)?" tanyanya seraya mengisi gelas James.
James menyambar gelasnya, lalu menenggaknya dengan sekali napas bagai kehausan. "More (lagi)," pintanya.
"Geez (astaga)!" desis Nathan. Ia kembali mengisi gelas sahabatnya itu. "Seseorang mengambil pacarmu atau bagaimana?" kekehnya.
"Exactly (tepat sekali)!" sahut James cepat.
"Wow!" Nathan membulatkan matanya. "Pacar yang mana?" tanyanya polos.
James mendecak sebal. "Tentu saja Emma."
"Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu kalau kau terlalu tua untuknya?"
"Bukan itu masalahnya," sergah James. "Ah, sudahlah ...." Ia mengibaskan tangan. Diteguknya cairan berwarna kuning kecoklatan di dalam gelas hingga habis. "Nath, apa kabar band Elric?" tanyanya.
Bibir Nathan mencebik. "Sepertinya progres mereka cukup bagus. Mereka sudah menandatangi kontrak dengan Skylab untuk album perdana."
"Skylab?" tanya James. Nama itu adalah perusahaan rekaman milik temannya, Abraham Wiggins. James menarik sudut bibirnya. Baru saja sebuah ide brilliant tercetus dalam benaknya.
***
Hello, mohon dimaafkan saya hiatus selama satu bulan. Semoga tidak kehilangan mood untuk membaca novel saya lagi. 😁😁😁😁
__ADS_1