
"Ada yang bisa menjelaskan kronologis kenapa foto kita terpajang di Billboard Time Square?" Elric yang baru saja datang ke studio menatap bergantian teman-temannya, dan Larry sang manager yang juga sedang berada di sana.
"Itu yang sedang kita bicarakan," sahut Darren.
Larry berdehem beberapa kali. "Ah, Elric, duduklah ... akan aku jelaskan. Dan aku juga punya berita baik."
Elric mengambil tempat duduk di sebelah Darren. "Hi, Bro," sapanya pada pemuda itu. Darren menyikut pelan lengan Elric.
Larry menyambar botol bir di atas meja dan menenggaknya. "Begini, tentang foto kalian di Billboard, Skylab yang sudah mengatur semuanya."
"Apa mereka punya dana sebanyak itu? Kita semua tahu masuk billboard tidak mudah dan tidak murah. Apalagi kita band pendatang baru. Kenapa Skylab sebaik itu?" Darren yang paling kritis di antara teman-temannya menimpali.
Larry mengulas senyum. "Skylab melihat prospek yang cerah dari band kita, Darren."
"Lalu, apa kabar baik selanjutnya?" tanya Samuel si drumer.
"Lagu Sorcery masuk Billboard chart, posisi ke dua."
"Apa?!" Keempat pemuda berambut panjang itu berseru hampir bersamaan.
"Dan kita akan ikut tour Amerika bersama Megadeth dalam tour reuni dengan mantan gitaris mereka, Marty Friedman."
"Wow!" Yang memekik adalah Samuel dan Jacob. "What have we done to deserve this (apa yang sudah kita lakukan sehingga kita pantas menerima ini)?"
Larry mengangkat kedua tangan. Bibirnya mencebik, "You guys deserve it (kalian pantas menerimanya)."
Elric mengelus janggutnya. Ia tidak semata-mata senang dengan kabar yang disampaikan oleh Larry. Rasanya semua ini terlalu mudah dan tiba-tiba. Mereka bahkan belum selesai menggarap album perdana mereka.
"Album kalian harus selesai bulan ini. Berapa lagu yang masih kurang?" tanya Larry.
"Empat lagu," jawab Jacob.
"Bisa selesai dalam waktu satu bulan?" tanya Larry memastikan.
"Piece of cake (gampang)," kekeh Samuel.
"Kalian memang yang terbaik," puji Larry gembira. Pria itu lalu beranjak dari duduknya dan berucap, "Aku pergi dulu. Hari ini kalian boleh ambil libur. Tapi mulai besok, pastikan pacar-pacar kalian tidak mengeluh karena sulit untuk bertemu dengan kalian," kekehnya sambil melangkah meninggalkan ruang tamu studio.
Sementara Samuel dan Jacob saling melonjak kegirangan, Elric dan Darren sepertinya memiliki pikiran yang sama.
__ADS_1
"Bagaimana menurutmu, Darren?" tanya Elric memulai pembicaraan.
"Entahlah. Aku pikir semua ini terlalu mudah untuk jadi kenyataan." Darren menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke udara. "Bahkan perjuangan Ben Chevalier dulu tidak semudah ini."
"Begitu pun Nathan Bradley," sahut Elric.
"Apakah kau memikirkan apa yang kupikirkan?" tanya Darren.
"Ayo kita tanya pria-pria tua itu." Elric menimpali.
"Itu dia." Darren pun menyetujui perkataan Elric. Dua pemuda itu sudah pasti tidak akan percaya begitu saja. Ini terlalu mencurigakan untuk mereka.
***
"Nathan, hentikan!" Alya yang sedang bergumul dengan bahan-bahan untuk membuat kue di meja dapurnya, berseru risih saat Nathan yang entah datang dari mana, memeluk dari belakang dan menciumi tengkuknya bertubi-tubi.
"Hei, kenapa menolakku, Sayang?" protes Nathan seraya memutar tubuh istrinya itu.
"Apa kau tidak bisa menunggu sampai aku selesai membuat adonan kue? Kau bisa menungguku di studio atau kamar kita. Astaga, Nathan ... kau benar-benar menyebalkan!" rutuk Alya sebal.
Yang diomeli hanya terkekeh. Memang itu tujuan Nathan. Membuat Alya kesal. Istrinya itu terlihat begitu seksi jika sedang marah. Hal itu benar-benar membuatnya ingin menculik Alya dan menawannya di kamar selama berjam-jam sampai wanita itu meminta ampun.
"Astaga!" Alya menepuk keningnya. Namun sejurus kemudian ia menuruti permintaan suaminya. Dikecupnya sekilas bibir Nathan.
"What was that? I want a real kiss (Apa itu tadi? Aku ingin ciuman yang benar)," keluh Nathan.
"Aaargh!" Alya membuat gerakan seperti ingin mencakar-cakar wajah Nathan. Bahkan di umur mereka yang sudah menginjak kepala empat, suaminya itu masih senang menjahilinya.
Nathan menarik pinggang Alya dan membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Tanpa menunggu persetujuan, Nathan melahap bibir Alya dengan rakusnya hingga wanita itu hampir saja kehabisan napasnya.
"Hello? Am I interrupting you guys (hello? apa aku mengganggu kalian)?"
Suara seseorang dari arah pintu membuat keduanya seketika melepaskan ciuman panas di sore hari itu. Nathan dan Alya terkejut saat melihat anak lelaki mereka berdiri di ambang pintu dengan wajah canggung, karena baru saja melihat kedua orang tuanya melakukan hal yang ....
"Eeew! You guys should get a room (kalian harus cari kamar)," ujar Elric.
"Owh, Hi, Elric, astaga ... aku tidak tahu kalau kau akan datang. Sungguh sebuah kejutan." Alya mendorong tubuh Nathan yang masih menempel padanya. Kemudian segera menghampiri Elric dan memeluk putranya itu dengan erat.
"Ah, Elric, kenapa tidak mengabari terlebih dahulu kalau kau mau datang?" Nathan mengelus tengkuknya.
__ADS_1
Elric mencebikkan bibirnya. "Orang Indonesia tidak perlu memberi kabar saat ingin berkunjung ke rumah orang tuanya. Bukan begitu, Mom?" kekeh Elric.
"Benar sekali, Sayang." Alya mengangguk-angguk menimpali ucapan Elric.
Nathan mengangkat kedua tangannya, mengalah. "Baiklah, tidak masalah," ujarnya.
"Elric, kau datang karena ada perlu dengan ayahmu atau ingin menginap di sini?" tanya Alya.
"Ya, aku ingin bicara dengan Nathan. Kau punya waktu, Orang Tua?" Elric memandang ayahnya.
"Ya, tentu saja. Kita bicara di studio." Nathan mempersilahkan Elric untuk pergi terlebih dahulu ke studio pribadi miliknya.
"Kita lanjut lagi nanti, Sayang," kikik Nathan seraya menggigit bibir Alya pelan, kemudian menghambur keluar meninggalkan istrinya yang hanya bisa menggelengkan kepala.
***
"Wow, kau membeli gitar baru?" tanya Elric saat melihat sebuah gitar wireless berwarna putih tersandar di stand gitar. Ia belum pernah melihat gitar itu sebelumnya. Jadi, ia menyimpulkan bahwa ayahnya membeli gitar baru.
Nathan terbahak. "Aku terpaksa membelinya. Ada seorang gitaris muda yang mengatakan aku terlalu kuno," sindir Nathan.
Mau tidak mau Elric meloloskan tawanya. Ia yakin yang dimaksud oleh Nathan adalah dirinya. "Kenyataan," balasnya.
Nathan mengibaskan tangan. "Kau ada perlu sesuatu denganku?"
"Relax, it' s not about money (tenang, ini bukan tentang uang)."
"Tidak masalah, El. Uang bukan perkara sulit, bukan?"
"Yep!" Elric meraih gitar baru milik sang ayah, lalu mengambil tempat duduk di atas sofa dan mencoba memainkan gitar di tangannya. Alisnya seketika terangkat. "Akustik?" Ia menatap lekat pada Nathan. Tidak menyangka kalau penampakan gitar ramping dan pipih itu adalah gitar akustik.
"Kau tidak menyangkanya, bukan? Siapa yang lebih kuno sekarang?" gelak Nathan dengan gembira karena berhasil membuat putranya itu terkejut.
Elric mendesis. "Baiklah, langsung saja. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Aku bisa menanyakannya melalui telepon, tapi, aku pikir aku harus melihat matamu secara langsung saat menanyakan hal ini."
"Uuugh ... serius sekali, Anak Muda."
"Apa kau yang membantu SkyLab untuk mempromosikan bandku secara besar-besaran?" tanya Elric, membuat Nathan mengerutkan dahi heran. Ia tidak mengerti apa yang sedang putranya itu bicarakan.
***
__ADS_1